Tabayyun Kepada Syiah: Saya Dari Anti Syiah Menjadi Simpatisan Syiah

PRAKATA PEMBUKA:

Saya ingin bermain dalam perandaian..

Sungguh keberuntungan yang paling besar bagi kita di dalam kehidupan dunia ini adalah dititipkan oleh Allah dari rahim orang tua yang muslim, sehingga kita dapat merasakan manisnya nikmat iman dan islam sedari awal dilahirkan. Karena jika kita tidak ditakdirkan demikian, maka belum tentu kelak kita akan mendapatkan hidayah untuk menjadi seorang mualaf, sekalipun sudah banyak orang yang semaksimal mungkin mendakwahi ajaran islam ke kita. Apalagi jika kita tidak mau berpikiran terbuka atau menutup diri terhadap ajaran baru yang bertentangan dengan keyakinan sendiri, maka yang terjadi kita akan tetap teguh dengan keimanan agama warisan itu sampai akhir hayat. Bahkan dengan besarnya kereligiusan ini malah membuat kita jadi pemuka agama warisan itu.

Perandaian lainnya lagi, jika kita dilahirkan di kota Mekkah-Arab pada masa Rasulullah SAW hidup, dan orang – orang disekitar membisikkan kepada kita: “jangan dekat – dekat dengan Muhammad, dia itu tukang sihir, nanti bisa terpengaruh!, jika kita langsung percaya tanpa bertabayyun terlebih dahulu, tentulah kita akan rugi besar di dunia & akhirat. Nah, begitupun dengan syiah.

Banyak orang yang mengatakan sesat bahkan kafir terhadap mazhab syiah hanya bersumber pada katanya saja tanpa mau bertabayyun terlebih dahulu kepada sumber ajaran syiahnya sendiri. Hal ini jelaslah tidak adil, karena bertabayyun itu harus kepada kedua belah pihak. Jika tidak, maka tentu yang didapat adalah jawaban yang buruknya saja, sebagaimana jika kita bertanya tentang islam kepada orang islamphobia, maka tentu jawabannya selalu buruk.

Maka dari itulah melalui catatan kecil ini saya mengajak kepada anda untuk bertabayyun kepada syiah. Jika anda tidak bersedia, maka jangan sampai anda menyalahkan takdir Allah atas banyaknya dosa besar dan balasannya yang akan menimpa anda di akhirat kelak. Salahkanlah diri anda sendiri, karena saya sudah pernah mengingatkannya namun anda acuhkan begitu saja. [] ANH

 

SEKAPUR SIRIH:

“Seandainya bukan karena mendengar vonis orang – orang yang mengkafirkan syiah, maka mungkin saya tidak akan mencari tahu tentang syiah dari sumbernya sendiri. Setelah itu, saya tahu bahwa syiah dikafirkan dengan fitnah dan dusta, maka karena hal inilah saya mulai melakukan pembelaan dengan membuat catatan kecil ini yang telah sampai revisan ke 5.5. Seperti kata pepatah: “Tak ada gading yang tak retak”, penulis menyadari bahwa catatan ini masih jauh dari kata sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu kritik & saran berharga bisa jadi penulis harapkan untuk kebaikan kita semua.

 

TABAYYUN KEPADA SYIAH:

Saya Dari Anti Syiah Menjadi Simpatisan Syiah

Oleh: Akbar Nur Hasan

Assalamu’alaikum.. Maaf sebelumnya jika tulisan saya ini dinilai kurang berkenan dan mengganggu. Saya hanya ingin mengajak anda bertabayyun kepada syiah melalui catatan yang saya buat ini berdasarkan hasil pembelajaran dan analisis saya terhadap ajaran syiah selama beberapa tahun lamanya. Tapi sebelum ini agar anda percaya bahwa saya tidak sedang bertaqiyah, maka saya awali dahulu dengan bersumpah bahwa demi Allah, sampai dengan sekarang saya tidak pernah bertemu lalu berkenalan dengan orang – orang syiah, atau tidak ada satu orangpun yang pernah saya temui, mereka mengaku sebagai orang syiah. Jika saya berbohong, maka saya siap mati binasa dilaknat oleh-Nya! Saya juga bersumpah bahwa demi Allah, tidak ada sedikitpun keuntungan materi yang saya dapatkan dari usaha membela mazhab syiah yang dizhalimi ini, tidak ada yang menyuruh saya, hal ini murni atas inisiatif pribadi, semata – mata karena Allah sekaligus demi kebaikan kita bersama di dunia ini & akhirat kelak. Oleh karena itu jika anda mengaku sebagai mukmin yang adil dan objektif, mukmin yang mampu memegang teguh agama islam ini laksana menggenggam panasnya bara api, maka luangkanlah waktu anda sejenak untuk mempelajari catatan singkat ini.

Sedikit perkenalan diri, sebagian dari orang yang pernah bersinggungan dengan saya sebagai simpatisan syiah ini, mereka kadang menanyakan tentang hal – hal pribadi saya. Mungkin anda yang sedang membaca catatan saya ini pun mempunyai sedikit/banyak rasa kepenasaran yang sama untuk mengetahui siapakah sebenarnya diri saya ini? Saya pikir identitas diri dan asal – usul saya itu tidaklah terlalu penting untuk anda ketahui. Fokuslah hanya pada isi catatan yang saya tulis ini, karena yang terpenting adalah yang disampaikan, bukan yang menyampaikan, sehingga jikapun saya hanyalah seorang gelandangan, kuli bangunan, tukang sampah atau dari kalangan apapun itu, tapi jika apa yang saya sampaikan ini benar, maka harus diterima, kecuali ada kesombongan di hati anda. Jika anda seperti itu, sebaiknya renungkanlah sabda Rasulullah SAW berikut ini:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“’Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.’ seorang bertanya: ‘Bagaimana dengan orang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.’“ [HR. Muslim, No. 91]

Cukuplah sebagai penggantinya, anda sekedar tahu tentang prinsip hidup saya saja. Saya adalah seorang pemikir bebas. Bebas disini bukanlah berarti liberal, karena saya sendiri anti dengan paham liberalisme. Tapi bebas disini artinya adalah saya mau berpikir terbuka dengan pemikiran baru yang bahkan bertentangan dengan pemikiran lama saya yang sudah terlanjur bersarang di otak, dan juga dari pemikiran mayoritas orang. Misalnya saja, sebagai seorang muslim saya tidak menganut 1 mazhab tertentu secara mutlak/totalitas. Saya lebih suka terlebih dahulu untuk mempelajari lalu membandingkan suatu hukum/ajaran dari pendapat para imam mazhab/mujtahid, kemudian setelah itu saya dapat memutuskan pendapat manakah diantara mereka yang lebih rajih (kuat) untuk diikuti. Hal ini saya lakukan karena lebih dapat memuaskan akal pikiran, daripada saya harus langsung taklid (mengikuti) begitu saja pada 1 mazhab tertentu secara mutlak dalam hal apapun sebagaimana yang telah dilakukan oleh kebanyakan orang – orang pada umumnya. Jadi jika ada pertanyaan kepada saya: “apa mazhab yang saya ikuti?” Maka saya akan menjawab: bermazhab dalam perihal apa?”.

Selama ini saya sebagai muqallid muttabi hanya melakukan perbandingan pendapat dari 4 imam mazhab sunni saja, yaitu; Syafii, Maliki, Hanafi dan Hambali. Tapi setelah saya mempelajari mazhab syiah, maka kini bertambahlah pegangan dari mazhab yang saya ikuti tersebut menjadi 5. Dan satu – satunya amaliyah dari mazhab syiah yang saya lakukan saat ini (2017) adalah terkait dengan waktu berbuka puasa yang menangguhkannya sampai malam. Hal ini saya yakini karena lebih sesuai dengan firman Allah dibawah ini:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

 “..Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam”. [QS al-Baqarah, 187]

Adapun selisih waktu antara adzan maghrib berbuka puasanya syiah dengan sunni hanya berbeda lebih mundur sekitar 15-25 menit saja. Lihatlah ketika adzan maghrib sunni berkumandang, bukankah langit masih nampak terang dan matahari masih dalam keadaan tergelincir? Berbeda halnya ketika melewati 15-25 menit kemudian, matahari telah terbenam secara total, sehingga langit sudah mulai gelap meredup, pertanda bahwa waktu awal datangnya malam sudah tiba.

Pemisalan lainnya, saya sebagai muslim turunan tapi saya tidak segan untuk mempelajari keyakinan diluar islam. Beberapa tahun lamanya (2012-2014) saya mempelajari banyak tentang al-kitab injil (Perjanjian Baru) miliknya umat kristen, Taurat (Perjanjian Lama) miliknya umat yahudi dan sedikit tentang kitab weda miliknya umat hindu. Saya mempelajari kitab – kitab suci agama lain tersebut bukan karena saya tidak yakin dengan iman islamnya saya, tapi itu semua saya lakukan untuk menambah wawasan keagamaan saya dan berharap dapat beramal shaleh nantinya. Sayapun tidak pernah merasa khawatir jika akhirnya hasil pembelajaran tersebut malah akan melemahkan aqidah islam saya, karena saya ingin selalu berusaha berlaku seadil dan seobjektif mungkin. Dan setelah usai masa pembelajaran itu, alih – alih melemahkan aqidah islam saya, justru malah semakin menguatkannya. Dan Alhamdulillah, dari pengetahuan tersebut akhirnya dapat saya manfaatkan juga untuk beramal shaleh seperti yang diharapkan, dengan mendakwahkannya kepada pihak non muslim itu sampai dengan sekarang.

Setelah itu, pembelajaran saya berlanjut kepada syiah. Awalnya saya hanya tahu syiah sebatas hal – hal negatif mengenainya, sehingga sayapun menjadi orang yang anti syiah dengan ikut mencaci maki dan menyebarkan berita mereka sebagai golongan yang sesat. Namun walau begitu, seingat saya, saya tidak pernah sampai hati ikut – ikutan latah mengatakan bahwa syiah bukan islam, apalagi sebelum saya dapat mencari tahunya sendiri. Dari sinilah awalnya tergerak hati saya untuk mencoba bertabayyun (kroscek) kepada mereka walaupun itu hanya melalui media internet saja, karena saya tidak pernah bertemu secara langsung dengan orang – orang syiahnya sendiri. Setelah saya pelajari beberapa tahun lamanya (2015-2017) dengan perbandingan antara pendapat sunni baik yang pro maupun kontra terhadap syiah, dan dari pendapat syiahnya sendiri, hasilnya cukup mengejutkan dan membuat sedih hati ini, karena ternyata saya banyak menemukan fakta bahwa selama ini yang disebarkan oleh pihak – pihak anti syiah untuk menyerang paham syiah adalah dengan menggunakan hadits – hadits dha’if (lemah), ma’udhu (palsu), dan bahkan sengaja dipalsukan isi kitabnya oleh mereka. Pemalsuan ini utamanya ditemukan dari kitab – kitab syiah literatur induk yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa asing. Hal ini bukan saja diketahui dari hasil penelitian oleh pihak syiahnya sendiri, melainkan juga dari pihak sunni pun pernah meneliti dan melaporkannya demikian. Maka jika anda pernah mempelajari dan membaca sejumlah buku atau kitab syiah dari penerbit yang tidak atau kurang bisa dipercaya, yang dari bahasa arab kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa kita (melayu/indonesia) atau ke bahasa – bahasa lainnya, lalu melihat ada konten yang dinilai berlebihan dan tidak sesuai dengan akal sehat, itu bisa jadi kitabnya telah dipalsukan. Berikut ini beberapa bukti dari pemalsuannya:

Pihak anti syiah itu telah berperilaku jahiliyah dengan mengutip hadits – hadits dari kitab – kitab syiah yang isinya sangat melampaui batas, padahal setelah diteliti ternyata tidak seperti dalam kitab asli yang dirujuk. Mereka dengan keji mengubah, memotong dan bahkan membuat hadits – hadits palsu hasil karangan mereka sendiri pada kitab – kitab syiah terjemahan. Beberapa contoh diantaranya:

  1. “Allah baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi, sedangkan para imam mengetahuinya”, ini pemalsuan dan penyelewengan istilah al-bada dari kitab Ushulul Kaafi hal 40 & 232, karena saya telah mengecek pada kitab tersebut namun tidak ditemukan. Pemalsuan ini mirip seperti dengan kitab kasyful Asrar hal 99 yang link bantahan selengkapnya dapat dibaca diatas.
  2. “Malaikat Jibril salah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad yang seharusnya diserahkan kepada Ali” atau sejenisnya, ini pernyataan dari syiah ghulat/ekstrim yang tidak ada hubungannya dengan syiah dimasa ini. Tapi menurut Ibu Emilia Renita AZ yang pernah difitnah berkata begitu dalam screenshot facebook, beliau membantahnya dan berkata bahwa syiah ghulat tidak pernah ada, sehingga hal itu hanyalah rekayasa
  3. “Wanita syiah yang bersuami boleh di mut’ah, jika seizin suaminya maka pahala yang didapat lebih sedikit”, ini pernyataan palsu, dibuat – buat saja dengan jahil dari sumber Fatawa 12/432 yang link bantahan selengkapnya terdapat di poin ke 3 tentang nikah mut’ah terkait dusta al-Amiry.
  4. “Ali adalah dzat yang awal dan yang akhir”, ini pernyataan Ali yang dikutip sepotong dan hanya bermakna kiasan saja yang bantahan selengkapnya terdapat di poin ke 5 tentang menabi dan menuhankan Ali.
  5. “Memakan tahi/kotoran para imam dijamin masuk surga”, ini pemalsuan dari kitab anwar wilayah Bab Thaharah, hal 440 yang bantahan selengkapnya terdapat di poin ke 11 tentang hal tersebut.

Dan lain – lain, masih banyak lagi. Sungguh saya bersyukur dapat mengetahuinya, karena setidaknya dengan kebenaran ini, saya dapat berhenti menghujat syiah lagi.

Jika anda berpikiran kritis dan sebelumnya pernah mendapati seperti 5 hal diatas, tentulah anda akan punya sedikit/banyak rasa curiga dan keraguan untuk mempercayainya. Karena logikanya, buat apa mereka banyak yang memperdalam ilmu agama, menguasai bahasa arab, datang dari kalangan para habaib, Terlebih banyak yang menjadi Hafidz Qur’an, apakah mereka semua oknum?! Renungkanlah dan bacalah ini:

Tak hanya memalsukan, pihak anti syiah juga dengan berani mengarang kitab/buku sendiri tapi menyandarkan penulisnya ke para ulama syiah, misalnya:

  1. Nama Ayatullah Ja’far Subhani dicatut seolah – olah penulis buku: Qira’atun Rasyidah Fi Kitab Nahjil Balghah yang sebenarnya karya orang anti syiah bernama Abdurrahman bin Abdullah  al Jami’an. Kitab ini sempat diterbitkan dalam bahasa Persia berjudul: Nahjul Balaghah Ra dubareh Bekhanim. Terhadap aksi pencatutan nama ini, Ayatullah ja’far subhani akhirnya melayangkan protes ke pemerintahan negara Arab Saudi. (Selengkapnya:.http://salehlapadi.blogspot.co.id/2007/02/menyingkap-yang-tak-terungkap-tentang.html)
  2. Syaikh saleh darwisyi sempat menulis buku distorsi palsu tentang Nahjul Balghah yang berjudul: Ta’ammulat fi Nahjul al-Balghah,  dan kitab ini segera diketahui oleh para ulama syiah, sehingga kemudian dapat diluruskan pada kitab yang berjudul: Hiwar ma’a as syaik saleh Darwisyi.
  3. Pihak anti syiah juga berdusta mencatut nama Sayyid Musa Musawi, cucu Ayatullah Isfahani, yang dinyatakan menulis kitab  as-syi’ah wa at-tashih.

Sebenarnya bukanlah hal baru atas tindakan palsu – memalsu kitab itu dikalangan para ‘elit’ ulama, karena jangankan terhadap pemalsuan kitab syiah, bahkan mengingat dari kesaksian pihak sunni dan syiah bahwa pihak wahabi yang biasanya menjadi pelopor dalang anti syiah, didalam kitabnya ad-Durar as-Saniyyah jilid 1 hal 228, mereka diperintahkan untuk menyembunyikan kebenaran dengan cara memusnahkan atau menghilangkan sebagian isi kitab kitab karya ulama sunni pegangan mereka sendiri jika tidak sesuai dengan ajaran mereka, seperti yang memuat pada hadits – hadits nabi tentang wasiat dan Ali Bin Abi Thalib yang dinilainya tidak sejalan dengan mereka dan dapat menguntungkan pihak syiah, dengan cara memodifikasinya, meragukan para perawinya yang tsiqah, menafsirkannya dengan makna yang tidak tepat bahkan tidak tanggung – tanggung mencapnya sebagai hadits ma’udhu padahal sebelumnya adalah shahih dan diriwayatkan dengan sanad – sanad yang bisa dipercaya. Misalnya saja, dalam kitab Tafsir Thabari jilid 19 halaman 121 bagian dari sabda Nabi: “Washiku dan khalifahku”, mereka menggantinya dengan kalimat “Inilah saudaraku, dan begini dan begitu..” Mereka lalai, padahal Thabari telah menyebutnya juga secara sempurna dalam kitab sejarahnya jilid ke 2 pada halaman 319. Kemudian ada lagi pada Kitab Tarikh al-Ya’qubi jilid 2 hal 37 aslinya menyebut “Nash” untuk Ali di “Ghadir Khum”, tapi dalam cetakan wahabi kedua kata tersebut dihilangkan. Dan lain – lain, masih banyak lagi. Seharusnya mereka yang merasa diatas kebenaran dan mengaku berittiba diatas manhaj salaf itu dapat secara sportif menghadapi pihak syiah yang menjadikan perihal tersebut sebagai hujjah, yakni dengan ilmu dan saling beradu dalil, bukan malah bersikap pengecut menghilangkan barang bukti dari isi kitab para ulama terdahulu dengan keji dan se’enak udelnya sendiri! Jadi intinya maksud saya itu, kitab pegangan mereka sendiri saja dengan berani di obrak – abrik isinya, apalagi kitab pada mazhab lain dalam hal ini mazhab syiah?!

Selain kitab & buku syiah yang dipalsukan, orang – orangnya juga banyak yang dibuat kisah palsunya, mulai dari artikel di website sampai pada dibukukan:

Tidak luput juga, ternyata testimoni tokoh besar dari pihak sunni pun telah ada yang dipalsukan. Salah satunya adalah kisah seorang kristolog dunia bernama Ahmad Deedat yang diceritakan oleh pihak anti syiah bahwa dirinya telah membungkam mulut “pendeta Syiah” melalui kata – kata “pada zaman rasul, orang Syiah suka mencuri sandal”. Ternyata kisah tersebut adalah pemutar balikkan fakta dari kisahnya ulama syiah yang bernama Allamah Hilli dalam kitab Munazharat fil Imamah yang isinya justru terbalik, yakni untuk mengkritik 4 imam mazhab sunni. Adapun pendapat Ahmad Deedat yang asli terkait syiah adalah positif thinking dengan menginginkan persatuan. Selengkapnya baca disini:

https://ejajufri.wordpress.com/2009/02/24/nasihat-ahmad-deedat-syiah/

Lalu berkaitan dengan fatwa, pihak anti syiah banyak mengutip pernyataan atau fatwa yang sebenarnya tidak pernah dinyatakan oleh para habaib dan ulama terkenal di timur tengah terkait dengan kekafiran syiah. Salah satu yang cukup fenomenal dan vulgar adalah digosipkannya ulama besar mesir yang juga sebagai pembesar/mufti Ikhwanul Muslimin yaitu syeikh Yusuf al-Qardhawi, beliau dikatakan bahwa dirinya telah menyesal lalu meralat fatwanya yang dulu tentang keislaman syiah, bahkan tak segan menghalalkan darah mereka. Sungguh hal tersebut hanyalah dusta keji, karena pernyataan beliau yang benar tidaklah sampai seperti itu, melainkan hanya menyayangkan masih adanya oknum syiah rafidhah. Isu miring ini pernah coba diluruskan oleh Habib Rizieq melalui video berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=lG_hvI8S2M4

Masih terkait tentang fatwa, dusta bahwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa bahwa syiah adalah aliran sesat, bahkan kafir atau diluar dari islam. Karena secara resmi fatwa MUI terkait syiah ini hanya ada dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 yang isinya sekedar himbauan untuk mewaspadai syiah, bukan fatwa vonis sesat atau bahkan kafir. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat setiap perbedaan biasanya menarik perhatian banyak orang, sehingga menjadi hal yang wajar jika diwaspadai, karena amaliyyah mazhab syiah yang minoritas ini mempunyai sejumlah perbedaan dengan mazhab sunni khususnya asy-Syafi’i yang secara mayoritas dianut oleh umat islam indonesia. Adapun fatwa MUI jawa timur tentang kesesatan syiah jelas bertentangan dengan kebijakan MUI pusat, sehingga fatwa tersebut terkesan terlalu dipaksakan. Wajar saja, bagaimana tidak, mengingat di jawa timur banyak tekanan dari para ulama anti syiah yang memanfaatkan khasus syiah sampang untuk mendesak pihak MUI Jawa timur agar segera membuatkan fatwa tersebut.

Bukan hanya itu saja, mereka juga telah membuat propaganda dusta dengan mengatasnamakan MUI, padahal tidak resmi dari MUI, agar memuluskan siasat licik mereka untuk mengajak umat islam indonesia ini ikut – ikutan latah memvonis syiah, seperti dengan cara membuat dan menyebarkan buku berjudul: “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah Di Indonesia” yang didalamnya diklaim sepihak oleh mereka sebagai  “Buku panduan MUI Pusat” hanya karena ditulis oleh “Tim penulis MUI Pusat”, padahal kenyataannya buku tipis yang tidak berstempel MUI dan tidak juga ditandatangani oleh pejabat MUI Pusat sebagaimana buku – buku resmi dari MUI lainnya ini, bukanlah buku resmi yang dikeluarkan oleh MUI Pusat, melainkan hanya ditulis oleh segelintir individu anti syiah yang kebetulan berada di MUI Pusat, lebih parah lagi buku tersebut diterbitkan tanpa sepengetahuan Ketua Umum MUI Pusat KH. Sahal Mahfudz, Ketua MUI Pusat Prof. Dr. Umar Shihab, Wakil Ketua MUI Pusat Prof. Dr. Din Syamsuddin dan Sekjend MUI Pusat Drs. H. Ichwan Sam dikala itu ditahun 2013.

https://satuislam.wordpress.com/2013/11/10/mui-tak-pernah-terbitkan-buku-tentang-syiah/

Contoh kedustaan lainnya yang mengatasnamakan MUI,  ketika ulama besar dari grand al-Azhar kairo mesir bernama Syaikh Ahmad Muhammad ath-Thayyib melakukan pertemuan dengan pihak MUI untuk membawa agenda persatuan sunni-syiah, seorang oknum MUI pengidap virus takfiri radikal yang bernama Irfan Helmi rupanya kebakaran jenggot, sehingga dengan sengaja menyebarkan broadcast pesan dusta atas rangkuman pertemuan sikap Pimpinan MUI terhadap Syaikh al-Azhar tersebut yang ditulisnya bahwa MUI menolak persatuan sunni-syiah karena syiah sesat dan bukan saudara seaqidah. Tetapi pernyataan dustanya tersebut akhirnya diklarifikasi oleh pihak MUI secara resmi dalam web resminya:

http://mui.or.id/id/berita/klarifikasi-mui-tentang-rangkuman-sikap-mui-terhadap-ceramah-grand-syaikh-al-azhar/

Tidak puas sampai disitu, mereka juga mengarang berita palsu yang menyudutkan syiah. Misalnya; muslim sunni di iran tertindas, tidak punya masjid, dilarang shalat jum’at, ied, dan lain – lain. Padahal faktanya tidaklah demikian:

Lalu ada lagi berita palsu terkait haji. Diisukan bahwa syiah membuat ka’bah tandingan di iran sebagai pengganti dalam melakukan kewajiban haji di Mekkah-Arab Saudi. Hal tersebut dikuatkan pula dengn tanda bukti foto ataupun video, padahal semua itu hanyalah kegiatan manasik haji yang di indonesiapun diadakan. Logikanya, untuk apa orang – orang syiah di iran masih berhaji di mekkah, bahkan dengan jumlah kuota 61.000 jema’ah haji setiap tahunnya, sehingga menjadikan iran menduduki peringkat ke 7 dunia dalam hal jumlah jama’ah haji, jika dinegaranya saja sudah ada ka’bah buatan tersebut?! Ada lagi diisukan bahwa syiah melaksanakan wukuf di karbala setelah tidak diizinkan mengikuti ibadah tahunan haji di Mekkah-Arab Saudi. Berita palsu tersebut sempat menjadi viral, bahkan sampai pernah diberitakan juga oleh media tv nasional di indosiar tahun 2016, namun tidak lama kemudian, akhirnya pihak indosiar meminta maaf dengan meralat bahwa berita tersebut adalah tidak benar.

Begitu juga berita tentang syiah yang katanya mayoritas, sehingga menjadi aktor utama dalam pembantaian muslim sunni di suriah, dan lain – lain. Sebagian besar dari kita dengan mudahnya menelan bulat – bulat informasi dari media berkedok islam tentang hal tersebut. Padahal statistik data dilapangan membuktikan bahwa tentara dan rakyat suriah itu 70% adalah sunni, sedangkan syiah hanya sekitar 15% dan sisanya adalah non muslim. Lantas mana mungkin kaum minoritas itu dapat menjajah kaum yang mayoritas? Lagipula presiden suriah yang juga seorang habib keturunan Rasulullah SAW ini, yakni Bashar al-Assad, beliau sebenarnya bukanlah penganut syiah, melainkan sunni hanafi (begitupun dengan almarhum mantan presiden Libya Muammar Qadafi bukanlah seorang penganut syiah, tetapi sunni), kita selama ini telah dibohongi oleh media. konflik tersebut sebenarnya hanyalah bermotif politik saja (arab spring), bukanlah konflik sunni – syiah seperti yang diberitakan oleh media – media berkedok islam.

Banyak sekali pemalsuan data konflik di Suriah. Lihatlah buktinya dari 88 data dan foto pemalsuan konflik suriah yang saya ambil pada e-book PDF dibawah ini:

simpatisansyiah.files.wordpress.com/2017/08/pemalsuan-data-konflik-suriah.pdf

Bukan hanya berita saja yang dipalsukan, dalam bentuk video pun banyak yang dipalsukannya. Menurut pengakuan dari pihak syiahnya sendiri, diketahui adanya video di youtube yang mengambil gambar ulama syiah, tapi suara yang dihasilkan bukanlah dari suara ulama syiah itu. Ada juga video yang memang benar ceramah dari ulama syiah, namun teks terjemahan bahasanya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ulama syiah itu. Ada lagi video yang dari judulnya mengandung hasutan, tapi ternyata isi didalamnya tidaklah demikian. Misalnya saja, dalam judul video: “Ulama Syi’ah si Kafir homo Khamenei menyedot bibir laki laki”, padahal setelah ditonton ternyata hanya cium pipi saja:

https://www.youtube.com/watch?v=lZOTJ04Z0_g

Ada lagi video yang berjudul: “Wanita Syiah Banting Bayi Di Hussainiyat”, padahal setelah ditonton ternyata peristiwa itu hanya faktor ketidaksengajaan saja:

https://www.youtube.com/watch?v=AJbnQAI7HuE

Ada lagi video yang berjudul: “Cara Sholat Syiah Heboh – GOYANG -”, padahal setelah ditabayyuni ternyata wanita yang sedang shalat dalam video tersebut hanyalah orang stress dan bukan syiah. Hal ini telah diklarifikasi oleh orang – orang Palembangnya sendiri bahwa dia mengalami gangguan jiwa setelah menjadi korban pemerkosaan ketika jadi TKW di Arab Saudi, lalu dibuang oleh suaminya:

https://www.youtube.com/watch?v=pnE_vdcapac

Ada juga video yang setelah saya teliti diduga kuat hanyalah rekayasa. Berikut ini adalah hasil analisis saya terkait video habib mantan syiah bernama Anis al-Jufri:

https://www.youtube.com/watch?v=xodk6Q_fvj0

  1. Pada durasi 12:24 dia menyatakan bahwa shalat maghribnya syiah bisa dikerjakan jam 12 malam. Dia berdusta, karena batas waktu shalat isya dalam mazhab syiah itu hanya sampai tengah malam saja, sehingga jika shalat maghrib dan isya dikerjakan jamak takhir melebihi jam 12 malam, maka ada kelonggaran kepada si pelaku dengan wajib mengerjakannya sampai batas terbit fajar dengan niat ma fidz-dzimmah (yakni mendekatkan diri kepada Allah). [Hasan Musawa – Fiqih Praktis Menurut Mazhab Ahlul Bayt as Seputar Ibadah, Bab: Shalat Fardhu, hal: 49], (jika di sumber lain disebutkan dengan niat qadha, tapi shalatnya tidak mendapatkan pahala).
  2. Kemudian pada durasi 13:25 dia menyatakan bahwa orang syiah tidak mengenal shalat sunnah kecuali tahajud Dia berdusta, karena shalat sunnah syiah tidak hanya shalat tahajud saja, berikut ini saya jabarkan;
    1. Shalat sunnah hariannya syiah berjumlah 34 raka’at, yaitu; shalat rawatib 8 raka’at sebelum dzuhur, 8 raka’at sebelum ashar, 4 raka’at sesudah maghrib, 2 raka’at sesudah isya, 8 raka’at shalat malam, 2 raka’at shalat untuk meminta syafa’at + 1 raka’at witir dan 2 raka’at pada waktu shubuh yang dinamakan shalat fajar. [M. Jawad Mughniyah – Fiqih Lima Madzhab, Bab: Shalat, hal: 72]
    2. Jika Shalat malam di bulan ramadhan di sunni bernama shalat tarawih yang dapat dilakukan secara berjama’ah setelah shalat isya, maka di syiah penyebutannya bukan shalat tarawih, melainkan shalat nafilah yang dapat dilakukan secara munfarid (sendirian) saja setelah shalat maghrib dan isya (selengkapnya: https://hauzahmaya.wordpress.com/2015/06/19/shalat-terawih-syiah/).
    3. Dipihak syiah juga ada shalat sunnah di waktu dhuha, hanya saja tidak dinamakan shalat dhuha sebagaimana di sunni, itupun terdapat khilafiyah, ada yang membolehkan, ada juga yang membid’ahkan, namun saya pikir pendapat yang lebih rajih (kuat) diantara mereka adalah yang membid’ahkannya. Tapi walau begitu sebaiknya saling menghargai perbedaan saja. Toh, dalam ajaran sunni sendiri shalat dhuha ini terdapat khilafiyah yang bahkan pembid’ahannya dinyatakan dari sejumlah hadits shahih mereka dan bahkan ada sejumlah hadits yang menyebutkan kemuliaan shalat dhuha ini malahan didhaifkan oleh Nashiruddin Albani (Selengkapnya: http://www.lppimakassar.net/hadis/salat-dhuha).
  3. Lalu pada durasi ke 17:00 dia menyatakan bahwa dirinya masuk komunitas syiah karena ingin mencari kebenaran. Saya yakin dia berdusta, karena kebenaran macam apa yang ingin dicarinya sedangkan sejumlah ucapannya terkait ajaran syiah diatas saja terbukti dusta?! Saya mendapat informasi dari video pernyataannya petinggi ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) Ahmad bin Zein al-Kaff bahwa orang – orangnya ada yang menyusup ke pihak syiah. Jadi, mungkin saja dia bagian dari mata – mata.
  4. Lalu pada durasi ke 17:23 dia menyatakan bahwa orang syiah bertaqiyah menghalalkan harta, ilmu bahkan darahnya orang sunni. Dia berdusta, karena justru taqiyah dilakukan oleh pihak syiah hanya untuk keselamatan dirinya saja, tidak lebih (selengkapnya baca di poin 7 tentang taqiyah).
  5. Lalu pada durasi ke 19:48 dia menyatakan bahwa tidak ada habaib syiah di indonesia. Dia berdusta, karena misalnya saja tokoh besar ABI (Ahlul Bait Indonesia) yaitu Muhsin Labib, beliau adalah seorang habib Begitu juga banyak sejumlah teman saya di facebook adalah habaib syiah.
  6. Lalu pada durasi ke 20:15, dia menyatakan jika jumlah syiah di negeri ini menjadi mayoritas, maka pihak sunni akan dihabisi. Dia berdusta, karena seperti halnya fitnah konflik suriah yang sudah saya bahas sebelumnya, disana 70% itu sunni, sedangkan syiah hanya 15%, sisanya non muslim.

Selain itu, saya coba kunjungi web yang tertera pada video tersebut yakni di http://piq-almisbah.com hasilnya: “Server Not found”. Lalu saya juga tidak menemukan video dialog lainnya yang dirilis oeh majelis al-Misbah jakarta ini selain hanya video dialog kepada mantan habib syiah ini saja. Sudahlah narasumbernya pendusta, alamat webnya palsu dan hanya terdapat 1 video dialog saja? Jangan – jangan semua ini hanyalah rekayasa belaka? Maka jangan mudah percaya dengan banyaknya edaran video penipuan mantan syiah semacam ini lagi.

Masih terkait video yang saya yakin hanyalah rekayasa sandiwara belaka, dalam sebuah dialog tentang syiah yang memakan tahi/kotoran imamnya, si orang syiah itu mengakuinya dengan berkata: “ya, saya memakan kotoran imam maksum!“. Logikanya, mana mungkin hal tersebut dapat terjadi, sedangkan imam maksum dimasa ini adalah imam mahdi yang keberadaannya masih ghaib?! Ini kan konyol!

https://www.youtube.com/watch?v=YFbUvliq1_Y

Oh ya, mengenai imam Mahdi, pihak anti syiah menuduh bahwa imam yang ke-11: Hasan al-Askari itu mandul, sehingga imam Mahdi hanyalah dongeng khayalan saja guna menggenapkan adanya 12 imam maksum. Dalam hal ini mereka mengutip sejumlah kitab syiah yang salah satunya adalah kitab al-Irsyad karya syeikh Mufiid, hal 339. Jujur, saya belum pernah membaca kitab tersebut, karena tidak punya, hanya saja saya menemukan kutipan tulisannya syeikh Mufid di kitab yang sama dari website wikishia dimana dijelaskan pada hal 512 bahwa ibu imam Mahdi adalah seorang kaniz (budak perempuan) yang bernama Nargis. Logikanya, tidak mungkin jika seseorang yang sama dalam kitabnya yang sama pula mempunyai isi yang saling bertolak belakang. Lagipula jika benar beliau mendustainya, lantas kenapa beliau masih syiah?! Maka jelas bahwa itu dipotong.

Nah lho, berdusta terhadap mazhab lain, tapi lupa dengan mengkaji mazhab sendiri. Karena justru imam Mahdi versi sunni yang dibilang keturunan Hasan bin Ali itu dha’if:

https://secondprince.wordpress.com/2008/08/13/benarkah-imam-mahdi-dari-keturunan-imam-hasan/

Dalam bentuk video saja dipalsukan, apalagi hanya berupa foto?! Seperti misalnya jika anda pernah melihat foto yang menunjukkan salah seorang ulama syiah telah mencium kaki depan seekor anjing atau foto lainnya dari ulama syiah telah mencium bibir seorang anak kecil sesama jenisnya didepan umum, dan lain – lain itu semua hanyalah fitnah foto hasil editan saja. Adapun foto yang viral dari seorang ulama syiah yang tengah mencium seorang wanita muda yang diberitakan bahwa mereka telah resmi menjadi pasangan mut’ah dan disaksikan sendiri oleh suami disampingnya, itu adalah fitnah. Karena berita yang benar itu mereka bertiga adalah keluarga yang sedang berfoto bersama. Maka telitilah sebelumnya.

Tak tanggung – tanggung, bahkan orang yang telah meninggal duniapun dijadikan sebagai bahan untuk berdusta. Seperti yang dialami oleh Khomeini yaitu salah seorang ulama besar syiah revolusioner di iran. Beliau walau sudah lama meninggal dunia, tapi berita kematiannya dijadikan sebagai isu yang dihembuskan hingga kini bahwa jenazahnya koyak dan jatuh ketika dimakamkan, sehingga dengan hal tersebut mereka ingin membuktikan bahwa Khomeini telah dihinakan oleh Allah. Tapi mungkin mereka tidak tahu kalau prosesi pemakamannya disiarkan secara live di tv dan telah diunggah di youtube, sehingga kita semua dapat melihatnya sendiri atas ketidakbenaran isu tersebut. Silahkan tonton disini:

https://www.youtube.com/watch?v=2SL6kRg4QKc

Jika anda merasa kurang cukup dengan video diatas, maka anda juga dapat melihat bukti kepalsuan foto yang selama ini banyak tersebar di media yang katanya adalah jenazah Khomeini, dengan memanfaatkan upload foto di google image, sehingga foto yang diupload itu dapat dicari sumber aslinya. Alhasil foto tersebut bukanlah foto dari jenazahnya Khomeini, melainkan foto orang yang dipidana mati di iran dimana banyak orang mengerumuninya. Berikut sumbernya:

https://www.document.no/2010/01/12/bondevik_og_revolusjonen_i_ira/

Anda dapat membuktikan dengan membandingkan kesamaan persis pada foto tersebut yang diposting lebih awal yaitu pada tahun 2010 daripada foto di media – media tentang isu berita jenazah Khomeini yang baru beredar di tahun 2014-2015.

Kedustaan yang paling parah adalah ketika pihak anti syiah mempengaruhi orang – orang awam untuk mengkafirkan syiah dengan cara provokasi bahwa syiah telah mengkafirkan sunni. Setidaknya ada 2 dalil riwayat syiah yang sering disalahgunakan oleh mereka untuk memuluskan tujuan piciknya tersebut, yaitu tentang pengingkaran atas wilayah 12 imam maksum syiah dan nawasih/nashibi.

Pertama, tentang pengingkaran atas wilayah 12 imam maksum syiah. Memang benar dalam sejumlah riwayat syiah dinyatakan bahwa orang – orang yang mengingkari wilayah imamah (12 imam) dihukumi sebagai kafir. Tetapi sejauh yang pernah saya baca dan pelajari biasanya riwayat – riwayat itu berstatus dha’if dan mengandung illat (cacat). Dan menurut para ulama syiahnya sendiri, kafir disini maksudnya hanyalah kekafiran terhadap imamah yang menyebabkan pelakunya berdosa besar saja, tetapi tidaklah sampai mengeluarkannya dari islam. Logikanya, jika memang benar bahwa pihak syiah menganggap pihak sunni itu kafir diluar islam karena perihal tersebut sebagaimana yang dituduhkan oleh media – media berkedok islam, maka tentu saja itu bertolak belakang dengan dalil – dalil hadits dari riwayat syiah yang lainnya. Seperti misalnya dalam kitab al-Kafi 2/401-402 diceritakan tentang percakapan antara imam Ja’far Shadiq dengan kedua sahabatnya, yaitu Abu Muhammad dengan Abu al-Khaththab. Kedua orang sahabat tersebut awalnya berdebat tentang kedudukan orang yang tidak berwilayah kepada imamah. Karena tidak menemui kepastian, maka akhirnya mereka berdua bersepakat untuk menemui imam Ja’far Shadiq. Sang imam bertanya: “Apakah para pembantu, wanita, dan anggota keluarga kalian bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah, Melakukan shalat, puasa dan haji?“. Mereka menjawab: “Ya betul!“. Sang imam bertanya lagi: “Apakah mereka mengetahui apa yang kalian ketahui (tentang wilayah imamah)?”. Mereka menjawab: “Tidak!“. Sang imam bertanya lagi: “Bagaimanakah mereka menurut pendapat kalian?“. Seorang dari mereka menjawab: “Barangsiapa tidak mengetahui tentang Imam mereka, maka mereka itu kafir!“. Sang imam berkata, “Subhanallah, ini perkataannya orang Khawarij!“.

Misalnya lagi dari riwayat shahih syiah ini, ketika Imam Muhammad al-Baqir ditanya tentang perbedaan iman dan Islam, beliau menjawabnya sebagai berikut:

حدثني أبي رضي الله عنه قال: حدثنا سعد بن عبد الله عن إبراهيم بن هاشم، عن محمد بن أبي عمير، عن جعفر بن عثمان، عن أبي بصير قال: كنت عند أبي جعفر عليه السلام فقال له رجل: أصلحك الله إن بالكوفة قوما يقولون مقالة ينسبونها إليك فقال: وماهي؟ قال: يقولون: الايمان غير الاسلام، فقال أبوجعفر عليه السلام: نعم، فقال الرجل: صفه لي قال: من شهد أن لاإله إلا الله وأن محمدا رسول الله صلى الله عليه وآله وأقر بما جاء من عند الله وأقام الصلاة وآتى الزكاة وصام شهر رمضان وحج البيت فهو مسلم…

Barang siapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah (Swt) dan Muhammad adalah Rasulullah Saw, dan meyakini apa yang datang dari sisi Allah, menunaikan shalat, memberikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, haji ke baitullah, maka ia adalah Muslim“. [Kitab al-Khishal, juz 2, hal 411, No. 14]

Jadi dari 2 riwayat diatas jelas bahwa orang yangg bersyahadat, shalat, puasa dan haji, namun mereka mengingkari wilayah kepemimpinan Imamah, maka oleh Imam Ja’far ash-Shadiq dan Muhammad al-Baqir masih dianggap sebagai muslim.

Kedua, tentang nashibi. Nashibi atau jamaknya nawashib adalah orang yang membenci dan memusuhi Ahlulbait nabi dan pengikutnya (dimusuhi karena mencintai dan mengikutinya). Para ulama sunni dan syiah telah bersepakat memvonis nashibi sebagai sesat bahkan kafir. Oleh pihak anti syiah istilah ini sengaja diselewengkan maknanya untuk mengadu domba. Cara yang dilakukannya bermacam – macam,  seperti dengan jahil menambahi sendiri sisipan dalam kurung: ‘ahlussunnah’ dibelakang setiap adanya tulisan atau kata ‘nashibi/nawashib’ pada riwayat – riwayat syiah yang dikutip, contohnya: “nashibi/nawashib (ahlussunnah)”, sehingga orang – orang yang tidak kritis membacanya akan langsung membenarkan tuduhan bahwa yang dimaksud nashibi adalah pihak sunni secara keseluruhan. Selain itu, mereka juga sengaja mengutip riwayat – riwayat syiah secara sepotong, sehingga seolah – olah yang dimaksud nashibi dalam riwayat syiah itu adalah memang pihak sunni secara keseluruhan, padahal jika kita tahu riwayatnya secara lengkap, maka akan jelas bahwa yang dimaksud nashibi disana adalah pihak sunni yang memusuhi ahlulbait.

Lalu dari hasil pengalaman saya dalam beberapa tahun berdiskusi dengan pihak anti syiah. Sungguh mereka tidak merasa berdosa untuk berdusta. Misalnya:

  1. Paling banyak adalah khasus pengakuan palsu sebagai para mantan syiah. Seperti pernah ada orang yang mengatakan kepada saya bahwa dia mantan syiah dan pernah pergi ke iran, dia bersaksi tentang kebobrokan iran, juga membenarkan isu – isu miring syiah yang beredar seperti tahrif al-Qur’an.
  2. Pernah juga ada yang mengatakan kepada saya bahwa dia melihat jenazah orang syiah ketika dimandikan tidak ditutupi oleh kain penghalang, sehingga tanpa rasa malu banyak orang disekitaran dapat melihat auratnya.
  3. Pernah juga yang lainnya bercerita tentang pengalamannya dalam menghadiri pengajian syiah, katanya di muka umum mereka berani dengan terang – terangan melaknat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Siti Aisyah.
  4. Pernah juga ketika saya sedang membahas tentang kepalsuan buku anti syiah yang mengatasnamakan MUI, ada orang yang membantah pernyataan saya dengan mengatakan bahwa dikampusnya buku tersebut diserahkan langsung oleh KH. Ma’ruf Amin selaku ketua umum MUI.
  5. Ada juga yang lebih keterlaluan, 2 hal saja sebagai contoh, yang pertama dalam kitab syiah jelas bahwa nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang diakui oleh pihak syiah, namun ada orang yang berkata kepada saya bahwa dirinya pernah berbicara dengan orang syiah yang mengakui Muhammad bukanlah nabinya, karena menurutnya jibril telah salah dalam memberikan wahyu yang seharusnya diberikan kepada Ali. Yang kedua dalam kitab syiah jelas dilarang menikah mut’ah terhadap istri orang lain, tapi ada orang yang berkata kepada saya bahwa temannya pernah diajak oleh wanita syiah yang telah bersuami untuk menikah mut’ah dengannya, bahkan hal tersebut disaksikan dan disetujui oleh suaminya sendiri. Ada juga khasus serupa dimana dia bersaksi bahwa orang syiah pernah mengutarakan niat kepadanya sedang mencari istri orang untuk di mut’ah.

Tapi anehnya, mereka semua menolak permintaan saya untuk bersumpah atas nama Allah dan siap mati binasa dilaknat oleh Allah jika pernyataannya itu dusta!

Ada lagi, dalam inbox facebook seseorang mengatakan kepada saya bahwa al-Qur’an syiah memang benar telah mengalami tahrif (perubahan). Katanya, orang – orang syiah awam tidak akan bisa mengetahuinya, sebab hanya khusus bagi mereka saja yang sudah tinggi keilmuannya yang dapat tahu akan hal tersebut. Tapi ajaibnya, dia yang mengaku tidak pernah menjadi orang syiah, mengaku pernah mendapatkan kesempatan emas untuk melihat secara langsung al-Qur’annya syiah yang telah mengalami tahrif itu karena diperlihatkan oleh ulama syiahnya sendiri ketika dia aktif mengikuti pengajian umum syiah. Wah, berarti “bunuh diri” dong ulama syiah itu? Maka saya tanyakan kepadanya: “bagaimana mungkin orang syiah awam tidak pernah ada yang tahu dan diperlihatkan akan kebenaran adanya tahrif al-Qur’an ini, sedangkan anda yang bukan orang syiah saja dapat tahu dan diperlihatkan secara cuma – cuma oleh ulama syiahnya sendiri hanya karena sekedar pernah mengikuti pengajian umumnya syiah saja?”. Dia hanya diam tak dapat menjawab, maka jelas sekali ketahuan dustanya.

Tak disangka, mereka semua yang saya perhatikan dari penampilan dan tutur katanya sangat islami, tapi ternyata aslinya para pendusta agama! Maka semakin kuatlah atas dugaan saya diawal jika pihak anti syiah telah menghalalkan segala macam cara untuk memojokkan pihak syiah, termasuk dengan berdusta sekalipun!

Dan karena cukup banyak yang bersaksi palsu seperti diatas, saya merasa curiga jangan – jangan hal tersebut bukanlah dilakukan dari dorongan pribadi, melainkan secara terorganisir, alias sedari awal pihak anti syiah telah mengajarkan mereka untuk melakukan kedustaan tersebut, dengan target utamanya yaitu mereka yang simpati terhadap syiah. Maka tidak heran jika anda pernah melihat orang – orang disekitar anda yang tadinya begitu respek terhadap syiah, tiba – tiba menjadi anti syiah. Bagaimana tidak, bayangkan saja jika anda yang ada diposisi itu, lalu agar anda percaya, teman anda mengatakan: “itu orang syiahnya sendiri yang ngomong ke saya!”, pasti sebagian besar orang biasanya akan percaya begitu saja, apalagi jika pelakunya itu seorang pembesar agama dengan busana agamisnya. Nah, jika anda suatu saat nanti mengalaminya, maka saran saya tantanglah mereka untuk bersumpah atas nama Allah dan siap mati dilaknat oleh-Nya jika berdusta!

Ternyata masih banyak lagi kedustaan terhadap syiah yang lainnya. Untuk mempersingkat halaman, maka saya berikan link-nya saja. Beberapa diantaranya:

Semua kedustaan diatas hanyalah sebagai sampel saja. Saya yakin masih banyak kedustaan lainnya jika mau dicari. Saya tidak habis pikir, pihak anti syiah menuduh bahwasannya pihak syiah adalah pendusta dan pemalsu hadits terdepan, tapi ternyata itu hanya pemutar balikkan fakta saja. Entah apa tujuannya mereka bisa tega melakukan tipu daya besar tersebut, mungkin saja mereka punya dalil tersendiri untuk menghalalkan kedustaan dengan tujuan kemuliaan agama. Padahal jika yang dipalsukan adalah hadits – hadits yang mengatasnamakan sabda Rasulullah SAW, maka secara tidak langsung mereka juga telah berkata dusta atas nama beliau. Hal tersebut tentu saja dosa besar, karena Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

 “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” [HR Bukhari No. 1291 (I/7, 35, 36) dan HR Muslim No. 4 (I/7, 8)]

Nah, karena hal inilah tujuan utama saya mengajak anda bertabayyun kepada syiah, bukan untuk mensyiahkan anda. Dalam hal ini Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 “Hai orang – orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS. Al-Hujuraat, ayat 6]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [QS. al-Maa’idah, ayat 8]

Banyak propaganda tulisan yang beredar dewasa ini di media menyebutkan bahwa 4 imam mazhab sunni dan ulama lainnya telah menganggap keseluruhan syiah itu sesat bahkan kafir. Padahal dalam tulisan mereka tersebut dalam kutipan teks asli dari kitab – kitabnya itu adalah rafidhah. Dan perlu diketahui bahwa tidak semua syiah itu dicap sebagai rafidhah, sehingga ini artinya mereka tidak pernah menyatakan kafir terhadap keseluruhan syiah. Nah, terkait rafidhah ini, para ulama syiah rujukan dari iran sendiri menentangnya, bahkan diantara mereka menyatakan bahwa rafidhah adalah syiah ekstrimis yang sesat, karena adanya fatwa dari Ayatullah Khomeini, khomenei dan lain – lain yang melarang keras melaknat, mengkafirkan atau menghina simbol – simbol (para sahabat nabi) yang dimuliakan oleh pihak sunni. Namun walau demikian, ternyata sebagian dari para ulama beserta pengikutnya dari pihak sunni tidak mau mempercayainya dengan alasan “itu hanyalah taqiyah”, padahal urusan hati hanyalah Allah yang tahu dan berhak menilainya. Lebih dari itu, sebagian diantara mereka tidak hanya mencap semua syiah adalah kafir, bahkan juga berani memvonis kafir terhadap orang – orang yang tidak mau memvonis syiah sebagai kafir, dan bahkan yang lebih parah lagi, mereka tanpa merasa berdosa dengan tega menggunakan hadits dha’if untuk mengajak orang – orang membunuh syiah:

https://secondprince.wordpress.com/2015/11/25/abu-jibril-berhujjah-dengan-hadis-dhaif-untuk-menyerukan-membunuh-orang-syiah/

na’udzubillah tsumma na’udzubillah! Jika anda termasuk orang yang demikian, maka saran saya lebih takutlah anda kepada sabda Rasulullah SAW berikut ini:

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” [HR al-Bukhari, No. 6104; HR Muslim, No. 60]

Jika mau direnungkan, sabda Rasulullah SAW tersebut lebih dijamin kebenarannya daripada pendapat sebagian “ulama” yang menganggap kafir kepada orang yang tidak mengangap syiah kafir, yang belum tentu diakhirat terbukti kebenarannya. Jika seandainya apa yang dituduhkan itu ternyata tidak benar, maka siapkah anda jika di akhirat kelak ternyata andalah yang berstatus sebagai kafir murtad, sebagaimana sabda Rasulullah SAW tersebut? Jadi siapkah anda menjadi salah seorang kaum muflisin (bangkrut) karenanya? Jangan pernah menyalahkan takdir Allah jika hal itu terjadi. Maka lebih baik anda berhati – hati untuk tidak langsung ikut – ikutan memvonis kafir apalagi sebelum bertabayyun. Toh, adanya piagam madinah amman message (baca: http://ammanmessage.com) yang didalamnya ditanda tangani oleh lebih dari 500-an ulama di dunia, mereka telah bersepakat bahwa mazhab islam itu terdiri dari 8 yang diakui, yang diantaranya adalah mazhab syiah (imamiyah/itsna asy’ariyyah/ja’fari dan zaydi).

Selain itu, ormas – ormas islam besar di indonesia, seperti NU, Muhammadiyah, FPI ataupun yang lainnya, mereka secara resmi tidak pernah mengeluarkan pernyataan sikap bahwa syiah adalah aliran sesat bahkan kafir. Tetapi jika ada individunya yang bersikap menyesatkan atau mengkafirkan syiah, maka artinya mereka tidak membawa perwakilan resmi atas nama organisasinya tersebut. Hal ini tercermin dari pernyataan sikap para tokoh intinya. Misalnya saja dari ketua umum PBNU: Said Agil Siradj, beliau pernah menyatakan bahwa syiah adalah salah satu bentuk kekayaan dari khazanah pemikiran islam. Begitupun oleh ketua umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, beliau pernah menyatakan bahwa syiah bagian dari islam dan jika ditilik dari sejarah, banyak pemikir, filsuf, ilmuwan muslim di masa lalu berasal dari kalangan syiah. Imam besar FPI Habib Rizieq Syihab-pun demikian, beliau pernah menyatakan bahwa mengkafirkan semua syiah berarti menyerang dan menghancurkan ahlussunnah. Beliau membagi syiah menjadi 3 bagian: 1) Syiah ghulat yang kafir jika menuhankan Ali bin Abi Thalib, 2) Syiah rafidhah yang sesat jika mencaci maki para sahabat. 3) Syiah mu’tadilah yang lurus jika tidak berlaku ghulat dan rafidhah. Syiah mu’tadilah ini menurut beliau tidak hanya berlaku untuk kalangan syiah zaidiyah saja, melainkan juga kepada syiah itsna asy’ariyah/imamiyah (12 imam). Terbukti, karena beliau merupakan salah satu perwakilan dari 500-an ulama di dunia yang ikut menandatangani piagam madinah amman message diatas. Masih banyak lagi para tokoh islam lainnya yang menyatakan sikap bahwa syiah bagian dari islam.

Itu tadi dari indonesia, lantas bagaimana pula dengan pernyataan dari tokoh – tokoh ulama internasional? Kita lihat misalnya saja dari para tokoh besar al-Azhar yang diantaranya: Grand mufti al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayyib, beliau pernah menyampaikan dengan tegas pentingnya persaudaraan sejati dengan kalangan syiah. Mazhab Sunni tidak boleh mengkafirkan kelompok syiah karena perbedaan pendapat, karena menurutnya, mereka adalah saudara muslim. Begitupun Prof. Dr. Ali Jum‘ah yang juga ulama besar al-Azhar Kairo Mesir yang pernah menjabat sebagai Mufti Mesir, dalam kitabnya al-Bayan Lima Yashgal al-Adzhan, beliau memberikan pernyataan sikapnya ini terhadap syiah adalah sebagai berikut:

أما بالنسبة للخلاف بين السنة والشيعة، فهناك اختلافات في أمور فرعية، وإن كانت كثيرة، ولكنْ هناك اتجاه للتقريب بين السنة والشيعة، وهم متفقون على أساس العقيدة، فليست الخلافات بيننا في أساس قضية الإله والرسول والكتاب والإيمان بالغيبيات.

والشيعة يعيشون مع السنة منذ قرون عديدة في المملكة العربية السعودية، وبلاد الخليج والعراق واليمن وباكستان، ولا أظن أن الشيعة يعتقدون أن السنة ليسوا مسلمين، ولا السنة بالطبع يعتقدون أن الشيعة ليسوا مسلمين، كما لا نستطيع أن نقول إنه ليس هناك أية اختلافات وإلا فما سبب اختلاف المذهب إن لم يكن هناك اختلافات

والأزهر هو أقدم مؤسسة علمية تدرس العلم منذ أكثر من ألف عام ـ ويعتبر تابعًا للسنة ـ يدرس فيه المذهب الجعفري والزيدي، ويعدهما من المذاهب الفقهية التي يرجع علماء السنة إليها في استخراج الأحكام.

فنحن نعتقد أن الشيعة جزء من أمة الإسلام لا ينفصل عنها، ولا ينفر منها، وإن ظهر غير ذلك فبسبب سوء فهم بعض الجهلة وغير المتخصصين المتعصبين، أما من طالع العلم وتخصص في دراسة العقيدة والواقع؛ فقد علم أن الإسلام ليس السنة فحسب بل يشمل السنة والشيعة وغيرهم من لا يخرجون عن أصول الإسلام وإن اختلفوا في كثير من فروعه، والله تعالى أعلى وأعلم.

Adapun tentang perbedaan antara Sunni dan Syi‘ah, meski banyak perbedaan dalam perkara furu’, namun terdapat titik temu untuk mendekatkan keduanya yakni mereka bersepakat atas pokok akidah. Perbedaannya bukan pada asas tentang Tuhan, Rasul, kitab, dan iman kepada hal-hal ghaib. Syi‘ah telah hidup bersama Sunni sejak berabad-abad lalu di Kerajaan Saudi Arabia, negara-negara teluk, Irak, Yaman, dan Pakistan. Kami kira Syi‘ah pun tidak meyakini Sunni bukan Islam, begitu juga sebaliknya. Ini bukan berarti tidak ada perbedaan di antara mereka. Jika tidak demikian, lalu apa sebab timbul keragaman mazhab jika bukan karena perbedaan. Al-Azhar merupakan lembaga ilmiah yang telah mempelajari ilmu selama lebih seribu tahun -dengan mengikuti Sunni- yang juga mempelajari mazhab Ja‘fariyyah dan Zaidiyyah serta menganggap keduanya sebagai mazhab fiqih yang dijadikan rujukan ulama Sunni dalam menggali hukum. Maka kami meyakini bahwa Syi‘ah adalah bagian dari umat Islam yang tidak terpisah darinya. Apabila tidak demikian, maka hal itu disebabkan kesalahpahaman sebagian orang-orang jahil yang tak berpendidikan dan fanatik. Adapun mereka yang mempelajari ilmu dan mengikuti studi aqidah dan realitas akan memahami bahwa Islam bukan hanya Sunni, tapi mencakup Sunni, Syi‘ah, dan kelompok lain yang tidak keluar dari pokok-pokok agama Islam meski saling berbeda dalam banyak persoalan furu’. Wallahu Ta‘ala A‘la wa A‘lam. [Ali Jum’ah, al-Bayan Lima Yashgal al-Adzhan, cetakan ke-11, soal ke-17, hal 80]

Lalu ini yang lebih nendang lagi, para pengikut salafi wahabi jaman ini semuanya (atau sebagian besar) mengkafirkan syiah, tapi tak disangkanya ulama besar rujukan salafi wahabi sendiri yang bernama Ibnu Qayyim al-Jauziyah malah menyatakan keislaman syiah. Hal ini telah terbukti dalam kitabnya yang berjudul Ash-Showaaiqul Mursalah A’lal Jahmiyati wal Mua’thilah, jilid 1 & 2 hal 616, cetakan ke-3 1994 M/1418 H Terbitan Daarul Ashimah, beliau menyatakan bahwa syiah benar – benar telah menukil riwayat dari imam Ja’far ash-Shadiq, bukan dari Abdullah bin Saba. Dan beliau mengakui juga bahwa imam Maliki dan imam Hanafi yang merupakan para imam mazhab sunni pernah berguru kepada Imam Ja’far yang notabene adalah Imam ke-6 syiah. Bisa cek kebenarannya disini:

https://www.youtube.com/watch?v=JgZNhAIQQ_8

Dan sebenarnya sejarah awal mula penyebaran dan perkembangan islam di nusantara adalah berawal dari aceh lalu menyebar ke daerah – daerah lainnya, dimana itu ternyata dilakukan oleh para mubaligh islam yang bermazhab syiah. Karena sejarah mencatat bahwa pemerintahan kerajaan Perlak pertama saat itu dipimpin oleh seorang muslim syiah yang bernama Sayyid Abdul Aziz yang bergelar Sultan Alaidddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah pada tahun 225 H/840 M. Silahkan baca catatan sejarah dari Prof. Dr. H. Aboe Bakar Atjeh disini:

Hal tersebut turut dibuktikan dengan adanya tradisi kebudayaan dan keagamaan yang dijalankan oleh pihak muslim nusantara yang banyak diantaranya merupakan pengaruh ajaran dan ritus teologi syiah. Misalnya saja tari saman dan seudati di aceh. Tarian tersebut sebagai simbol kedukaan terhadap pembantaian Husein bin Ali cucu Rasulullah SAW di Karbala oleh Yazid Bin Mu’awiyah. Tepuk dada dalam tarian tersebut adalah kedukaan itu sendiri. Selain itu ada tabut di bengkulu, gerebek sura di yogyakarta dan ponorogo. Begitupun tradisi arak-arakan hayok tabui di pariaman sumatera barat yang digelar setiap muharram sangat kental dengan pengaruh syiahnya. Tradisi tersebut sebagai peringatan tragedi berdarah yang menimpa cucu Rasulullah SAW Sayyidina Husein bin Ali.

Oh ya, saya juga pernah membaca bahwa wali songo yang menyebarkan islam di tanah jawa aslinya adalah syiah yang bertaqiyah dengan bermazhab as-Syafi’i. Menurut penulis buku Atlas Wali Songo yaitu Agus Sunyoto lewat bukti – bukti sejarah beliau mengatakan bahwa keberadaan dan pengaruh syiah telah mengakar di beberapa wilayah nusantara sejak 1400 tahun lampau. Beliau juga mengatakan bahwa sebagian besar dari wali songo adalah ulama syiah, bahkan menurutnya Syekh Maulana Malik Ibrahim, guru dari semua sunan wali songo adalah syiah.

Maka dengan ini, seharusnya kita sangat berterima kasih kepada para mubaligh bermazhab syiah itu, bukan malah menyesatkan bahkan mengkafirkannya, laksana air susu yang dibalas dengan air tuba. Karena atas jasa – jasanya itulah nenek moyang kita beragama islam, sehingga kita yang juga menjadi keturunannya ikut – ikutan dapat merasakan manisnya nikmat iman dan islam sedari awal dilahirkan.

Ada sejumlah hal yang sering diulang – ulang oleh pihak anti syiah untuk menyerang ajaran syiah yang bahkan sebagiannya terbukti hanyalah fitnah belaka. 12 hal itu diantaranya telah coba saya rangkum disini. Berikut ini pemaparannya:

  1. Lafal Syahadat & Adzan syiah

Jika anda pernah membaca syahadatnya syiah yang kalimatnya lebih dari 3, dengan tambahan isinya melaknat kepada para sahabat dan istri nabi, maka itu adalah syahadat syiah yang dipalsukan, karena dalam syahadat syiah yang pernah ada hanya terdapat 3 kalimat saja, yakni dengan penambahan Ali sebagai wali Allah (wa ‘Aliyyan waliyullah), itupun dinyatakan sebagai bid‘ah menurut jumhur ulama syiahnya sendiri. Adapun kalimat syahadat yang dijadikan rujukan oleh syiah adalah sebagaimana yang telah disetujui oleh ijma’ seluruh muslim, yakni hanya terdapat 2 kalimat diawal saja. Begitupun halnya dalam penyebutan Ali sebagai wali Allah pada kumandang adzan dan iqamat [Kitab Wasail al-Syiah Bab 19 tentang adzan dan iqamah], tapi kalaupun dibenarkan, hukum penambahan kalimat tersebut disamakan dengan hukum pendengar adzan bershalawat ketika mendengar kata Muhammad disebutkan dalam syahadat [Tahrir Al Wasilah Bab Adzan dan Iqamah], sedangkan yang benar adalah menyebut Hayya ‘Al-khair al-amal, karena pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW, tapi kemudian dihilangkan penyebutannya pada adzan oleh Umar bin Khattab ketika beliau menjadi khalifah. Hal ini turut terbukti juga dari sejumlah riwayat referensi sunni sendiri, misalnya:

١٩٩١- أخبرنا أبو عبد الله الحافظ وأ بو سعيد بن أبي عمرو قالا ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا يحيى بن أبي طالب ثنا عبد الوهاب بن عطاء ثنا مالك بن أنس عن نافع قال : كان بن عمر يكبر في النداء ثلاثا ويشهد ثلاثا وكان أحيانا إذا قال حي على الفلاح قال على أثرها حي على خير العمل…

Dengan sanad sampai kepada Nafi’ yang berkata bahwa Ibn ‘Umar… biasanya jika telah mengucapkan hayya ‘alal falah (dalam adzan) maka setelahnya ia mengucapkan hayya ‘ala khairil ‘amal…” [Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, jilid 1, hal 792, no 1991-1992]

١٩٩٣ – وأخبرنا محمد بن عبد الله الحافظ أنا أبو بكر بن إسحاق ثنا بشر بن موسى ثنا موسى بن داود ثنا حاتم بن إسماعيل عن جعفر بن محمد عن أبيه أن علي بن الحسين كان يقول في أذانه : إذا قال حي على الفلاح قال حي على خير العمل ويقول هو الأذان الأول

..Ali bin Husain berkata terkait adzan:Jika telah mengucapkan hayya alal falah, ucapkanlah hayya ala khairil amal. Inilah adzan di masa awal.” [Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, jilid 1, hal 793, no 1993, muhaqqiq Manshur Abd al-Hamid]

Terkait 3 kalimat syahadat walaupun dianggap sebagai bid’ah, izinkanlah saya sedikit memberikan pembelaan, sekedar untuk mengemukakan argumentasi saja. Rasulullah SAW memang tidak pernah menyatakan 3 kalimat syahadat, tapi pernah menyatakannya bahkan lebih dari 3 kalimat seperti yang disebutkan pada hadits oleh riwayat Ubadah bin Shamit ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

Barang siapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga dan neraka itu benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” [HR Muslim, No. 149]

Oleh karena hadits tersebut, maka dapat dibenarkan menambahkan 1 atau sejumlah kalimat syahadat yang lain jika kontennya adalah benar. Seperti contohnya menambahkan bahwa al-Qur’an adalah kitabullah. Nah, begitupun dengan sebagian pihak syiah yang berpendapat bolehnya menambah 3 kalimat syahadat, dengan tambahan “Ali adalah Wali Allah”, karena kontennya memang benar bahwa Ali adalah wali Allah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

إن عليا مني وأنا منه وهو ولي كل مؤمن بعدي

Sesungguhnya Ali dariku dan aku dari Ali. Ali adalah wali/pemimpin setiap mukmin sesudahku” [Musnad Abu Dawud, jilid 3, hal 111, no 829; Musnad Abu Dawud ath-Thayalisi 1/111, no 829; Musnad Abu Ya’la 1/293, no 355, Shahih Ibnu Hibban, 15/373, no 6929, Mu’jam al-Kabir, ath-Thabrani, 18/128; Shahih Tirmidzi, jilid 5, hal 236, 296; Shahih Ibn Habban, jilid 1, hal 383; Mustadrak al-Hakim, Ma’rifah Ash-Shahabah, jilid 3, hal 110,119; Sunan al-Nasai jilid 5, hal 132, no 8474; Musnad Ahmad, jilid 4, hal 437, No 19426 (No. 3062, 3063)]

Penyebutan Ali sebagai wali Allah juga ada dalam lantunan syair imam Syafi’i:

قَالُوْا تَرَفَّضْتَ قُلْتُ : كَـــلاَّ *** مَا الرَّفْضُ دِيْنِيْ وَلاَ إِعْتِقَادِيْ

لَكِنْ تَوَلَّيْتُ غَيْرَ شَــــكِّ *** خَيْرَ إِمَامٍ وَخَيْرَ هـَـادِي

إِنْ كاَنَ حُبُّ الْوَلِيّ رّفْضاً *** فَإِنَّ رَفْضِيْ إِلَى اْلعِبَــــادِ

Mereka berkata: ‘Engkau menjadi Syiah Rafidhah.’ Aku berkata: ‘Sekali-kali tidak! Rafidhah bukanlah agama dan keyakinanku. Akan tetapi aku berwala (meyakini sebagai wali) tanpa ragu-ragu kepada sebaik-baik imam dan sebaik-baik pemberi petunjuk. Jika kecintaanku kepada Wali itu yang disebut rafdh (menolak) Maka sifat penolakanku itu aku tujukan kepada para hamba (yang telah menuduhku).” [Diwan al-Imam al-Syafi’i, 58]

Perhatikan syair imam Syafi’i diatas, syair tersebut ditunjukkan khusus kepada Ali bin abi Thalib. Beliau tidak hanya menyatakan sikapnya untuk berwala atau meyakini Ali bin abi Thalib sebagai wali saja, akan tetapi lebih jauh lagi, beliau lebih mengutamakan Ali dibandingkan siapapun juga dengan menyatakan bahwa Ali adalah sebaik – baiknya imam dan sebaik – baiknya pula pemberi petunjuk kepada kebenaran. Selain itu, lantunan syair diatas juga secara tidak langsung telah membantah tuduhan dusta dari pihak anti syiah yang menggenerelisir bahwa imam Syafi’i  telah memvonis semua syiah adalah sesat, sekalipun syiah yang hanya sekedar mengutamakan Ali bin Abi Thalib diatas para sahabat nabi lainnya.

Ibnu Hajar berbeda sendiri dengan para ulama lainnya dalam mengartikan istilah rafidhah. Jika para ulama lainnya mengartikan  rafidhah sebagai aliran syiah yang melaknat para sahabat nabi, maka ibnu Hajar yang dalam kitabnya Hady as-Sari Muqaddimah Fathil Bari, 1/460 mengartikan bahwa rafidhah artinya orang – orang yang mengutamakan Ali bin Abi Thalib diatas para sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tentu saja hal tersebut bergesekan dengan pandangan imam syafi’i pada lantunan syairnya diatas yang lebih mengutamakan Ali bin abi Thalib. Bukan hanya imam Syafi’i saja, karena Ibn ‘Abd Al-Barr, seorang ulama hadits Sunni ketika membahas biografi Ali bin Abi Thalib didalam kitabnya, ia berkata:

وروى عن سلمان وأبى ذر والمقداد وخباب وجابر وأبى سعيد الخدرى وزيد بن الأرقم أن على بن ابى طالب رضى الله عنه أول من أسلم وفضله هؤلاء على غيره

Diriwayatkan dari Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khabbab, Jabir, Abu Sa’id Al Khudri dan Zaid bin Al-Arqam bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang pertama masuk Islam dan mereka mengutamakan ‘Ali dibanding (sahabat) yang lain.” [Ibn ‘Abd al-Barr, al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Shahabah, tahqiq: Muhammad ‘Ali al-Bajawi, hal 1090, No 1855]

Selain itu, ketika Ibn ‘Abd Al-Barr membahas biografi sahabat pada no. 3054 yang bernama Amir bin Watsilah dengan kuniyah Abu Thufail, ia berkata pada hal 1697 bahwa Abu Thufail seorang yang bertasyayyu (mengutamakan Ali di atas syaikhain: Abu Bakar dan Umar). Maka jika anda lebih memilih pengertian istilah rafidhah versi ibnu Hajar tersebut, artinya andapun harus mau menganggap bahwa imam Syafi’i, juga sejumlah sahabat seperti Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khabbab, Jabir, Abu Sa’id Al-Khudri, Zaid bin Al-Arqam, dan Abu Thufail adalah seorang rafidhah, berani?! Maka artinya ada juga golongan sunni rafidhah!

Jadi jika anda masih tetap bersikukuh bahwa menambahkan lebih dari 2 kalimat syahadat adalah salah, sedangkan saya mempunyai dalil yang kuat dalam hal tersebut, maka adakah anda mempunyai bantahan dari dalil larangannya?

 

  1. Shalatnya syiah

Tata cara shalat dalam tiap mazhab itu berbeda – beda, bukan hanya terjadi diantara pihak sunni dan syiah saja, melainkan sesama sunnipun demikian adanya. Jika dalam shalat syiah tidak bersedekap, maka begitu pula dengan mazhab Maliki. Imam Malik berhujjah dengan amalan penduduk Madinah yang kala itu mereka shalat tidak bersedekap. Menurutnya, amalan penduduk Madinah tersebut lebih layak untuk diikuti karena mereka adalah ahli waris sunnah tradisi generasi masa Rasulullah SAW, sehingga kedudukannnya lebih kuat dari hadits ahad yang mengharuskan shalat bersedekap. Untuk perinciannya bisa dibaca dalam kitab Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik li Ma’rifah A’lam Madzhab Malik karya Qadhi ‘Iyadh. Nah, hal tersebut juga senada pada atsar salafush shalih berikut ini:

وحدثني عبد الرحمن بن إبراهيم عن عبد الله بن يحيى المعافري عن حيوة عن بكر بن عمرو أنه لم ير أبا أمامة – يعني ابن سهل – واضعا إحدى يديه على الأخرى قط، ولا أحدا من أهل المدينة، حتى قدم الشام، فرأى الأوزاعي، وناسا يضعونه

“…dari Bakr bin ‘Amru bahwa ia tidak melihat Abu Umamah (yaitu Ibnu Sahl) meletakkan tangan yang satu di atas tangan yang lain (bersedekap) dan tidak pula ia melihat seorangpun dari penduduk Madinah yang melakukannya, sampai ia datang ke Syam maka ia melihat Al-Auza’i dan orang-orang melakukan sedekap.” [‘Abd al-Rahman bin ‘Amru bin ‘Abd Allah bin Shafwan al-Nashri, Tarikh Abi Zur’ah al-Dimasyqi, tahqiq: Khalil al-Manshur, no 1785, hal 319]

Bahkan ternyata ada juga hadits referensi sunni yang mencela shalat bersedekap:

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو معاوية ثنا الأعمش عن مسيب بن رافع عن تميم بن طرفة عن جابر بن سمرة قال: خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم فقال ما لي أراكم رافعي أيديكم كأنها أذناب خيل شمس أسكنوا في الصلاة

Jabir bin Samara berkata: ‘Rasulullah saw keluar mendekati kami dan berkata ’Kenapa kau melipat tanganmu (bersedekap) seperti tali kuda, kau harus menurunkannya dalam shalat’“ [musnad Ahmad bin Hanbal, Juz 5, hal 93]

Kemudian perbedaan terkait qunutnya. Jika di sunni, melakukan qunut itu setelah ruku’ dalam shalat, tapi jika di syiah, melakukan qunut itu sebelum ruku’. Beberapa pihak merasa aneh bahkan menyesatkan cara shalat syiah tersebut, padahal dari referensi sunni sendiri shahih ada juga yang demikian. Misalnya saja:

حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع بن الجراح قال حدثنا سفيان عن مخارق عن طارق بن شهاب أنه صلى خلف عمر بن الخطاب الفجر فلما فرغ من القراءة كبر ثم قنت ثم كبر ثم ركع

Dengan sanad yang sampai kepada Thariq bin Syihab bahwasanya ia shalat shubuh di belakang ‘Umar bin Khattab. Ketika ‘Umar selesai membaca (surah), ia bertakbir kemudian melakukan qunut, kemudian takbir untuk ruku’.” [Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, tahqiq: Abi Muhammad Usamah bin Ibrahim – berkata: ‘sanad shahih’ (Kairo: al-Faruq al-Haditsiyyah, 1429 H), juz 3, No. 7107, hal 242]

عبد الرزاق عن جعفر عن عوف قال حدثني أبو رجاء العطاردي قال صلى بنا بن عباس صلاة الغداة في إمارته على البصرة فقنت قبل الركوع

Dengan sanad sampai kepada Abu Raja’ Al-‘Utharidi yang berkata: Kami shalat subuh bersama Ibn ‘Abbas pada masa kepemimpinannya di Bashrah, ia melakukan qunut sebelum ruku’.” [Abi Bakr Abd al-Razaq bin Hammam al-Shan’ani, al-Mushannaf, tahqiq: Habib al-Rahman al-A’zhami, juz 3, No. 4973, hal 113, NB: sanadnya shahih sampai Ibn Abbas karena semua perawinya tsiqah]

حدثنا ابن المثنى قال: حدثنا محمد قال: حدثنا شعبة، عن يزيد ابن أبي زياد قال: حدثنا أشياخ من الأسد: أنهم شهدوا عليا رضي الله عنه صلى الصبح فقنت قبل الركوع.

Dengan sanad yang sampai kepada Asyyakh dari Al-Asd bahwasanya mereka menyaksikan Ali radhiyallahu anhu melaksanakan shalat shubuh, lalu qunut sebelum ruku.” [Abu Ja’far al-Thabari, Tahdzib al-Atsar, jilid 5, hal 361, no 622]

حدثنا حميد بن مسعدة السامي، قال: حدثنا شر بن المفضل، قال: حدثنا الجريري، عن بريد بن أبي مريم السلولي، قال: صليت مع أنس بن مالك صلاة الغداة فقنت قبل الركوع.

Dengan sanad yang sampai kepada Buraid bin Abi Maryam Al-Saluli yang berkata: Aku shalat shubuh bersama Anas bin Malik, lalu qunut sebelum ruku.” [Abu Ja’far Al-Thabari, Tahdzib Al-Atsar, jilid 5, hal 362, no 624]

Jadi jika ada pihak sunni yang menyesatkan syiah karena posisi qunutnya berbeda, maka secara tidak langsung dia juga telah menyesatkan para sahabat nabi yang melakukan qunut sebelum ruku’, yakni Umar, Ibnu Abbas, Ali, Anas dan lainnya.

Kemudian sujud dalam shalat syiah diwajibkan menyentuh tanah atau sesuatu apapun yang berasal dari bumi, dengan catatan itu tidak digunakan sebagai pakaian atau makanan, seperti misalnya pada batu, daun, kertas, kerikil, dan lain – lain. Hal ini juga tidak luput dianggap sesat, padahal dalam sumber referensi sunni sendiri hal tersebut adalah positif dan disunnahkan. Misalnya saja:

عن وائل قال: رأيت النبي صلى الله عليه واله وسلم إذا سجد و ضع جبهتة وأنفه على الارض

Dari Wail berkata: ‘Aku melihat Nabi SAW apabila beliau sujud, beliau meletakkan dahi dan hidungnya di atas tanah.’” [Ahkamul Qur ‘an lil Jash Shah, juz 3, hal 36; Musnad Ahmad Bin Hanbal, juz 4, hal 315]

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا حِذَاءَهُ وَأَنَا حَائِضٌ وَرُبَّمَا أَصَابَنِي ثَوْبُهُ إِذَا سَجَدَ قَالَتْ وَكَانَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ

Pernah Rasulullah SAW shalat sementara aku berada di sampingnya, dan saat itu aku sedang haid. Dan setiapkali beliau sujud, pakaian beliau mengenai aku. Dan beliau shalat di atas khumroh (tikar yang terbuat dari daun pohon kurma sebesar wajah).” [HR Bukhari, No. 366, 368; Musnad Ahmad, juz 2, hal 92; juz 1, hal 269/309/29/358; Sunan Tirmidzi, juz 2, hal 151]

عن أنس بن مالك قال: آنا نصلي مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في شدة الحر فيأخذ أحدنا الحصباء في يده، فإذا بردت وضعها و سجد عليها

Dari Anas bin Malik berkata: ‘Kami shalat bersama Rasulullah SAW di musim yang sangat panas, salah satu dari kami mengambil kerikil lalu diletakkan di tangannya, jika kerikilnya sudah dingin, kerikil itu diletakkan dan dipakai untuk sujud di atasnya.’” [Sunan Baihaqi, juz 2, hal 105; Nailul authar juz 2, hal 268]

Selain itu, pihak syiah mengutamakan tanah karbala tempat terbunuhnya Husein bin Ali untuk sujud shalat mereka. Hal ini juga tidak luput dianggap sesat, padahal jika mau dicari, dalam sumber referensi sunni sendiri terdapat keutamaan tanah karbala, bahkan jauh sebelum Husein bin Ali terbuhuh disana. Ini buktinya:

إِنَّ أُمَّتَكَ سَتَقْتُلُ هَذَا بِأَرْضٍ يُقَالُ لَهَا : كَرْبَلاءُ ” ، فَتَنَاوَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ مِنْ تُرْبَتِهَا ، فَأَرَاهَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sesungguhnya keturunan anda ini (Husein ra) akan dibunuh di bumi yang bernama Karbala. Maka Jibril as mengambil sebagian tanahnya dan Nabi-pun melihatnya.” [HR. Thabrani, al-mu’jam al-Kabir, 3/182, Sanadnya Shahih]

Ada hal yang menarik dalam perihal shalat syiah ini, khususnya setelah mengucapkan salam mereka mengangkat kedua tangannya sebanyak 3 kali. Hal ini oleh pihak anti syiah diisukan sebagai metode laknat dan caci maki kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman, dengan masing – masing gerakan tangan melaknat 3 Khalifah tersebut. Ada lagi setelah itu mereka diisukan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri lalu berkata “khanal Amin” (Jibril telah berkhianat). Semua itu hanyalah kedustaan yang diada – adakan saja tanpa dasar, karena dalam shalat syiah setelah berakhir dengan mengucapkan salam, mereka mengangkat kedua tangannya seraya hanya membaca takbir “Allahu Akbar” saja sebanyak 3 kali. Berikut ini bukti – buktinya:

Ali bin Abi Thalib berkata:

فإذا سلمت رفعت یدیك وكبرت ثلاثا

Jika engkau telah mengucapkan salam, maka angkat tanganmu dan bertakbirlah tiga kali.” [Man la Yahdhurul Faqih, Juz 1, hal 320]

Ulama syiah faqih terkemuka, misalnya Ibn Idris al-Hilli berkata:

ویستحب بعد التسلیم والخروج من الصلاة أن یكبر وهو جالس ثلاث تكبیرات

Disunahkan setelah salam dan keluar dari shalat untuk bertakbir tiga kali dalam keadaan duduk.” [Ibn idris al-Hilli, Sarair, hal 232]

Syaikh Thusi berkata:

فإذا انصرف من صلاته يستحب له أن يقول قبل قيامه من مصلاه: ” الله أكبر ” ثلاث مرات يرفع بها يديه إلى شحمتي أذنيه، ثم يقول: ” لا إله إلا الله إلها واحدا، ونحن له مسلمون. لا إله إلا الله، لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون.

Ketika selesai melaksnakan shalat, disunnahkan sebelum berdiri mengucapkan: Allahu Akbar (takbir) 3 kali dan mengangkat tangannya sampai daun telinganya. Kemudian mengucapkan: la ilaha illallah, la na’budu illa iyyah mukhlishina lahu al-din walau kariha al-kafirun” [Syaikh al-Thusi, al-Nihayah, Bab Ta’qib, hal 84]

Ayatullah Sayyid Kamal Haidari berkata:

التعقيبوهو الاشتغال بعد الفراغ من الصلاة بالذكر والدعاء والقرأن، ومنه: أن يكبر ثلاثاً بعد الفراغ من التسليم رافعا يديه إلى وجهه

Ta’qib adalah melakukan dzikir, doa dan bacaan al-qur’an setelah selesai shalat. Diantaranya: disunnahkan bertakbir 3x setelah salam, dan mengangkat tangannya sampai ke wajah..” [Kamal Haidari, Minhaj al-Shalihin, hal 144]

Tidak ketinggalan ada juga dari hadits referensi sunni, Rasulullah SAW bersabda:

مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا بِالتَّكْبِيرِ

Tidaklah kami mengetahui selesainya shalat Rasulullah SAW kecuali dengan takbir.” [Bukhari & Muslim, dikutip oleh Ibnu Hazm, al-Muhalla, 4/260]

Selengkapnya terkait bertakbir 3 kali setelah salam shalat pada hadits sunni, bahkan hal tersebut bukan lagi sunnah seperti di syiah, tapi sudah jadi kewajiban:

https://www.atsar.id/2015/10/bertakbir-3x-setelah-selesai-salam-dari.html

Tidak hanya dalam cara shalat saja, bahkan mazhab hanafi menyatakan bahwa shalat fardhu bukan hanya 5 waktu saja, akan tetapi 6 waktu dengan witir.

https://risalahrasul.wordpress.com/2008/09/19/apakah-sholat-witir-wajib/

Begitupun dengan shalatnya syiah dapat dilakukan secara jamak dalam 3 waktu saja tanpa adanya rukhshah dan udzur syar’i karena adanya waktu musytarak (penggabungan) yang mana ini juga ada sumbernya dari hadits sunni:

وحدثني أبو الربيع الزهراني حدثنا حماد عن الزبير بن الخريت عن عبدالله بن شقيق قال خطبنا ابن عباس يوما بعد العصر حتى غربت الشمس وبدت النجوم وجعل الناس يقولون الصلاة الصلاة قال فجاءه رجل من بني تميم لا يفتر ولا ينثني الصلاة الصلاة فقال ابن عباس أتعلمني بالسنة ؟ لا أم لك ثم قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم جمع بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء قال عبدالله بن شقيق فحاك في صدري من ذلك شيء فأتيت أبا هريرة فسألته فصدق مقالته

“Telah menceritakan kepada kami Abu Rabii’ Az Zahraaniy, telah menceritakan kepada kami Hammaad dari Zubair bin Khirriit dari ‘Abdullah bin Syaqiiq yang berkata: “Ibnu ‘Abbas berkhutbah kepada kami pada suatu hari setelah Ashar sampai terbenamnya matahari dan nampak bintang-bintang maka orang – orang pun mulai menyerukan “shalat shalat”. Kemudian datang seorang dari Bani Tamim yang tidak henti-hentinya menyerukan “shalat shalat”. Maka Ibnu ‘Abbas berkata “engkau ingin mengajariku Sunnah? Celakalah engkau, kemudian Ibnu ‘Abbas berkata “aku telah melihat Rasulullah [SAW] menjama’ shalat Zhuhur Ashar dan Maghrib Isyaa’. ‘Abdullah bin Syaqiiq berkata “dalam hatiku muncul sesuatu yang mengganjal, maka aku mendatangi Abu Hurairah dan bertanya kepadanya, maka ia membenarkan ucapannya” [Shahih Muslim 1/490 no 705]

حدثنا موسى بن هارون ثنا داود بن عمرو الضبي ثنا محمد بن مسلم الطائفي عن عمرو بن دينار عن جابر بن زيد عن ابن عباس قال : صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم ثمان ركعات جميعا وسبع ركعات جميعا من غير مرض ولا علة

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang darinya berkata Dawud bin ‘Amru adhDhabiy yang darinya berkata Muhammad bin Muslim athTha’ifiy dari Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW shalat delapan rakaat sekaligus dan tujuh raka’at sekaligus bukan karena sakit dan tanpa sebab tertentu (udzur).” [Mu’jam al-Kabir, 12/177, No. 12807]

و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ وَعَوْنُ بْنُ سَلَّامٍ جَمِيعًا عَنْ زُهَيْرٍ قَالَ ابْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ فَسَأَلْتُ سَعِيدًا لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَمَا سَأَلْتَنِي فَقَالَ أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ

“Dan telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Yunus] dan [‘Aun bin Salam] semuanya dari [Zuhair]. [Ibnu Yunus] mengatakan; telah menceritakan kepada kami [Zuhair] telah menceritakan kepada kami [Abu Zubair] dari [Said bin Jubair] dari [Ibnu Abbas] katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus di Madinah bukan karena takut dan bukan pula karena safar.” [Abu Zubair] mengatakan; “Aku bertanya kepada [Sa’id]; “Mengapa beliau melakukan hal itu? Dia menjawab; Aku bertanya kepada [Ibnu Abbas] sebagaimana kamu bertanya kepadaku, lalu dia menjawab; “Beliau ingin supaya tidak merepotkan (memberatkan) seorangpun dari umatnya” [HR Muslim, Shahih, No 1147 (1/489 No 705); Musnad Ahmad jilid 3 No 2557 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Abbas pada hadits shahih muslim di urutan teratas, apakah menurut anda berkhutbah termasuk pada perkara darurat sehingga tidak dapat diberhentikan sejenak? Tidak, justru begitu mudah! Jadi jika anda menganggap bahwa shalat jamak yang dilakukan oleh syiah tersebut telah mempermainkan syari’at atau karena lalai, maka beranikah anda juga menuduh Ibnu Abbas dan yang lainnya juga telah berlaku demikian? Maka bersikap adillah!

Begitupun dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa waktu shalat hanya 3 waktu saja:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ

Dirikanlah shalat itu dari ketika matahari tergelincir (Dzuhur & Ashar), lalu digelap malam (Maghrib & Isya) dan di waktu subuh” [QS. al-Israa, ayat 78]

 

  1. Nikah mut’ah

Menurut pihak syiah, nikah mut’ah itu dihalalkan oleh Rasulullah SAW, bahkan sampai beliau wafatpun status hukumnya masih tetap halal. Namun beberapa waktu kemudian akhirnya nikah mut’ah resmi diharamkan ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah. Hal ini masyhur bukan hanya pada referensi syiah saja, tapi dari referensi sunni pun ada, sehingga hal tersebut sebenarnya harus diakui sebagai perkara khilafiyah oleh pihak sunni sendiri. Berikut ini buktinya:

Ibn Katsir  menjelaskan: “Bukhari mengatakan bahwa Umar telah melarang setiap orang untuk melakukan nikah mut’ah”. [ Tafsir Ibn Katsir, V1, hal 233]

Imam as-Suyuthi menjelaskan: ‘Umar adalah orang pertama yang telah mengharamkan nikah mut’ah. [Jalaluddin al-Suyuthi, Tarikh al-khulafa, hal 137]

Umar bin Khaththab, ra mengatakan:

مُتْعَتانِ كانَتَا على عَهْدِ رَسُول ِاللهِ أنا أَنْهَى عَنْهُما وَ أُعاقِبُ عليهِما : مُتْعَةُ الحج و متعة النِّسَاءِ.

Ada dua bentuk mut’ah yang keduanya berlaku di jaman Rasulullah saw, tapi aku melarang keduannya dan menetepkan sanksi atas (yang melaksanakan) keduanya, yaitu haji tamattu’ dan nikah mut’ah.” [Tafsir al-Razi, 10,50; al-Jashshash, Ahkam al-Qur’an, 2,152; al-Qurthubi, Jami’ Ahkam al-Qur’an, 2,270; Ibnu Qayyim, Zaad al-Ma’ad, 1,444; al-Sarakhsi al-Hanafi, al-Mabsuuth, kitab al-Haj, bab al-Qur’an dan ia mensahihkannya; Ibnu Qudamah, al-Mughni, 7,527; Ibnu Hazam, al-Muhalla, 7,107; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, 8,293- 294; al-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Akhbaar, 374; Sunan al-Baihaqi, 7,206]

Ali bin Abi Thalib, ra mengatakan:

,لَوْ لاَ أَنَّ عُمر نَهَى الناسَ عَنِ المُتْعَةِ ما زَنَى إلاَّ شَقِيٌّ.

”Sekiranya Umar tidak melarang nikah mut’ah niscaya tidak seorang pun berzina melainkan orang yang celaka.” [Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, 10,51 (III, hal 200); al-Tabari, Tafsir, V, hal. 9; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hal 140; Kanz al-Ummal, 8, 294] Perkataan Ali ini ditujukan untuk membantah tuduhan bahwa dirinya melarang nikah mut’ah dengan memansuhkan QS al-Nisa ayat 24.

Ibnu Abbas, ra mengatakan:

ما كانَتْ المُتْعَةُ إلاَّ رَحْمَةً رَحِمَ اللهُ بِها أُمَّةَ محمد (ص)، لَوْ لاَ نَهْيُهُ (عمر) ما احْتاجَ إلى الزنا إلاَّ شقِي

Tiada lain mut’ah itu adalah rahmat, dengannya Allah merahmati umat Muhammad SAW, andai bukan karena larangan Umar maka tiada yang berzina kecuali orang yang celaka.” [Ibnu Atsir, Nihayah; al-Jassas, al-Ahkam al-Qur’an, II, hal 179; al-Zamakhshari, al-Fa’iq, I, hal 331; al-Qurtubi, Tafsir, V, hal 130] Perkataan Ibnu Abbas ini sebagai bukti ketidakbenaran berita atas isu bahwa dirinya telah bertaubat dan mencabut fatwanya tentang halalnya nikah mut’ah.

Jabir bin Abdullah mengatakan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ تَمَتَّعْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتْعَتَيْنِ الْحَجَّ وَالنِّسَاءَ وَقَدْ قَالَ حَمَّادٌ أَيْضًا مُتْعَةَ الْحَجِّ وَمُتْعَةَ النِّسَاءِ فَلَمَّا كَانَ عُمَرُ نَهَانَا عَنْهُمَا فَانْتَهَيْنَا

“Kami pada masa Rasulillah SAW, pernah melakukan dua macam mut’ah, mut’ah haji dan mut’ah wanita. Dan Hammad juga berkata: ‘mut’ah haji dan mut’ah wanita’. Maka sewaktu pemerintahan Umar, beliau melarang keduanya dan kami mematuhinya” [Shahih Muslim, Jilid 8, No. 3249; Ibn Hajar, Fatih al-Bari, IX, hal 41; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VIII, hal 294]

قَدِمَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ مُعْتَمِرًا فَجِئْنَاهُ فِي مَنْزِلِهِ فَسَأَلَهُ الْقَوْمُ عَنْ أَشْيَاءَ ثُمَّ ذَكَرُوا الْمُتْعَةَ فَقَالَ نَعَمْ اسْتَمْتَعْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

 “Jabir bin Abdullah telah mendatangi suatu kunjungan, maka kami menemui dia di tempatnya, dan suatu kaum bertanya kepadanya tentang berbagai macam (persoalan) sampai mereka menyebut (menanyakan) mut’ah, maka dia (Jabir bin Abdullah) berkata: ‘benar, kami melakukan mut’ah pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar’.[Shahih Muslim No. 2496, 2/1022 no 15 (1405)]

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا كُنَّا نَسْتَمْتِعُ بِالْقَبْضَةِ مِنْ التَّمْرِ وَالدَّقِيقِ الْأَيَّامَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ حَتَّى نَهَى عَنْهُ عُمَرُ فِي شَأْنِ عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ

Diriwayatkan dari Muhammad bin Raafi, dari Abdurrazzaaq, dari Ibnu Juraij, dari Abu al-Zubair yang berkata: Berkata Jabir bin Abdullah: ‘Kami dulu melakukan kawin mut’ah dengan mas kawin segenggam kurma atau tepung (makanan pokok orang Arab adalah roti) di masa Rasulullah saw dan di masa Abu Bakar sampai dilarang oleh Umar (di waktu dia menjadi khalifah) dalam peristiwa Amru bin Huraits.’” [HR Shahih Muslim, No. 2497]

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عِمْرَانَ أَبِى بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رضى الله عنهما – قَالَ أُنْزِلَتْ آيَةُ الْمُتْعَةِ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَفَعَلْنَاهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَلَمْ يُنْزَلْ قُرْآنٌ يُحَرِّمُهُ ، وَلَمْ يَنْهَ عَنْهَا حَتَّى مَاتَ قَالَ رَجُلٌ بِرَأْيِهِ مَا شَاءَ

Diriwayatkan kepada kami darii Musaddad, dari Yahya, dari Imraan Abu Bakr dari Abu Rajaa dari Imraan bin Hushain ra dia berkata: ‘Telah diturunkan ayat mut’ah dalam Kitabullah dan kamipun melakukannya di jaman Nabi saw, dan tidak turun satu ayatpun menghapusnya/mengharamkannya, dan tidak pula Nabi saw melarangnya hingga beliau wafat. Tapi kemudian ada satu lelaki yang berkata sesuai kehendaknya (maksudnya Umar yang terang – terangan mengharamkan nikah mut’ah ini.’” [HR Shahih Bukhari, No. 4518]

jika nikah mut’ah adalah zina, maka Jabir dan para sahabat lainnya telah berbuat zina dan menghalalkan zina. Hal ini adalah jelas pelecehan terhadap martabat para sahabat nabi. Begitupun Ibnu Juraij (w.150 H) seorang Tabi’in dan imam masjid mekkah yang juga telah meriwayatkan banyak hadits shahih sunni seperti Bukhari, Muslim dan lain – lain, berpendapat bahwa nikah mut’ah adalah mubah (boleh). Imam Syafi’i & ad-Dhahabi menegaskan bahwa Ibnu Juraij telah menikah mut’ah oleh sebanyak 90 orang wanita. [Ibnu Hajar, Tadhib al-Tahdhib, VI, hal 408]

Jadi, karena para sahabat ada yang menghalalkan bahkan mengamalkan nikah mut’ah sepeninggal Rasulullah SAW, maka apakah ini berarti menurut anda mereka telah berani mengamalkan bahkan menghalalkan zina?! Pikirkanlah dulu.

Tidak hanya pada hadits, dalil nikah mut’ah juga terdapat pada al-Qur’an:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dinikahi bukan untuk berzina. Maka wanita (istri) yang telah kamu nikmati (istamta’tum) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS an-Nisa, ayat 24]

Telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa penggalan An-Nisa ayat 24 ini berbicara tentang nikah mut’ah. Misalnya saja:

حدثنا ابن المثنى قال حدثنا محمد بن جعفر قال حدثنا شعبة عن أبي مسلمة عن أبي نضرة قال قرأت هذه الآية على ابن عباس “ فما استمتعتم به منهن ” قال ابن عباس “ إلى أجل مسمى ” قال قلت ما أقرؤها كذلك! قال والله لأنزلها الله كذلك! ثلاث مرات

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Maslamah dari Abi Nadhrah yang berkata: ‘aku membacakan ayat ini kepada Ibnu Abbas ‘maka wanita yang kamu nikmati [istamta’tum]’, Ibnu Abbas berkata: ‘sampai batas waktu tertentu’. Aku berkata: ‘aku tidak membacanya seperti itu’. Ibnu Abbas berkata: ‘demi Allah, Allah telah mewahyukannya seperti itu’ (ia mengulangnya tiga kali).” [Tafsir ath-Thabari, 6/587, tahqiq Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turqi; al-Hakim, al-Mustadrak, juz 2, no 3192; Ibnu abi Dawud, al-Masahif, no 185. sanadnya shahih]

Ada syubhat bahwa QS an-Nisa ayat 24 diatas tidak tepat jika kata istimtaa’ diartikan sebagai mut’ah, padahal para sahabat sendiri biasanya menggunakan kata istimtaa’ itu untuk menyebutkan nikah mut’ah. Beberapa bukti diantaranya:

حدثنا عمرو بن علي قال نا يحيى بن سعيد عن إسماعيل عن قيس عن عبد الله قال كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وليس معنا نساء فاستأذنه بعضنا أن يستخصي أو قال لو أذنت لنا لاختصينا فلم يرخص لنا ورخص لنا في الاستمتاع بالثوب

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ismail dari Qais dari Abdullah yang berkata: ‘kami berperang bersama Rasulullah SAW dan kami tidak membawa wanita maka sebagian kami meminta zini untuk mengebiri atau berkata sekiranya diizinkan kepada kami untuk mengebiri maka Rasulullah SAW tidak mengizinkan kami dan Beliau mengizinkan kami untuk Istimtaa dengan pakaian.’” [Musnad Al Bazzar 5/294 no 1671 dengan sanad yang shahih]

Apakah maksud dari kata istimtaa’ dengan pakaian diatas? Berikut penjelasannya:

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا وكيع عن بن أبي خالد عن قيس عن عبد الله قال كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم ونحن شباب فقلنا يا رسول الله ألا نستخصي فنهانا ثم رخص لنا في ان ننكح المرأة بالثوب إلى الأجل ثم قرأ عبد الله { لا تحرموا طيبات ما أحل الله لكم }

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki dari Ibnu Abi Khalid dari Qais dari Abdullah yang berkata: ‘kami bersama Nabi SAW dan kami masih muda, kami berkata: ‘wahai Rasulullah SAW tidakkah kami dikebiri? Beliau melarang kami melakukannya kemudian Beliau memberi keringanan kepada kami untuk menikahi wanita dengan pakaian sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Abdullah membaca (Al Maidah ayat 87): ‘janganlah kalian mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepada kalian’” [Musnad Ahmad 1/432 no 4113, Sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Jadi arti kata istimtaa’ yang digunakan oleh para sahabat adalah menikahi seorang wanita sampai batas waktu yang ditentukan. Tidak hanya pada hadits – hadits diatas saja, melainkan di hadits yang dijadikan hujjah pengharaman mut’ah, kata yang digunakan untuk menyebutkan nikah mut’ah juga dengan lafal istimtaa’.

Dan ternyata banyak kepalsuan yang dibuat terhadap nikah mut’ah. Maka berhati – hatilah jika menerima informasi dari pihak anti syiah itu. Beberapa diantaranya:

 

  1. Syiah mencaci maki para Sahabat dan istri nabi?

Jika anda mendapati berita bahwa pihak syiah telah mencaci maki bahkan mengkafirkan hampir semua sahabat dan istri nabi, kecuali tersisa 4 sahabat saja, maka ketahuilah bahwa berita tersebut tidaklah benar. Silahkan baca ini:

https://secondprince.wordpress.com/2014/03/27/benarkah-mazhab-syiah-mengkafirkan-mayoritas-sahabat-nabi/

Lagipula terdapat hadits shahih syiah yang memuji banyak para sahabat nabi:

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن محمد بن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله اثني عشر ألفا ثمانية آلاف من المدينة، و ألفان من مكة، وألفان من الطلقاء، ولم ير فيهم قدري ولا مرجي ولا حروري ولا معتزلي، ولا صحاب رأي، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون: اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز الخمير

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radliyallaahu‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibraahiim bin Haasyim dari Ayahnya, dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim, dari Abu Abdillah as “Para Sahabat Rasulullah SAW berjumlah dua belas ribu orang, yaitu delapan ribu orang berasal dari Madiinah, dua ribu orang dari Makkah dan dua ribu orang dari kalangan Thulaqaa’. Tidak ada di diantara mereka yang mempunyai pemikiran Qadariy, Murji’, Haruriy, Mu’taziliy, dan Ashabur Ra’yu. Mereka senantiasa menangis pada malam dan siang hari, seraya berdoa “cabutlah nyawa kami sebelum kami sempat memakan roti adonan” [al-Khishaal, Syaikh Ash-Shaaduq, hal 639-640, no 15]

Riwayat ini sanadnya shahih, para perawinya tsiqat disisi mazhab Syi’ah. Salah satu ulama syiah, yakni Syaikh Ali Asy-Syahrudi dalam kitabnya Mustadrak Safinah al-Bihar 6/173 menyatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits shahih.

Intinya pihak syiah membagi para sahabat nabi SAW menjadi 3 bagian, sebagaimana yang tertera dalam kitab – kitab mereka antara lain sebagai berikut:

  1. Para sahabat yang baik. Mereka taat dan setia kepada Rasulullah SAW.
  2. Para sahabat yang diragukan. Mereka pernah berbuat sesuatu yang kurang menampakkan kesetiaannya kepada Rasulullah SAW. Dan perbuatan – perbuatan mereka itu disebutkan tidak hanya pada kitab hadits syiah saja, tapi juga pada kitab hadits sunni seperti; Bukhari, Muslim dan lain – lain.
  3. Para sahabat yang munafik. Mereka tidak berani menampakkan sifat aslinya ketika Rasulullah SAW masih hidup. Dan yang menyatakan adanya kalangan sahabat munafik itu justru dari Rasulullah SAW sendiri.

Kemudian terhadap istri Rasulullah SAW misalnya Siti Aisyah, memang ada riwayat – riwayat syiah yang negatif mengenai dirinya, tetapi para jumhur ulama syiahnya sendiri tidak mempersoalkan hal tersebut dan tetap menghormatinya. Selain itu ada juga yang menduga telah dipalsukannya riwayat – riwayat tersebut, misalnya saja datang dari pernyataannya tokoh besar ulama syiah yaitu Allamah Majlisi, beliau berkata: “Di dalamnya terdapat keburukan yang besar dan keanehan. Kami menganggap hal ini mustahil berasal dari guru kami Ali bin Ibrahim (Tafsir Al-Qummi), bahkan kami mengira bahwa hal ini adalah penambahan yang dilakukan oleh orang lain. Hal itu karena kitab tafsir (Tafsir Qummi) yang ada sekarang bukanlah mutlak berasal darinya (Ali bin Ibrahim Al-Qummi), yang kitab tafsir ini masih terdapat banyak tambahan berasal dari orang lain. Oleh karena itu, kita dapati perkataan ini bertentangan dengan pendapat seluruh muslimin, baik dari kalangan khusus atau pun umum, seluruhnya menyatakan kesucian istri-istri Nabi Saw seperti yang telah disebutkan.” [Al-Majlisi, Bihar al-Anwar,  juz 22, hal 240, Muassasah al-Wafa]

Adapun sebagian kecil penganut syiah yang sampai melaknat dan mengkafirkan para sahabat nabi, katakanlah itu sebagai oknum. Salah satu oknum syiah ini misalnya datang dari seorang syiah takfiri yang bernama Yasir Habib. Banyak diantara pihak anti syiah yang mengutip pernyataannya baik dari artikel di blog ataupun video di youtube untuk memojokkan dan menggeneralisir bahwa semua syiah adalah seperti dirinya, padahal Yasir Habib sendiri yang disinyalir dakwahnya didukung dana dari Inggris ini, selain melaknat para sahabat dan istri nabi, dia juga melaknat ulama besar syiah di iran seperti Ali Khamenei dan lain – lain. Jadi masihkah anda mau percaya dengan pernyataan dia yang bahkan oleh pihak otoritas syiahnya sendiri dia divonis sesat dan diusir dari negara asalnya?

Dan jika anda mengkafirkan syiah ini hanya karena ulah para oknumnya itu, maka anda juga harus bersikap adil dengan mengkafirkan para mujahilun IS, tidak hanya sebatas cap khawarij saja, hal ini karena mereka telah mengkafirkan umat islam yang menerima sistem “thaghut” demokrasi, juga terhadap Ibnu Taimiyah dengan ikut mengkafirkannya juga, karena dalam kitab Minhajus Sunnah dia tidak hanya telah menghina sahabat, tapi juga terhadap anak dan cucunya Rasulullah SAW dengan pernyataan intinya berikut ini; “Ali orang yang sial dan berperang untuk kekuasaan, bukan agama, serta lemah dan tidak adil.” (2/203-204), “Ali sama dengan Fir’aun dan tidak pantas masuk surga.” (2/202-205 dan 232-234), “Ali tercela dan bersalah karena menumpahkan darah muslimin.” (3/156), “Ali melakukan tindakan nepotisme.” (3/236-237), “Ali tidak jadi rujukan, karena tidak ada satu pun imam mazhab yang ikut fiqihnya, bahkan Ahli Madinah tidak ada yang mengambil ilmunya.” (4/142-143), “Fatimah munafik karena menuntut warisan Fadak kepada Abu Bakar.” (2/169), “Husein sesat karena melawan Yazid yang disebut sebagai imam yang sah.” (2/241), Dan lain – lain. Saya jadi heran, kok bisa dia digelari syaikhul islam, padahal sangat benci terhadap keluarga nabi!

Demikian yang tadi dibahas adalah oknum syiah, maka tentu tidak sedikit diantara mereka yang tidak bersikap lancang tersebut. Pihak syiah pada umumnya menghormati dan menahan diri dari membicarakan para sahabat dan isttri nabi. Jikapun ada yang membicarakannya, mereka tidaklah sampai menghinanya, melainkan hanya mengkritisinya saja, karena para istri dan sahabat nabi juga sama seperti kita, yakni sebagai manusia biasa yang tidak luput dari salah, khilaf dan dosa, sehingga hal tersebut masih bisa ditolerir asalkan dilakukan dengan ahsan. Tapi walaupun demikian, ternyata masih saja ada sebagian dari pihak sunni yang berkeberatan atas hal tersebut. Oleh karena itu agar adil, maka perlu diketahui juga, jika anda sakit hati dengan kritikan pihak syiah tersebut, misalnya saja terhadap istri nabi, Siti Aisyah, maka seharusnya anda sakit hati juga terhadap referensi sunni yang menyatakan bahwa beliau tewas dibunuh oleh Muawiyah:

وقال صاحب المصالت: كان معاوية على المنبر يأخذ البيعة ليزيد (في المدينة) فقالت عائشة: هل استدعى الشيوخ لبنيهم البيعة؟ قال لا,قالت فبمن تقتدي؟ فخجل، وهيأ لها حفيرة فوقعت فيها وماتت

Ketika Muawiyah duduk di mimbar (Nabi saw) untuk mengambil baiat Yazid, Aisyah berkata kepadanya: ‘Apakah para tokoh (khalifah sebelumnya) mengambil baiat untuk anak – anak mereka?’ Ia -Muawiyah- menjawab: ‘Tidak!’ Ia -Aisyah- berkata: ‘Kalau bagitu, kamu mencontoh siapa?’ Ia -Muawiyah- terdiam, lalu ia menyiapkan jurang untuknya (Aisyah) hingga ia jatuh ke dalamnya dan mati.” [Shiraatu al-Mustaqiim, 3:630, menukil dari Ibnu Hajar, Shaahib al-Mashaalit]

Bukan hanya Aisyah saja yang dibunuh, tapi juga para saudaranya. Selengkapnya:

https://syiahnews.wordpress.com/2015/12/20/ummul-mukminin-aisyah-ra-meninggal-dibunuh-muawiyah/

Bahkan juga dihina bahwa rumah Siti Aisyah adalah sumber fitnah tanduk setan:

    حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَأَشَارَ نَحْوَ مَسْكَنِ عَائِشَةَ فَقَالَ هُنَا الْفِتْنَةُ ثَلَاثًا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

    صحيح البخاري – كِتَاب فَرْضِ الْخُمُسِ – بَاب مَا جَاءَ فِي بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا نُسِبَ مِنْ الْبُيُوتِ إِلَيْهِنَّ

Imam Bukhari meriwayatkan.. dari Nâfi’ dari Abdullah bin Umar ra: Nabi SAW berdiri berpidato seraya menunjuk ke arah rumah Aisyah lalu bersabda, ‘Di situlah fitnah! -beliau mengulangnya tiga kali- di mana tanduk setan akan muncul!’” [Shahih Bukhari, 4/100 (No. 2873), Bab Mâ Jâa Fî Buyûti Azwâji an-Nabi SAW. hadits No. 3279 (2873); Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bâri,13/69]

Juga terhadap sahabat, misalnya Umar bin Khaththab, maka seharusnya anda juga sakit hati terhadap referensi sunni yang menghina beliau sebagai ingkar sunnah:

حدثنا ‏ ‏يحيى بن سليمان ‏ ‏قال حدثني ‏ ‏ابن وهب ‏ ‏قال أخبرني ‏ ‏يونس ‏ ‏عن ‏ ‏ابن شهاب ‏ ‏عن ‏ ‏عبيد الله بن عبد الله ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عباس ‏ ‏قال‏:‏

لما اشتد بالنبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وجعه قال ‏ ‏ائتوني بكتاب أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده قال ‏ ‏عمر ‏ ‏إن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏غلبه ‏ ‏الوجع وعندنا كتاب الله حسبنا فاختلفوا وكثر ‏ ‏اللغط ‏ ‏قال قوموا عني ولا ينبغي عندي التنازع ‏

‏فخرج ‏ ‏ابن عباس ‏ ‏يقول ‏ ‏إن ‏ ‏الرزية ‏ ‏كل ‏ ‏الرزية ‏ ‏ما حال بين رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وبين كتابه ‏

Dari ibnu Abbas ra., ia berkata : ‘Ketika sakit Nabi SAW semakin parah, beliau bersabda: ‘Berikan kepadaku selembar kertas, aku akan tuliskan untuk kalian sebuah tulisan (pesan) yang kamu tidak akan tersesat setelahnya’. Umar berkata: ’sesungguhnya Nabi SAW. telah dipengaruhi dan di kalahkan oleh sakitnya, dan kita sudah memiliki kitabullah, cukup bagi kita kitabullah’. Lalu para penjenguk berselisih dan keributanpun memuncak, (kemudian melihat yang demikian) Nabi SAW berkata: ‘Menyingkirlah kalian dariku! Tidak sepantasnya terjadi perselisihan (keributan) di hadapanku’. Maka Ibnu Abbas keluar dan berkata: ‘Sesungguhnya bencana yang sebenar – banar arti bencana ialah penghalangan antara Rasulullah SAW dan penulisan wasiatnya!’” [Shahih Bukhari, juz 1, hal 36; Shahih Muslim, juz 3, hal 69; adz-Dzahabi, Tadhkirah al-Huffaz, juz 1, hal 3]

Pihak syiah menafsirkan hadits diatas bahwa Rasulullah SAW hendak menuliskan wasiat kepada umatnya terkait warisan khilafah kepada Ali bin abi Thalib beserta keturunannya yang terpilih. Namun saya pikir hal tersebut hanya sekedar prediksi saja yang belum tentu benar. Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.

Pantas saja Umar sampai mengatakan: “cukup bagi kita kitabullah”, toh ternyata Umar lebih tahu, benar dan taat terhadap hukum Allah daripada Rasulullah SAW:

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَاهُ قَمِيصَهُ وَأَمَرَهُ أَنْ يُكَفِّنَهُ فِيهِ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي عَلَيْهِ فَأَخَذَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ بِثَوْبِهِ فَقَالَ تُصَلِّي عَلَيْهِ وَهُوَ مُنَافِقٌ وَقَدْ نَهَاكَ اللَّهُ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لَهُمْ قَالَ إِنَّمَا خَيَّرَنِي اللَّهُ أَوْ أَخْبَرَنِي اللَّهُ فَقَالَ { اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ } فَقَالَ سَأَزِيدُهُ عَلَى سَبْعِينَ قَالَ فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّيْنَا مَعَهُ ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ { وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُون}َ

Dari Ibnu Umar RA, ia berkata: Ketika Abdullah bin Ubay mati, anak laki-lakinya yang bernama Abdulah bin Abdullah bin Ubay datang kepada Rasulullah SAW lalu beliau berikan bajunya dan beliau perintahkan anak Abdullah bin Ubay untuk mengafani ayahnya dengan bajunya tersebut. Kemudian Rasulullah SAW menshalati jenazah ayah Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Hingga akhirnya Umar menarik baju Rasulullah seraya berkata; Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalati jenazah Abdullah bin Ubay sedangkan dia itu orang munafik? Padahal Allah telah melarang engkau memintakan ampun untuknya? Rasulullah SAW menjawab: Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan pilihan kepadaku atau mengabariku. Lalu beliau membacakan ayat yang berbunyi; Kamu memohonkan ampun bagi orang-orang munafik atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka, maka hal itu adalah sama saja. Sekalipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, sekali-kali Allah tidak akan mengampuni mereka (Qs. At-Taubah 9: 80). Rasulullah SAW bersabda: Aku akan menambah istighfar lebih dari tujuh puluh kali untuknya. Maka Rasulullah SAW tetap saja menshalatinya dan kami (Ibnu Umar dan para sahabat) pun shalat bersamanya hingga Allah menurunkan ayat Al Qur’an at-Taubah 84: Janganlah kamu sekali-kali menshalati jenazah seorang di antara orang-orang munafik dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya, sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan munafiq.” (Qs. At-Taubah 9: 84). [Shahih Bukhari, No. 4304; Muslim, 7/116]

Jika anda percaya hadits diatas, maka artinya anda menganggap Rasulullah SAW bisa saja khilaf/salah, sehingga secara tidak langsung meragukan kemaksumannya.

Selain itu Umar dihina telah melecehkan harga diri para wanita, yang diantaranya:

Diceritakan bahwa istri Umar menanyakan kepadanya tentang sebab kemarahan Umar atas seorang dari kerabatnya, ia berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, apa sebab kemarahanmu atas ‘Iyâdh? Maka Umar berkata dengan membentaknya:

يا عدوةَ اللهِ, و فيمَ أنتِ هذا, و متىَ كنتِ تدخلينَ بيني و بين المسلمين؟! إنما أنتِ لُعْبةٌ يُلْعَبُ بِكِ ثُمَّ تُترَكِيْنَ

Hai musuh Allah, apa urusanmu dengan masalah ini?! Mulai kapan engkau ikut campur dalam urusanku dengan kaum Muslimin? Engkau tiada lain hanyalah mainan yang dipermainkan, setelah selesai ditingggalkan!” [Umar ibn Syubbah, Târîkh al-Madînah, 3/818]

Umar mendengar seorang wanita membacakan syair yang berbunyi:

إنَّ النساءَ رياحينُ خُلِقْنَ لكم *** و كُلُّكُم يشْتهِي شَمَّ الرياحينِ

Sesungguhnya wanita bagaikan sekuntum bunga harum yang diciptakan untuk kalian (kaum pria) dan kalian pasti suka mencium semerbak harumnya melati.

Maka setelah itu Umar menyahuti wanita itu dengan melantunkan bait syair juga:

إنَّ النساءَ شياطِينُ خُلِقْن لنا *** نعُوذُ باللهِ مِن شرِّ الشياطِينِ

Wanita adalah setan – setan yang diciptakan untuk kita. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan setan – setan!” [Tafsir Ibnu Taimiyah, 2/18]

Dan yang lebih kejam lagi, Umar dihina melakukan pelecehan seksual terhadap para budak wanitanya dengan menyuruh membuka aurat dihadapan para tamunya:

و كانت جواريه يخْدمنَ الضيفان كاشفات الرؤوسِ, مضطربات البدن, مضطربات الثديِ

Adalah budak-budak wanita Umar melayani para tamu dengan membuka kerudung penutup kepala mereka, badan mereka, mereka bergoyang-goyang dan juga payudara mereka bergoyang-goyang.” [Imam as-Sarakhsi, al-Mabsûth, 9/12]

Tak luput juga terhadap anaknya, ibnu Umar dihina melakukan pelecehan seksual:

عن نافع ، عن ابن عمر ” أنه كان إذا اشترى جارية كشف عن ساقها ووضع يده بين ثدييها و على عجزها

Nafi’i meriwayatkan bahwa kapanpun ketika Ibnu Umar ingin memebeli budak wanita, ia (ibnu Umar) akan memeriksa (budak itu) dengan menganalisa kakinya dan meletakkan tangan di antara payudara dan bokongnya.” [al-Bayhaqi, Sunan al-Kubra, 5/329; al-Mushanaf Abdul Razaq, 7/286, H 13204 (terdapat perbedaan kalimat: ‘dengan mengguncang – guncangkan payudaranya’); al-Bani menyatakan Shahih dalam Mukhtasir Irwa al-Ghalil Fi Takhrij Ahadits Manar al-Sabil, 1/355]

Perbuatannya tersebut jelas tercela. Karena budak wanita itu belum sah menjadi miliknya. Hal ini ibaratkan orang yang mau menikah, tapi dia menganalisa calon istrinya dulu dengan menggerayangi tubuh sensitifnya, apakah boleh? Jelas tidak!

Begitupun terhadap hal yang lainnya. Anda jangan hanya berpikir pihak syiah saja yang dapat membuat geram pihak sunni, karena sebaliknya, dari pihak syiah juga geram dan sakit hati terhadap pihak sunni yang menyatakan bahwa:

  1. Kedua orang tua Rasulullah SAW; Abdullah dan Siti Aminah serta pamannya; Abu Thalib adalah termasuk orang – orang kafir dan masuk neraka. Hal ini berdasarkan pada hadits shahih Muslim. Silahkan baca: abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html. Coba direnungkan, jika anda dilahirkan dimasa sebelum lahir Rasulullah SAW, dimana pada jaman itu agama – agama sudah dikotori oleh tangan – tangan jahiliyah, sehingga ajarannya menjadi tidak murni lagi, tetapi anda semasa hidup di dunia itu adalah seorang yang senantiasa berbuat baik, namun demikian, anda di akhirat masuk neraka, adilkah itu bagi anda? Allah tidak akan menghukum seseorang yang tidak mengenal-Nya atau menyekutukan-Nya, jika dakwah islam belum sampai kepadanya, karena Allah maha adil, sehingga orang seperti itu bisa jadi selamat di akhirat. Maka saya lebih percaya pendapat syiah yang menyatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW; Abdullah dan Siti Aminah, serta pamannya; Abu Thalib adalah para penghuni surga. Karena mereka berdua itu ahlul fatrah, sedangkan pamannya telah masuk islam jauh sebelum meninggal. Lagipula logikanya, Mengapa Rasulullah SAW tidak menyuruh Fathimah binti Assad selaku istrinya untuk bercerai? Bukankah haram pernikahan antara wanita muslimah dengan lelaki kafir? Adapun ayat – ayat al-Qur’an yang katanya berkaitan dengan kekafiran Abu Thalib, maka sungguh jarak diantara diturunkannya ayat – ayat itu dengan kematian beliau sangat jauh!
  2. Rasulullah SAW menikahi Siti Aisyah pada umur 6/9 tahun. Hal ini berdasarkan pada hadits shahih Bukhari & Muslim. Silahkan baca: abuayaz.blogspot.co.id/2011/07/hadits-hadits-aisyah-dinikahi-nabi-pada.html. Coba direnungkan, jika anda melihat ada orang yang menikahi anak kecil seusia 6/9 tahun, anda pasti akan mencercanya dengan sebutan pedofil. Lantas bagaimana jika hal tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW, berani anda juga mencercanya sebagai seorang pedofil? Anda sebagai muslim pasti tidak berani, namun berbeda halnya dengan pihak non muslim yang memang tidak beriman, sehingga atas hadits tersebut oleh mereka menjadi sasaran empuk untuk mencerca beliau sebagai seorang pengidap pedofilia. Maka saya lebih percaya pendapat syiah yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW menikahi Siti Aisyah ketika berumur 22 tahun. Melalui analisis; Siti Aisyah masuk islam di awal misi kenabian ketika berumur 7 tahun. Lalu Rasulullah SAW hijrah ke Madinah 13 tahun kemudian, dan menikahinya pada tahun ke-2 setelah peristiwa hijrah. Maka umur Siti Aisyah ketika menikah dengan beliau adalah 7 + 13 + 2 = 22 tahun.
  3. Rasulullah SAW depresi berat sehingga beberapa kali berniat untuk melakukan aksi bunuh diri hanya karena dalam beberapa waktu tidak mendapatkan wahyu dari Allah terkait kejelasan statusnya sebagai utusan Allah. Hal ini berdasarkan pada hadits shahih Silahkan baca: jakfari.wordpress.com/2010/11/07/potret-sang-nabi-mulia-saw-dalam-hadis/. Bunuh diri adalah perbuatan dosa besar dimana pelakukanya akan kekal mendapatkan siksa neraka. Apakah anda yakin Rasulullah SAW punya niat dan tindakan sangat bodoh tersebut? Saya sendiri tidak meyakininya. Maka Saya lebih percaya pendapat syiah yang tidak membenarkannya.
  4. Rasulullah SAW dan Nabi Musa as tidak mematuhi perintah Allah dalam hal shalat. Rasulullah SAW 6x naik – turun langit hanya untuk memohon agar perintah shalat dikurangi dari 50x menjadi 5x sehari pada peristiwa isra mi’raj dalam hadits shahih Bukhari & muslim, silahkan baca: blogspot.com/2015/04/hadits-shahih-tentang-isra-miraj-nabi.html. Coba direnungkan, bukankah hal ini juga menyiratkan bahwa Nabi Musa as lebih maha mengetahui daripada Allah? Belum lagi jika dikalkulasikan shalat 50x dalam sehari/24 jam, artinya kita harus menyicil shalat itu secara rutin 2x/jam, termasuk pada jam tidur malam. Jika itu terjadi, saya yakin kita tidak akan pernah mampu untuk mengerjakannya, sedangkan Allah tidak akan membebani para hamba-Nya melebihi kemampuannya. Jika anda membantah bahwa yang dimaksud 50x shalat itu dalam 2 hadits shahih tersebut hanyalah sebagai makna kiasan saja, yakni maksudnya adalah kita melaksanakan shalat 5x seakan – akan dikalikan 10 sehingga menjadi 50x dalam sehari, maka itu tidaklah benar. Karena sudah sangat jelas dinyatakan pada 2 hadits shahih tersebut bahwa Allah awalnya menyuruh umat islam untuk shalat 50x, bukan sebagai kiasan 5x = 50x. Maka saya lebih percaya pendapat syiah yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW ketika peristiwa isra mi’raj itu naik ke langit dan langsung berhadapan dengan Allah untuk menerima perintah shalat fardhu 5x/hari, tanpa sebelumnya pernah bertemu dengan para nabi dan malaikat.
  5. Nabi Musa as tega memukul malaikat maut utusan Allah hingga matanya keluar dan menjadi buta hanya karena beliau enggan dicabut nyawanya. Hal ini berdasarkan pada hadits shahih Bukhari & Muslim. Silahkan baca: liputanalquran.com/2016/06/benarkah-nabi-musa-menampar-malaikat.html. Coba direnungkan, menampar manusia biasa saja berdosa, apalagi ini dilakukan terhadap malaikat maut utusan Allah yang bahkan dari tamparan itu meninggalkan bekas cacat kebutaan terhadap si korban. Apakah pantas seorang nabi yang berstatus maksum (terpelihara dari perbuatan dosa) melakukan dosa besar tersebut? Banyak orang yang berasumsi untuk membela hadits tersebut dengan menyalahkan dan mencap sang malaikat maut itu sebagai utusan Allah yang tidak tahu sopan santun, karena masuk rumah nabi Musa as tanpa permisi, sehingga beliau menamparnya, padahal di hadits tersebut tidak dijelaskan apakah peristiwa itu terjadi didalam rumah ataupun diluar rumah. Selain itu, ada juga yang bilang bahwa nabi Musa as tidak tahu jika yang mendatanginya adalah malaikat maut utusan Allah, karena berwujud manusia, padahal dalam hadits tersebut, sebelum terjadi peristiwa penamparan itu, sang malaikat berkata kepadanya: “Penuhilah panggilan Tuhan-Mu!”, sehingga mustahil beliau tidak tahu. Maka Saya lebih percaya pendapat syiah yang tidak membenarkannya.

Saya yakin jika 5 hal diatas ada pada ajaran syiah, maka dengan membabi buta pihak anti syiah akan menyerangnya. Nah, karena hal itulah saya menuliskannya, bukan untuk menghina ajaran sunni, tapi terpaksa saya lakukan sebagai pelajaran perbandingan mazhab agar anda dapat berlaku adil diantara keduanya, dalam artian jika di syiah terdapat ajaran yang kontroversial, maka begitupun di ajaran sunni. Jadi berhentilah menghujat mazhab lain, saling menghargai itu lebih baik. Kembali ke pembahasan, rasanya tidak tepat juga jika pihak sunni menyatakan bahwa semua sahabat itu adil, baik dan lebih mulia dari kita, karena hal tersebut justru bertentangan pada dalil – dalil naqli baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits.

Sumber dari al-Hadits:

Para sahabat ada yang berencana membunuh Rasulullah SAW:

و أخرج البيهقي في الدلائل عن عروة رضى الله عنه قال رجع رسول الله صلى الله عليه و سلم قافلا من تبوك إلى المدينة حتى إذا كان ببعض الطريق مكر برسول الله صلى الله عليه و سلم ناس من أصحابه فتآمروا أن يطرحوه من عقبة في الطريق فلما بلغوا العقبة أرادوا أن يسلكوها معه فلما غشيهم رسول الله صلى الله عليه و سلم أخبر خبرهم فقال من شاء منكم أن يأخذ بطن الوادي فانه أوسع لكم و اخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم العقبة و اخذ الناس ببطن الوادي الا النفر الذين مكروا برسول الله صلى الله عليه و سلم لما سمعوا ذلك استعدوا و تلثموا و قد هموا بأمر عظيم و أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم حذيفة بن اليمان رضى الله عنه و عمار بن ياسر رضى الله عنه فمشيا معه مشيا فأمر عمارا أن يأخذ بزمام الناقة و أمر حذيفة يسوقها فبينما هم يسيرون إذ سمعوا وكزة القوم من ورائهم قد غشوه فغضب رسول الله صلى الله عليه و سلم و أمر حذيفة أن يردهم و أبصر حذيفة رضى الله عنه غضب رسول الله صلى الله عليه و سلم فرجع و معه محجن فاستقبل وجوه رواحلهم فضربها ضربا بالمحجن و أبصر القوم وهم متلثمون لا يشعروا انما ذلك فعل المسافر فرعبهم الله حين أبصروا حذيفة رضى الله عنه و ظنوا ان مكرهم قد ظهر عليه فاسرعوا حتى خالطوا الناس و أقبل حذيفة رضى الله عنه حتى أدرك رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما أدركه قال اضرب الراحلة يا حذيفة و امش أنت يا عمار فاسرعوا حتى استووا بأعلاها فخرجوا من العقبة ينتظرون الناس فقال النبي صلى الله عليه و سلم لحذيفة هل عرفت يا حذيفة من هؤلاء الرهط أحدا قال حذيفة عرفت راحلة فلان و فلان و قال كانت ظلمة الليل و غشيتهم وهم متلثمون فقال النبي صلى الله عليه و سلم هل علمتم ما كان شأنهم و ما أرادوا قالوا لا و الله يا رسول الله قال فإنهم مكروا ليسيروا معى حتى إذا طلعت في العقبة طرحوني منها قال أفلا تامر بهم يا رسول الله فنضرب أعناقهم قال أكره أن يتحدث الناس و يقولوا ان محمدا وضع يده في أصحابه فسماهم لهما و قال اكتماهم‏

Imam al Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Dalâil-nya dari Urwah ia berkata, “Rasulullah saw pulang dari tabuk menuju kota Madinah, sesampainya di sebagian jalan, sekelompok orang dari sahabat beliau berbuat makar. Mereka bersekongkol untuk menjatuhkan beliau saw. dari atas tebing di jalan itu. Sesampainya mereka di ujung tebing itu, mereka bermaksud berjalan di sana bersama-sama Nabi saw. ketika telah bergabung, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat, ‘Siapa yang ingin menempuh jalan lewat perut lembah silahkan, ia lebih lebar untuk kalian!’ Sementara Rasulullah saw. melewati jalan tebing itu. Para sahabat melewati perut lembat kecuali beberapa orang yang berencana berbuat makar terhadap Rasulullah saw. Ketika beliau mendengar pengumuman itu mereka bersiap-siap dan mengenakan penutup wajah dan berencana melakukan makar besar. Rasulullah saw. memerintahkan Hudzaifah bin al Yamân ra. Dan Ammâr bin Yâsir ra.. Keduanya berjalan bersama beliau, Ammâr diperintah untuk memegang kendali kendaraan beliau, sementra Hudzaifah diminta untuk menuntunnya. Ketika mereka sedang berjalan, mereka mendengar suara suara langkah-langkah mereka (yang bermakar itu). Mereka berusa menerobos rombongan Nabi saw. Beliau marah dan memerintahkan Hudzaifah untuk menghalau mereka. Hudzaifah melihat marah  Rasulullah saw.. Hudzaifah kembali ke belakang dengan membawa tonhgkat kecil untuk menghalau mereka. Hudzaifah menghadap wajah-wajah kendaraan mereka dan memukulnya dengan tongkat itu. Hudzaifah melihat mereka dalam keadaan mengenakan penutup wajah seperti kebiasaan sebagian kaum musafir. Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka ketika mereka melihat Hudzaifah ra. dan mereka mengira bahwa Hudzaifah mengetahui rencana jahat mereka terbongkar. Mereka bercepat-cepat lari dan bergabung dengan orang-orang lain. Hudzaifah ra. kembali kepada Rasulullah saw., setelah sampai, beliau memerintahnya dan Ammâr agar bercepat-cepat menuntun kendaraan beliau sehingga sampai di puncak tebing itu dan setelahnya mereka keluar darinya sambil menanti rombongan lain yang menempuh jalan perut lembah. Nabi saw. berkata Hudzaifah, ‘Hai Hudzaifah, akapah engkau mengenal seorang dari mereka itu? Hudzaifah menjawab, ‘Aku mengenali kendaraan-kendaraan itu milik si fulan dan si fulan. Gelapnya malam menutupi wajah mereka di samping itu mereka mengenakan penutup wajah.” Nabi saw. bersabda, “Tahukan kamu apa mau mereka?” Tidak. Demi Allah. Jawab Hudzaifah. Nabi saw. menjelaskan, “Mereka berencana jahat membunuhku. Mereka ikut berjalan bersamaku sehingga ketika sampai di atas tebing mereka akan melemparkanku dari aatasnya.” Hudzaifah berkata, “Mengapakah tidak Anda perintahkan saja agar kami penggal leher-leher mereka?!” Nabi saw. “Aku tidak suka nanti orang-orang berkata Muhammad membunuh sahabatnya sendiri.” Kemudian Nabi saw. menyebutkan nama-nama mereka untuk Hudzaifah dan Ammâr dan meminta keduanya merahasiakan.” [Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir ad-Durrul Mantsur, 3358; Musnad Ahmad, 5/453, No. 23843; Dala’il An-Nubuwwah Baihaqi, 5/256]

Para sahabat ada yang munafik:

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata: ‘saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?’ Ammar menjawab: ‘Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda: ‘Di antara Sahabatku ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum’. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.’” [Shahih Muslim, 4/2143, No 2779 (9), tahqiq Muh. Fuad Abdul Baqi]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى ، حَدَّثَنَا يَحْيَى ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ ، قَالَ : كُنَّا عِنْدَ حُذَيْفَةَ ، فَقَالَ : ” مَا بَقِيَ مِنْ أَصْحَابِ هَذِهِ الْآيَةِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ ، وَلَا مِنَ الْمُنَافِقِينَ إِلَّا أَرْبَعَةٌ ، فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ : إِنَّكُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُخْبِرُونَا فَلَا نَدْرِي ، فَمَا بَالُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَبْقُرُونَ بُيُوتَنَا ، وَيَسْرِقُونَ أَعْلَاقَنَا ، قَالَ أُولَئِكَ الْفُسَّاقُ ، أَجَلْ لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا أَرْبَعَةٌ ، أَحَدُهُمْ شَيْخٌ كَبِيرٌ ، لَوْ شَرِبَ الْمَاءَ الْبَارِدَ لَمَا وَجَدَ بَرْدَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaa’il yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb, ia berkata Kami pernah berada di sisi Hudzaifah, lalu ia berkata ‘Tidaklah tersisa orang yang dimaksud dalam ayat ini (yaitu QS. At-Taubah : 12) kecuali tiga orang, dan tidak pula tersisa orang-orang munafik kecuali hanya empat orang saja’. Seorang A’rabiy berkata ‘Sesungguhnya kalian adalah shahabat – shahabat Muhammad SAW. Kalian mengkhabarkan kepada kami, lalu kami tidak mengetahuinya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang telah merusak rumah – rumah kami dan mencuri perhiasan – perhiasan kami?’ Hudzaifah menjawab ‘Mereka itu orang – orang fasik. Ya, tidaklah tersisa dari mereka kecuali empat orang  yang salah seorang dari mereka telah tua. Seandainya ia meminum air dingin, tentu ia tidak akan merasakan dingin air itu’.” [Shahih Bukhari no 4658]

إنَّ فِي أصحابِي مُنافِقِيْنَ

Di antara para sahabatku ada yang munafik.” [Musnad Ahmad, 4/83, No 16810; Musnad ath-Thayâlisi, 1/128, No 949]

Para sahabat ada yang membuat Rasulullah SAW marah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجِعْرَانَةِ مُنْصَرَفَهُ مِنْ حُنَيْنٍ ، وَفِي ثَوْبِ بِلَالٍ فِضَّةٌ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبِضُ مِنْهَا يُعْطِي النَّاسَ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ اعْدِلْ ، قَالَ : ” وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ ، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : دَعْنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَقْتُلَ هَذَا الْمُنَافِقَ ، فَقَالَ : مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي ، إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir dari Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin Abdullah yang berkata: ‘seseorang datang kepada Rasulullah SAW di ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu dalam pakaian Bilal terdapat perak, maka Rasulullah SAW membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata: ‘wahai Muhammad berlaku adillah?’. Rasulullah SAW bersabda: ‘celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil? Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil’. Umar berkata: ‘wahai Rasulullah SAW izinkanlah aku membunuh munafik ini’. Rasulullah SAW berkata: ‘aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang – orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka membaca al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya.’” [Shahih Muslim, 2/740, No 1063]

حدثنا بشر، قال: ثنا يزيد، قال: ثنا سعيد، عن قتادة: بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يخطب الناس يوم الجمعة، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال: كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثانية فجعل يخطبهم قال سفيان: و لا أعلم إلا أن في حديثه و يعظهم و يذكرهم، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال: كم أنتم، فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثالثة فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة، فقال:” و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا” و أنزل الله عز وجل: وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً.

و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا

..dari Qatadah, ia berkata: ‘Ketika Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jum’at, tiba-tiba mereka berangsur-angsur bangun dan keluar sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Kemudian di hari jum’at berikutnya beliau berkhutbah di hadapan mereka.. Sufyan berkata, ‘Aku tidak mengetahui dari hadisnya melainkan beliau menasihati dan mengingatkan mereka, lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Kemudian pada hari jum’at ketiga beliau berkhutbah lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Setelah itu beliau bersabda: ‘Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai orang terakhir kamu mengikuti orang pertama (yang keluar), pastilah lembah ini akan dilahab api membakar kalian!’ (Lalu turunlah QS. Jumu’ah, ayat 11: ‘Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki’)” [Tafsir at-Thabari, 4/155; Tafsir Ibnu Katsir, 4/378; as-Suyuthi, ad-Durrul Mantsur, hal 220, Shahih Bukhari, 1/316 (al-Jumu’ah, No. 936); Shahih Muslim, 2/590 (al-Jumu’ah, No. 863); Ibnu Âsyûr, at-Tahrîr at-Tanwîr, 28/205; Musnad Ahmad, 3/313]

Para sahabat ada yang saling menghujat dan berselisih:

Umar bin Khaththab berkata:

    فلما توفي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم قال أبو بكر: أنا وليُّ رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم، فجئتما تطلب ميراثك كن ابن أخيك و يطلب هذا ميراث إمرأته من أبيها فقال أبو بكر: قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال: ما نورث ما تركنا صدقة! فرأيتماه كاذبا آثما غادرا خائنا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق

Dan ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya’. Maka Abu Bakar berkata, Rasulullah SAW bersabda: ‘Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.’, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat. Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah SAW dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat!’“ [HR Muslim, al-Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’, 5/152]

أتى عمر بن الخطّاب منزل علي، وفيه طلحة والزبير ورجال من المهاجرين فقال: والله لاُحرقنّ عليكم أو لتخرجنّ إلى البيعة، فخرج عليه الزبير مصلتاً سيفه، فعثر فسقط السيف من يده، فوثبوا عليه فأخذوه.

Umar ibn al Khaththab mendatangi rumah Ali, di dalamnya berkumpul Thalhah dan Zubair dan beberapa orang Muhajirin, ia berkata: ‘Demi Allah aku benar-benar akan membakar kalian atau kalian keluar untuk memberikan baiat (kepada Abu Bakar)!’ Maka Zubair keluar sambil menghunuskan pedangnya, lalu ia terpeleset dan jatuhlah pedang itu dari tangannya, lalu mereka mengeroyoknya dan mengambil pedang itu darinya.” [Târîkh ath-Thabari, 3/202]

Siti Aisyah ketika berselisih dengan Utsman bin Affan, ia berkata:

اقتلوا نَعْثَلافقد كفر

Bunuhlah si Na’tsal (Utsman bin Affan) itu sesungguhnya ia telah kafir!” [Târîkh ath-Thabari, 4/477; Ibnu al-Atsîr, al-Kâmil, 3/87; an-Nihâyah, 4/156]

Siti Aisyah menuduh Abu Hurairah sebagai pemalsu hadits Rasulullah SAW:

أَلَا يُعْجِبُكَ أَبُو هُرَيْرَةَ جَاءَ فَجَلَسَ إِلَى جَانِبِ حُجْرَتِي يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْمِعُنِي ذَلِكَ وَكُنْتُ أُسَبِّحُ فَقَامَ قَبْلَ أَنْ أَقْضِيَ سُبْحَتِي وَلَوْ أَدْرَكْتُهُ لَرَدَدْتُ عَلَيْهِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يَسْرُدُ الْحَدِيثَ مِثْلَ سَرْدِكُمْ

(Wahai Urwah) tidakkah Abu Hurairah mengherankanmu, ia datang lalu duduk disebelah kamarku menyampaikan hadits Rasulullah SAW. Aku mendengarnya ketika shalat sunnah, lalu ia pergi sebelum aku menyelesaikan shalat sunnahku. Seandainya aku beroleh kesempatan, niscaya aku akan menyanggahnya! Karena sungguh Rasulullah SAW tidak pernah memberitahukan hadits seperti yang telah disampaikannya.” [Shahih Muslim, kitab al-Ilmu, Bab Sardu al-Hadits, No. 3303]

Tidak hanya Siti Aisyah, Umar juga menuduh Abu Hurairah sebagai pemalsu hadits Rasulullah SAW. Lihat: Shahih Bukhari, jilid 2, kitab Bada al-Khalq, hal 171; Shahih muslim, jilid 1, hal 34; Dzahabi, siyar i’lam al-Nubla, jilid 2, hal 433.

    أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ فَقَالَ أَمَّا مَا ذَكَرْتُ ثَلَاثًا قَالَهُنَّ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَنْ أَسُبَّهُ لَأَنْ تَكُونَ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَهُ خَلَّفَهُ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ خَلَّفْتَنِي مَعَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نُبُوَّةَ بَعْدِي وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَوْمَ خَيْبَرَ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَتَطَاوَلْنَا لَهَا فَقَالَ ادْعُوا لِي عَلِيًّا فَأُتِيَ بِهِ أَرْمَدَ فَبَصَقَ فِي عَيْنِهِ وَدَفَعَ الرَّايَةَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَقَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي

Mu’awiyah ibn Abi Sufyan memerintah Sa’ad, ia berkata, ‘Apa yang mencegahmu mencaci Abu Thurâb (Ali bin Abi Thalib)?! Sa’ad menjawab, “Selama aku mengingat tiga sabda Rasulullah saw. untuknya yang andai satu saja untukku itu lebih aku sukai dari dunia dan seisinya maka aku tidak akan mencacinya. Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Ali ketika beliau meminta Ali tinggal (tidak ikut-serta) dalam sebagian peperangan beliau, lalu Ali berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, mengapakah Anda tinggalkan aku bersama para wanita dan kanak-kanak?’ Maka beliau saw. bersabda, ‘Tidakkah engkau rela kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada kenabian sepeninggalku.” Aku mendengar beliau saw. bersabda pada hari parang Khaibar, ‘Aku akan serahkan bendera kepanglimaan ini kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya.’ Maka Allah memenangkannya, dan ketika turun ayat ‘Katakan, ‘Marilah, kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian… ,’ Rasulullah saw. memanggil Ali, Fatimah , Hasan dan Husain dan bersabda, ‘Ya Allah hanya merekalah Ahli/keluarga-ku.‘” [Shahih Muslim dengan syarah an-Nawawi 15/175 (4/1870, No. 2404); Manhaj as-Sunnah, Ibnu Taimiyyah, 5/16]

حَدَّثَنَا عُبَيد الله بن معاذ قَال حدثني أبي قَال حَدَّثَنَا شُعبة عن عُبَيد أبي الحسن سمع عبد الرحمن بن معقل يقول شهدت علي بن أبي طالب قنت في صلاة العتمة بعد الركوع يدعو في قنوته على خمسة رهط على معاوية وأبي الأعور

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Ubaid Abi Hasan yang mendengar Abdurrahman bin Ma’qil berkata: ‘aku menyaksikan Ali bin Abi Thalib membaca qunut dalam shalat atamah setelah ruku untuk lima orang seperti untuk Mu’awiyah dan Abul A’war.” [Ma’rifat wal Tarikh al-Fasawi 3/134. Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqat]

Para sahabat ada yang menjadi kafir murtad:

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama)’.” [Shahih al-Bukhari, juz 8, No 586, 587 (150); Shahih Muslim no.27 (2293)]

Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ  الْحَكِيْمُ.

Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad, 1/235 dan 253]

Dan lain – lain masih banyak lagi, tapi saya cukupkan sampai disini saja. Ternyata ada juga hadits – hadits dari riwayat Bukhari dan Muslim yang menyatakan bahwa para sahabat nabi telah banyak menjadi kafir murtad, maka bagaimana sikap anda dalam hal ini, telah menjadi kafir murtad kah juga mereka sebagaimana vonis anda terhadap syiah? Atau bahkan semua para pengikutnya juga kafir murtad? Atau justru anda malah meragukan sabda Rasulullah SAW yang shahih tersebut?

Sumber dari Al-Qur’an:

Tidak ada sekalipun dalam ayat al-Qur’an yang menyebutkan kata “sahabat” secara eksplisit, sehingga hal tersebut bisa jadi multi-tafsir oleh para ulama yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Maka dari itu saya memuatnya disini untuk anda kaji, analisis dan teliti sendiri, bukan untuk langsung dipercayai. Berikut ini ayat – ayatnya: QS at-Taubah; 25, 38, 39, 43, 45, 46, 47, 56, 101, QS al-Munafiqun; 1, QS al-Imran; 144, 153, 154, QS al-Anfal; 5, 6, 7, 8, QS al-Ahzab; 15, QS al-Hadiid; 16, dan lain – lain, masih ada lagi, tapi dicukupkan saja.

Jadi sudah jelas berdasarkan pada dalil – dalil naqli diatas bahwa tidak semua sahabat itu adil. Toh, logikanya, para sahabat bukanlah orang – orang yang suci dan maksum, maka mustahil mereka semuanya adalah orang – orang adil tanpa celah sedikitpun. Kita tidak perlu malu untuk mengakuinya, apalagi sampai harus menyembunyikan kebenaran sebagaimana pernyataannya Adz-Dzahabi ini:

    قلت كلام الأقران إذا تبرهن لنا أنه بهوى وعصبية لا يلتفت إليه بل يطوى ولا يروى كما تقرر عن الكف عن كثير مما شجر بين الصحابة وقتالهم رضي الله عنهم أجمعين

    وما زال يمر بنا ذلك في الدواوين والكتب والأجزاء ولكن أكثر ذلك منقطع وضعيف وبعضه كذب وهذا فيما بأيدينا وبين علمائنا فنبغي طيه وإخفاؤه بل إعدامه لتصفو القلوب وتتوفر على حب الصحابة والترضي عنهم وكتمان ذلك متعين عن العامة وآحاد العلماء وقد يرخص في مطالعة ذلك خلوة للعالم المنصف العري من الهوى بشرط أن يستغفر لهم كما علمنا الله تعالى

Aku berkata, ‘Omongan sesama teman jika terbukti dilontarkan dengan dorongan hawa nafsu  atau fanatisme maka ia tidak perlu dihiraukan. Ia harus ditutup dan tidak diriwayatkan, sebagaimana telah ditetapkan bahwa harus menutup-nutupi persengketaan yang tejadi antara para sahabat ra. Dan kita senantiasa melewati hal itu dalam kitab-kitab induk dan juz-juz akan tetapi kebanyakan darinya adalah terputus sanadnya dan dha’if dan sebagian lainnya palsu. Dan ia yang ada di tangan kita dan di tangan para ulama kita. Semua itu harus dilipat dan disembunyikan bahkan harus dimusnahkan! Dan harus diramaikan kecintaan kepada para sahabat dan mendo’akan agar mereka diridhai, dan merahasiakan hal itu (bukti-bukti persengketaan mereka) dari kaum awam dan individu ulama adalah sebuah kawajiban. Dan mungkin diizinkan bagi sebagaian orang ulama yang obyektif  dan jauh dari hawa nafsu untuk mempelajarinya secara rahasia dengan syarat ia memintakan ampunan bagi mereka (para sahabat) seperti diajarkan Allah’” [Siyar A’lâm an Nubalâ’, 10/92]

Sebenarnya kita tidak perlu merisaukan hal tersebut, apalagi sampai berlebihan dengan menyatakan bahwa permasalahan keadilan para shahabat ini masuk ke dalam ruang lingkup aqidah, sehingga jika ditentang akan menyebabkan pelakunya jatuh kepada kekafiran. Nah, pernyataan datang dari mana itu? Apakah karena adanya hadits larangan menghina Sahabat Nabi? Jika yang dimaksud itu adalah para sahabat yang baik dan tidak punya kesalahan apapun, lantas kita mencelanya tanpa alasan yang jelas, maka ini baru salah! Namun jika yang dimaksud itu adalah semua sahabat, maka jelaslah itu bertentangan dengan sejumlah hadits diatas, sehingga menolak kenyataan adalah bentuk kesombongan! Hal ini sama dengan adanya hadits larangan mencela muslim seperti berikut ini:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencela seorang muslim adalah kefasikan, sedang membunuhnya adalah kekafiran.” [HR Bukhari, No. 48; Muslim, No. 64]

Coba direnungkan hadits diatas, apakah hadits tersebut berlaku juga terhadap muslim yang seorang perampok, pembunuh, koruptor dan lain – lain? Jelas tidak!

 

  1. Syiah menabikan Ali, lebih dari nabi, bahkan menuhankannya?

Kang Jalal mengatakan: “Ali lebih dari sahabat yang lain, semua mengakui hal itu baik Syiah maupun Sunni. Ali adalah putera dari paman yang membesarkan Rasulullah SAW, sekaligus suami dari putri kesayangannya, Fathimah az-Zahra. Secara logis, tak mungkin Rasulullah SAW menikahkan putri satu-satunya dengan orang yang tidak beliau ketahui kebaikan dan track record-nya. Belum lagi, sebuah hadis yang menyebutkan “Muhammad adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya”, hadis ini cukup kuat untuk memperlihatkan betapa luar biasanya Ali. Dialah satu-satunya manusia yang lahir di dalam Baitullah. Luar biasa istimewa bukan, maka wajarlah Ali begitu dikultuskan. Namun, Syiah paham betul, Muhammadlah nabi terakhir, maka kesalahan fatal lagilah jika kalian berpikir mengkultuskan Ali sama dengan menganggapnya sebagai nabi.

Adapun mengenai gelar alaihis salam dibelakang nama Ali bin Abi Thalib dan belasan keturunannya, itu bukan berarti bahwa mereka dianggap nabi. Karena jika demikian, maka imam al-Bukhari pun telah menganggap Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husein sebagai nabi baru, karena beliau sendiri di dalam sejumlah hadits shahihnya menyebutkan mereka dengan gelar as. Misalnya saja, penyebutan untuk Ali bin Abi Thalib (Imam maksum ke 1) & Fathimah az-Zahra:

عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ كَانَتْ لِي شَارِفٌ مِنْ نَصِيبِي مِنْ الْمَغْنَمِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَانِي شَارِفًا مِنْ الْخُمْسِ فَلَمَّا أَرَدْتُ أَنْ أَبْتَنِيَ بِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاعَدْتُ رَجُلًا صَوَّاغًا مِنْ بَنِي قَيْنُقَاعَ أَنْ يَرْتَحِلَ مَعِي فَنَأْتِيَ بِإِذْخِرٍ أَرَدْتُ أَنْ أَبِيعَهُ مِنْ الصَّوَّاغِينَ وَأَسْتَعِينَ بِهِ فِي وَلِيمَةِ عُرُسِي

Ali Alaihis Salam berkata Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari ghanimah dan Rasulullah memberikan unta kepadaku dari bagian khumus (seperlima). Ketika aku ingin menikahi Fathimah Alaihas Salam binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam aku menyuruh seorang laki-laki pembuat perhiasan dari bani Qainuqa’ untuk pergi bersamaku maka kami datang dengan membawa wangi-wangian dari daun idzkhir, aku jual yang hasilnya kugunakan untuk pernikahanku.” [Shahih Bukhari 3/60 no 2089]

Penyebutan untuk Hasan bin Ali (Imam maksum syiah ke 2):

حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَام يُشْبِهُهُ قُلْتُ لِأَبِي جُحَيْفَةَ صِفْهُ لِي قَالَ كَانَ أَبْيَضَ قَدْ شَمِطَ وَأَمَرَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَ عَشْرَةَ قَلُوصًا قَالَ فَقُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ نَقْبِضَهَا

Telah menceritakan kepadaku Amru bin Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Khalid yang berkata aku mendengar Abu Juhaifah RA berkata ‘Aku melihat Nabi SAW dan Hasan bin Ali Alaihimas Salam sangat mirip dengan Beliau’. Aku [Ismail] bertanya kepada Abu Juhaifah “Ceritakan sifat Beliau kepadaku?”. Abu Juhaifah berkata ‘Beliau berkulit putih, rambut Beliau sudah beruban dan Beliau pernah memerintahkan untuk memberi 13 anak unta kepada kami’. Ia kemudian berkata ‘Nabi SAW wafat sementara kami belum sempat mengambil pemberian Beliau tersebut’.” [Shahih Bukhari, 4/187, no 3544]

Penyebutan untuk Husein bin Ali (Imam maksum syiah ke 3):

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلَام أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيًّا قَالَ كَانَتْ لِي شَارِفٌ مِنْ نَصِيبِي مِنْ الْمَغْنَمِ يَوْمَ بَدْرٍ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَانِي شَارِفًا مِنْ الْخُمُسِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abdullah dari Yunus dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ali bin Husain bahwa Husain bin Ali Alaihimas Salam mengabarkan kepadanya bahwa Ali berkata “Aku memiliki seekor unta yang kudapat dari bagian ghanimah dalam perang badar dan Nabi SAW memberiku unta dari bagian khumus (seperlima)” [Shahih Bukhari, 4/78, no 3091]

Begitupun dari tokoh sunni yang lainnya ada juga yang berlaku demikian. Misalnya saja, penyebutan untuk Ali bin Husein (Ali Zainal Abidin as-Sajjad, Imam maksum syiah ke 4) oleh Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H) ketika menafsirkan QS al-Isra’ ayat 26, ia berkata menyebutkan sanad riwayat berikut:

حدثني محمد بن عمارة الأسدي، قال: ثنا إسماعيل بن أبان، قال: ثنا الصباح بن يحيى المرنى، عن السدي، عن أبي

… الديلم، قال: قال علي بن الحسين عليهما السلام

Dengan sanad yang sampai kepada Abi Al-Dailam: ‘Ali bin al-Husain alaihimas Salam” [kitab Jami’ al-Bayan ‘an-Ta’wil Ay al-Qur’an, jilid 9, hal 72]

Penyebutan untuk Ja’far as-Shadiq (Imam maksum syiah ke 6) oleh Fakhruddin Al-Razi (w. 604 H) ketika menafsirkan QS Thaha ayat 1, ia berkata:

يحكى عن جعفر الصادق عليه السلام الطاء طهارة أهل البيت والهاء هدايتهم

Dituturkan dari Ja’far as-Shadiq Alaihis Salam: Tha’ maknanya thaharah (kesucian) Ahlulbait dan Ha’ berarti hidayatuhum (petunjuk mereka)” [kitab Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib, jilid 12, hal 4]

Penyebutan untuk Ali ar-Ridha (Imam maksum syiah ke 8) oleh Ibn al-Atsir, sejarawan klasik terkenal, ketika membahas kejadian tahun 510 H, ia berkata:

في هذه السنة، في عاشوراء، كانت فتنة عظيمة بطوس، في مشهد علي بن موسى الرضا عليه السلام

Pada tahun ini, di hari Asyura, terjadi fitnah besar di kota Thus, di mahsyad Ali bin Musa Al-Ridha Alaihis Salam” [kitab al-Kamil fi al-Tarikh, jilid 10, hal 522]

Dan hal yang paling besar datang dari Imam asy-Syawkani, beliau tidak hanya menyebut ahlulbait dengan gelar as saja, bahkan juga menganggapnya maksum:

عصمة علي وحجة قوله: ذهب إلى القول لهما جماعة من أهل البيت عليهم السلام

(Keyakinan bahwa) Ali ma‘shum dan perkataannya menjadi hujjah: didapati dua pernyataan itu merupakan (keyakinan) mayoritas dari AhlulBait alaihi mussalam” [Imam asy-Syawkani, al-Fath ar-Rabbani, risalah no. 131 Uqud az-Zabarjad fi Jiyd Masa‘il Alamat Dhamad, hal 4085 (cet Maktabah al-jiyl al-jadid)]

Lalu ada lagi kabar jika pihak syiah melebihkan Ali atau imam maksum yang lainnya dari nabi. Kali ini memang benar anggapan tersebut bahwa 12 imam maksum mereka derajatnya lebih tinggi dari para nabi as dan rasul as, kecuali nabi Muhammad SAW. Tapi hal tersebut hanyalah ijtihad para ulama syiah, sehingga boleh saja tidak setuju. Mereka berijtihad demikian alasannya karena tugas imam bukan lagi sebagai penyampai wahyu kepada umat manusia sebagaimana tugas nabi dan rasul, akan tetapi lebih besar lagi, yaitu ditugaskan oleh Allah sebagai khalifah untuk mengimplementasikan syari’at-Nya. Hujjah mereka ini dibangun berdasarkan dalil baik dari al-Qur’an dan hadits referensi sunni, misalnya saja:

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ – قَالَ – فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا. فَيَقُولُ لاَ. إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ. تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الأُمَّةَ

Sekelompok dari umatku ada yang akan terus membela kebenaran hingga hari kiamat. Menjelang hari kiamat turunlah ’Isa bin Maryam. Kemudian pemimpin umat Islam saat itu berkata: ‘(Nabi Isa), pimpinlah shalat bersama kami.’ Nabi Isa pun menjawab: ‘Tidak, Sesungguhnya sudah ada di antara kalian yang pantas jadi imam. Sungguh, Allah telah memuliakan umat ini.’” [HR Muslim, No. 156]

Hadits diatas oleh pihak syiah diartikan bahwa derajat sang imam Mahdi lebih tinggi daripada nabi Isa as, hal ini karena nabi Isa as diceritakan akan menjadi pengikut imam Mahdi dan shalat bermakmum kepadanya di akhir zaman nanti.

Kemudian dalil dari al-Qur’an, Allah berfirman:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan berbagai ujian, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘dari keturunanku juga’. Allah berfirman: ‘Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim.’” [QS al-Baqarah, 124]

Diceritakan pada ayat diatas sebenarnya nabi Ibrahim as sudah diangkat menjadi nabi dan rasul sejak usianya yang relatif muda. Beliau diuji oleh Allah dengan berbagai macam ujian kehidupan, baru setelah sudah sepuh, dengan ujian terberat menyembelih anaknya yaitu nabi Ismail as, maka beliau diangkat menjadi imam.

Perlu diketahui juga, menurut pihak syiah, utusan Allah didalam al-Qur’an itu ada 3 posisi, yaitu sebagai nabi, rasul dan imam. Satu orang kadang hanya menjabat sebagai nabi saja atau imam saja, bisa juga sebagai rasul dan nabi, bahkan bisa sampai memiliki 3 posisi sekaligus yakni sebagai nabi, rasul dan imam. Misalnya saja yang memiliki ketiganya seperti nabi Yusuf as, nabi Sulaiman as, nabi Ibrahim as, nabi Daud as dan yang lain – lainnya terutama nabi Muhammad SAW.

Jadi kita tidak perlu sampai memvonis sesat bahkan kafir terhadap pihak syiah atas hal tersebut, karena mereka sendiri punya hujjah dalil naqli yang cukup kuat.

Lalu ada lagi isu yang lebih sadis bahwa pihak syiah menyembah Ali sebagai Tuhan. Hal ini jelas tuduhan keji. Tapi pihak anti syiah itu telah menghalalkan segala cara untuk membenarkan hal tersebut. Salah satunya dengan mengutip riwayat syiah secara sepotong sehingga jauh dari makna aslinya dari pernyataannya Ali bin Abi Thalib yang berbunyi:  “Ali adalah dzat yang awal dan yang akhir”, Jika anda pernah membacanya lalu mempercayainya, maka ‘selamat’, anda telah tertipu mentah – mentah! Karena riwayat tersebut dikutip secara tidak utuh dan hanya bermakna kiasan saja. Beginilah riwayat lengkapnya:

ختص: روي أن أمير المؤمنين عليه السلام كان قاعدا في المسجد وعنده جماعة من أصحابه، فقالوا له: حدثنا يا أمير المؤمنين، فقال لهم: ويحكم إن كلامي صعب مستصعب لا يعقله إلا العالمون، قالوا: لابد من أن تحدثنا، قال: قوموا بنا فدخل الدار فقال: أنا الذي علوت فقهرت، أنا الذي احيي واميت، أنا الاول والآخر والظاهر والباطن، فغضبوا وقالوا: كفر ! وقاموا، فقال علي عليه السلام للباب: يا باب استمسك عليهم، فاستمسك عليهم الباب، فقال: ألم أقل لكم: إن كلامي صعب مستصعب لا يعقله إلا العالمون ؟ تعالوا افسر لكم، أما قولي: أنا الذي علوت فقهرت فأنا الذي علوتكم بهذا السيف فقهرتكم حتى آمنتم بالله ورسوله، وأما قولي: أنا احيي واميت فأنا احيي السنة واميت البدعة، وأما قولي: أنا الاول فأنا أول من آمن بالله وأسلم وأما قولي: أنا الآخر فأنا آخر من سجى على النبي صلى الله عليه واله ثوبه ودفنه، وأما قولي: أنا الظاهر والباطن فأنا عندي علم الظاهر والباطن، قالوا: فرجت عنا فرج الله عنك

Suatu hari imam Ali as berdiri di masjid dan di hadapannya terdapat para shahabat beliau. Mereka berkata: ‘Ajarilah kami wahai amirul mukminin.’ Imam Ali as menjawab: ‘Kata – kataku berat sekali dan tidak akan mampu menerimanya kecuali yang memiliki ilmu.’ Mereka berkata: ‘Pokoknya, ajari kami.’ Imam Ali as menjawab: ‘Kalau begitu, ikutilah aku.’ Lalu masuk ke dalam rumah. Kemudian imam Ali as berkata: ‘Akulah yang tinggi karena itu aku menang, akulah yang menghidupkan dan mematikan, akulah yang awal dan yang akhir dan yang lahir dan yang batin.’ Lalu mereka yang mendengar itu menjadi marah, lalu mau keluar rumah sambil berkata: ‘Ini kufur/kafir’. Imam Ali as berkata kepada Baab: ‘Wahai Baab, cegah mereka!’ Lalu Baab mencegah mereka untuk pergi. Imam Ali as berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepada kalian bahwa kata – kataku itu berat dimana tidak akan ada yang memahaminya kecuali yang memiliki ilmu pengetahuan. Dengarkanlah, aku akan menafsirkan kata – kataku itu. Kata – kataku yang terucap: ‘Akulah yg tinggi hingga aku menang’, maka maknanya adalah bahwa aku ini menang ke atas kalian dengan pedang ini, karena itu aku menang ke atas kalian hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya SAWW.  Sedangkan kata – kataku: ‘Aku yang menghidupkan dan mematikan’, maksudnya menghidupkan sunnah (sunnatullah dan sunnatunnabi) dan mematikan bid’ah. Sedang kata – kataku: ‘Aku yang awal’, maksudnya aku orang pertama yang beriman kepada Allah dan menerima Islam. Dan kata – kataku: ‘Aku adalah yang akhir’, maksudnya adalah bahwa akulah yang akhirnya mengkafani kanjeng Nabi SAWW dan menguburkan beliau SAWW. Sedang maksud kata – kataku, ‘Akulah yang lahir dan yang batin’, adalah aku memiliki ilmu yg lahir dan yang batin. Lalu mereka berkata: ‘Engkau telah menjayakan kami, semoga Allah menjayakanmu.’” [Bihaaru al-Anwaar, 42/189]

Cobalah direnungkan dulu dengan pikiran yang jernih dan objektif, bahwa seghuluw-ghuluwnya orang, mereka tidak akan sampai menyembah orang yang dikaguminya, kecuali jika orang yang dikaguminya itu mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan, atau adanya pemberitaan bahwa dirinya adalah Tuhan seperti yang disangkakan umat kristiani terhadap Yesus. Sedangkan Ali dan para pengikutnya tidak pernah ada yang mengakui bahwa mereka berkeyakinan seperti itu, kecuali dari kalangan syiah ghulat yang entah benar atau tidaknya dalam sejarah pernah ada keberadaan mereka tesebut, karena ada keraguan dari pihak syiahnya sendiri. Lagipula konsep ketuhanan dalam syiah itu sangat tegas dan radikal, jauh bertolak belakang dengan isu miring tersebut. Anda dapat membaca kumpulan fatwa para ulama syiah, misalnya saja: “Tuhan berbeda dengan apapun. Oleh karena itu, semua ciri khas kemakhlukan termasuk Nabi, Ali dan siapa pun tidak ada pada Tuhan. Jadi, sekedar mengutip isu Syiah menuhankan Ali adalah tindakan bodoh. Kalau pun ada orang yang mengaku Syiah dan menuhankan Ali, maka dia lebih najis dari babi dan anjing. Para ulama Syiah dahulu dan kontemporer sepakat dengan kenajisan mereka.” [ Khomeini, Tahrir al-Wasîlah, juz 1, hal 107]

 

  1. Adakah tahrif al-Qur’an di Mazhab Syiah?

Baik syiah maupun sunni memiliki kitab suci yang sama, yaitu al-Qur’an, tanpa perubahan sedikitpun. Ulama syiah, Syaikh Ja’far Al-Hadi mengatakan:

ويعتقدون بأن القران الكريم، الذي انزل على رسول الاسلام محمد صلى الله عليه واله بواسطة جبرئيل الأمين، ودونه مجموعة من الصحابة الكبار وفي مقدمتهم علي بن أبي طالب عليه السلام في عهد النبي الكريم محمد صلى الله عليه واله، وتحت إشرافه ورعايته، وبأمره، وإرشاده، وحفظوه عن ظهر قلب، وأتقنوه، وأحصوا حروفه وكلماته، و سوره واياته، وتناقلوه جيلا بعد جيل، هو الذي يتلوه المسلمون اليوم بجميع طوائفهم، اناء الليل وأطراف النهار، من دون زيادة أو نقصان، أو تحريف، أو تغيير

Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an yang mulia adalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikat Jibril dan disusun oleh sekelompok sahabat besar dan yang paling utama diantara mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib as pada masa nabi mulia. Di bawah pengawasan, bimbingan, perintah Nabi Saw, dijaganya dalam hati, diyakininya, dihitung jumlah hurufnya, kalimatnya, surahnya dan ayatnya. Disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya adalah yang sekarang dibaca oleh kaum Muslimin dengan berbagai kelompok, malam dan siang, tanpa tambahan atau pengurangan, tanpa penyimpangan atau perubahan.” [Ja’far al-Hadi, al-Haqiqah Kama Hiya, hal 21]

Atau dari Allamah Sayyid Muhammad Husain Al-Thabathaba’i dalam kitab Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, mengatakan:

وخلاصة الحجة أن القرآن أنزله الله على نبيه ووصفه في آيات كثيرة بأوصاف خاصة لو كان تغير في شيء من هذه الأوصاف بزيادة أو نقيصة أو تغيير في لفظ أو ترتيب مؤثر فقد آثار تلك الصفة قطعا لكنا نجد القرآن الذي بأيدينا واجدا لآثار تلك الصفات المعدودة على أتم ما يمكن وأحسن ما يكون فلم يقع فيه تحريف يسلبه شيئا من صفاته فالذي بأيدينا منه هو القرآن المنزل على النبي صلى الله عليه وآله وسلم

Kesimpulan bukti adalah sungguh Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya dan dijelaskan sifat-sifatnya (Al-Qur’an) yang khusus melalui banyak ayat Al-Qur’an. Seandainya terjadi perubahan menyangkut sesuatu dari sifat-sifat (Al-Qur’an) tersebut dalam bentuk penambahan atau pengurangan atau perubahan lafaz, atau urutan yang berpengaruh, maka tentu akan mempengaruhi sifat-sifat (Al-Qur’an) tersebut. Justru kita mendapati Al-Qur’an yang berada di tangan kita, terpenuhi sifat-sifatnya dalam bentuk yang sempurna dan sebaik mungkin. Dengan demikian, tidak terjadi atas Al-Qur’an perubahan yang menjadikannya luput dari sifat-sifatnya dan dengan demikian pula Al-Qur’an yang berada di tangan kita adalah Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi SAW.” [Allamah Sayyid Muhammad Husain Al-Thabathaba’i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, jilid 12 (Beirut: Muassasah Al-A’lami lil Mathbu’at, 1411 H), hal 105]

Pihak anti syiah biasanya menyerang bahwa al-Qur’an syiah mengalami tahrif karena adanya hadits dari al-kafi yang diklaim sepihak oleh mereka sebagai kitab hadits shahihnya syiah, sebagaimana hadits shahih Bukhari & Muslim disisi mereka, padahal para ulama syiahnya sendiri menyatakan bahwa tidak semua riwayat hadits dari al-kafi adalah shahih, bahkan sampai 50%-nya. Misalnya saja:

عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جَبْرَئِيلُ (عليه السلام) إِلَى مُحَمَّدٍ (صلى الله عليه وآله) سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ

Ali bin Al-Hakam dari Hisyaam bin Saalim dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis salaam] ia berkata “Sesungguhnya Al Qur’an yang diturunkan melalui perantaraan Jibril [‘alaihis salaam] kepada Muhammad [shallallaahu ‘alaihi wa aalihi] adalah 17.000 ayat.” [Kulaini, al-Kâfi, juz 2, No. 28, Fadhli al-Qur’an, Bab an-Nawâdir]

Hadits di atas sanadnya terputus jika hanya berdasarkan zhahir sanad di kitab al-Kafi, yakni yang menunjukkan al-Kulaini mendengar atau menerima dari ‘Ali al-Hakam, karena al-Kulaini sendiri baru lahir (tahun 250 H ke atas atau tahun 260 H) setelah Ali bin Hakam wafat (tahun 220 H, pertimbangan maksimal), sehingga menunjukkan diantara keduanya tidaklah pernah bertemu. Ada lagi Ahmad bin Muhammad bin Sayyar yang lebih dulu mencatat riwayat ini sebelum al-Kulaini mencatatnya dalam al-Kafi. Nah, lantas apa status Ahmad bin Muhammad bin Sayyar ini pada kitab – kitab rijal syiah Imamiyyah? Berikut inilah jawabannya:

ويعرف بالسياري ضعيف الحديث، فاسد المذهب، مجفو الرواية، كثير المراسيل

Ia dikenal dengan al-Sayyari, riwayatnya dha‘if, mazhabnya rusak, dinilai keras (buruk) riwayatnya, banyak riwayat mursal.” [Rijal al-Najasyi hal 78, no. 192]

Status dha‘ifnya juga disebutkan dalam al-Fihrits karya Syaikh Thusi, halaman 23 no. 60 dan Khulashah al-Aqwal karya Allamah al-Hilli, halaman 320, no. 1259. Selain itu, ini hadits ahad, bukan mutawâtir, tidak qath’i dan al-Kulaini sendiri memasukkannya kedalam bab an-Nawâdir, sedangkan hadits nawâdir tidak dapat dijadikan pijakan beramal, sebagaimana istilah nadir (bentuk tunggal kata Nawâdir) sama dengan istilah syâdz. Dan para imam syiah telah memberikan kaidah dalam menimbang sebuah riwayat yaitu hadits syâdz harus ditinggalkan dan kembali kepada yang disepakati al-Mujma alaih. Imam Ja’far Shadiq berkata:

يَنْظُرُ إلَى ما كان مِن رِوَايَتِهِم عَناّ فِي ذلك الذي حَكَمَا بِه الْمُجْمَع عليه مِن أصحابِك فَيُؤْخَذُ بِه من حُكْمِنَا وَ يُتْرَكُ الشَّاذُّ الذي ليْسَ بِمَشْهُوْرٍ عند أصحابِكَ، فإنَّ الْمُجْمَعَ عليه لاَ رَيْبَ فيه

Perhatikan apa yang di riwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Diantara riwayt-riwayat itu, apa yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, maka ambillah! Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur di antara sahabat-sahabatmu maka tinggalkanlah! Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan.” [Al-Kâfi, Kitab Fadhli al-Ilmi, Bab Ikhtilâf al-Hadîts, No 1o]

Hal ini juga membuktikan kebenaran dari pernyataan para ulama syiah bahwa kitab al-Kafi yang ditulis oleh al-Kulaini ini walapun dijadikan sebagai kitab hadits rujukan mazhab syiah, tapi kedudukannya tidak semuanya berstatus shahih. Karena logikanya, untuk apa al-Kulaini memasukkan hadits 17000 ayat al-Qur’an ini kedalam bab an-Nawadir jika semua riwayatnya dalam al-Kafi adalah shahih?!

Ada juga pihak anti syiah mengarang cerita bahwa al-Qur’an syiah yang ada saat ini memang sama persis dengan al-Qur’an mereka, hanya saja itu bukanlah al-Qur’an yang asli, karena al-Qur’an syiah yang asli akan dimunculkan oleh imam Mahdi di akhir zaman nanti. Hal tersebut mereka sandarkan berdasarkan pada hadits dari Muhammad al-Baqir (imam maksum syiah ke 4) ini:

إذا قام القائمُ مِن آلِ محمدٍ ضَرَبَ فَساطِيْطَ لِمنْ يُعَلِّمُ الناسَ القرآنَ علىَ ما أنْزَلَهُ اللهُ عز و جل، فَأَصْعَب ما يكُونُ على مَنْ حَفِظَهُ اليومَ، لأَنَّهُ يُخالِفُ فيهِ التَّألِيْف

Apabila al-Qâim dari keluarga Muhammad (Imam Mahdi) bangkit ia akan mendirikan tenda-tenda untuk orang-orang yang mengajarkaan al-Qur’an sesuai apa yang diturunkan Allah. Dan yang paling kerepotan adalah orang yang menghafalnya sekarang, sebab ia berbeda susunannya.” [Rawdhah al-Wâidzîn, 265 dan al-Irsyâd: 365]

Para ulama syiahnya sendiri menyatakan bahwa maksud daripada riwayat diatas adalah hanya berbeda dari sisi susunannya saja yang disesuaikan dengan urutan nuzûl/turunnya, alias tidak ada berbedaan dari hal isi surah maupun ayat – ayatnya.

 Terakhir, adanya mushaf fatimah yang dituduhkan oleh pihak anti syiah sebagai al-Qur’annya versi syiah. Mushaf tersebut sebenarnya bukanlah al-Qur’an, melainkan hanyalah sekumpulan tulisan fatimah az-Zahra yang dikumpulkan dalam bentuk mushaf sebagaimana yang telah dijelaskan dalam riwayat al-Kafi:

وَ إِنَّ عِنْدَنَا لَمُصْحَفَ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ مَا يُدْرِيهِمْ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ قُلْتُ وَ مَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) قَالَ مُصْحَفٌ فِيهِ مِثْلُ قُرْآنِكُمْ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَ اللَّهِ مَا فِيهِ مِنْ قُرْآنِكُمْ حَرْفٌ وَاحِدٌ قَالَ قُلْتُ هَذَا وَ اللَّهِ الْعِلْمُ

Dan sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah as dan tidaklah mereka mengetahui apa itu Mushaf Fathimah. Aku [Abu Bashiir] berkata dan apakah Mushaf Fathimah as itu? Beliau berkata ‘Mushaf yang di dalamnya tiga kali seperti al-Qur’an kalian, demi Allah tidak ada didalamnya satu huruf pun al-Qur’an’. Aku berkata ‘demi Allah, ini adalah ilmu’.” [al-Kulaini, al-Kafi 1/239]

 Selanjutnya dari Abu Ubaidah dari Abu Abdullah:

قَالَ فَمُصْحَفُ فَاطِمَةَ (عليها السلام) قَالَ فَسَكَتَ طَوِيلًا ثُمَّ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَبْحَثُونَ عَمَّا تُرِيدُونَ وَ عَمَّا لَا تُرِيدُونَ إِنَّ فَاطِمَةَ مَكَثَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ (صلي الله عليه وآله وسلم) خَمْسَةً وَ سَبْعِينَ يَوْماً وَ كَانَ دَخَلَهَا حُزْنٌ شَدِيدٌ عَلَى أَبِيهَا وَ كَانَ جَبْرَئِيلُ (عليه السلام) يَأْتِيهَا فَيُحْسِنُ عَزَاءَهَا عَلَى أَبِيهَا وَ يُطَيِّبُ نَفْسَهَا وَ يُخْبِرُهَا عَنْ أَبِيهَا وَ مَكَانِهِ وَ يُخْبِرُهَا بِمَا يَكُونُ بَعْدَهَا فِي ذُرِّيَّتِهَا وَ كَانَ عَلِيٌّ (عليه السلام) يَكْتُبُ ذَلِكَ فَهَذَا مُصْحَفُ فَاطِمَةَ عليها السلام

(seorang) berkata “apa itu Mushaf Fathimah?”. Abu ‘Abdillah terdiam beberapa lama, lalu berkata “Sesungguhnya kalian benar benar ingin mempelajari apa-apa yang kalian inginkan dan tidak kalian inginkan. Sesungguhnya Faathimah hidup selama 75 hari sepeninggal Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) Ia sangat merasakan kesedihan atas kematian ayahnya. Maka pada waktu itu, Jibriil datang kepadanya dan mengucapkan ta’ziyyah atas kematian ayahnya, menghiburnya, serta mengabarkan kepadanya tentang keadaan ayahnya dan kedudukannya (disisi Allah). Jibril juga mengabarkan kepadanya tentang apa yang akan terjadi terhadap keturunannya setelah Faathimah meninggal. Dan selama itu ‘Aliy mencatatnya. Inilah Mushaf Fathimah. [al-Kulaini, al-Kafi 1/241]

Sebagian orang berkeberatan malaikat Jibril as berbicara dengan Fatimah karena beliau bukanlah seorang nabi. Padahal disumber sunnipun Jibril as diceritakan berbicara dengan Umar dan bunda Maryam yang sama saja bukan seorang nabi. Maka agar adil merekapun seharusnya mau mempermasalahkannya.

Jika pihak anti syiah tadi menuduh bahwa ada al-Qur’an versi syiah yang berbeda dengan nama mushaf Fatimah, padahal itu bukan al-Qur’an sebagaimana yang dituduhkan, maka berbeda halnya dengan yang dimiliki oleh Siti Aisyah yakni al-Qur’an mushaf Aisyah yang dianggap lebih bagus, karena al-Qur’an yang ada saat ini katanya dibaca secara tidak tersusun. kok tidak dikritik? ini haditsnya:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ أَخْبَرَهُمْ قَالَ وَأَخْبَرَنِي يُوسُفُ بْنُ مَاهَكٍ قَالَ

إِنِّي عِنْدَ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِذْ جَاءَهَا عِرَاقِيٌّ فَقَالَ أَيُّ الْكَفَنِ خَيْرٌ قَالَتْ وَيْحَكَ وَمَا يَضُرُّكَ قَالَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَرِينِي مُصْحَفَكِ قَالَتْ لِمَ قَالَ لَعَلِّي أُوَلِّفُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُقْرَأُ غَيْرَ مُؤَلَّفٍ قَالَتْ وَمَا يَضُرُّكَ أَيَّهُ قَرَأْتَ قَبْلُ إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنْ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا وَلَوْ نَزَلَ لَا تَزْنُوا لَقَالُوا لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا لَقَدْ نَزَلَ بِمَكَّةَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَجَارِيَةٌ أَلْعَبُ

{ بَلْ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ }

وَمَا نَزَلَتْ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَالنِّسَاءِ إِلَّا وَأَنَا عِنْدَهُ قَالَ فَأَخْرَجَتْ لَهُ الْمُصْحَفَ فَأَمْلَتْ عَلَيْهِ آيَ السُّوَرِ

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Yusuf bahwa Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada mereka, ia berkata; Dan Telah mengabarkan kepadaku Yusuf bin Mahik ia berkata; Suatu ketika, aku berada di tempat Aisyah Ummul Mukminin radliallahu ‘anha, tiba-tiba seorang dari Irak menemuinya seraya berkata, “Kain kafan yang bagaimanakah yang lebih baik?” Aisyah menjawab, “Huss kamu, apakah yang menimpamu?” laki-laki itu berkata, “Wahai Ummul Mukminin, tunjukkanlah Mushhaf Anda padaku.” Aisyah bertanya, “Untuk apa?” Ia menjawab, “Agar aku dapat menyusunnya. Sebab, Al Qur`an itu dibaca secara tidak tersusun.” Aisyah berkata, “Lalu apa yang menghalangimu untuk membaca bagian apa saja darinya. Sesungguhnya yang pertama-tama kali turun darinya adalah surat Al Mufashshal yang di dalamnya disebutkan tentang surga dan neraka. Dan ketika manusia telah condong ke Islam, maka turunlah kemudian ayat-ayat tentang halal dan haram. Sekiranya yang pertama kali turun adalah ayat, ‘Janganlah kalian minum khamer.’ Niscaya mereka akan mengatakan, ‘Sekali-kali kami tidak akan bisa meninggalkan khamer selama-lamanya.’ Dan sekiranya juga yang pertamakali turun adalah ayat, “Janganlah kalian berzina..’ niscaya mereka akan berkomentar, ‘Kami tidak akan meniggalkan zina selama-lamanya.’ Ayat yang diturunkan kepada Rasulullah di Makkah yang pada saat itu aku masih anak-anak adalah: Bal as saa’atu mau’iduhum was saa’atu adhaa wa amarr. (QS. ALqamar 46).’ Dan tidaklah surat Al Baqarah dan An Nisa` kecuali aku berada di sisi beliau.” Akhirnya, Aisyah mengeluarkan Mushhaf dan mendiktekan kepada orang Irak itu beberapa surat.” [Shahih al-Bukhari No. 4609 (4993)]

Jika mau bersikap adil, ternyata pada hadits – hadits referensi sunni juga ada riwayat tentang tahrif al-Qur’an, lantas apakah anda mempercayainya? Tentu saja tidak, dengan beragam alasan pastinya. Maka sama saja dengan pihak syiah yang punya alasan tersendiri untuk membantah dan tidak mempercayai riwayat – riwayat dari mazhabnya terkait tahrif al-Qur’an itu. Nah, dibawah ini adalah sejumlah riwayat sunni sekedar perbandingan saja agar anda mau bersikap adil.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Umar memerintah agar umat Islam berkumpul, setelah berkumpul ia berpidato, setelah memuji Allah, ia berkata:

أَيُّها الناس! لا يَجْزِعَن مِنْ آيَةِ الرَجْمِ، فَإِنَها أيَةٌ نزلَتْ في كتابِ اللهِ و قَرَأْناها، و لَكِنَّها ذَهَبَتْ في قُرْآنٍ كَثِيْرٍ ذهَبَ معَ محَمَّدٍ.

Hai sekalian manusia! Jangan ada orang yang sedih atas ayat Rajam. Sesungguhnya ia adalah ayat yang diturunkan dalam Kitab Allah, kami semua membacanya, akan tetapi ia hilang bersama banyak ayat Al Qur’an yang hilang bersama (kematian) Muhammad.” [Mushannaf ash-Shan’âni, 7/345, No.13329]

Umar bin Khaththab mengomentari ayat rajam yang hilang, maka ia berkata:

وَ لَوْ لا أَنْ الناسُ يقولُونَ زادَ عُمَرُ في كتابِ اللهِ عزَّ و جَلَّ لَكَتَبْتُهُ بِخَطِّيْ حَتَّى أُلْحِقُهُ بالكتابِ.

Andai bukan karena manusia mengatakan Umar menambah-nambah dalam Kitab Allah pasti aku telah menulisnya dengan tulisanku sendiri sehingga aku gabungkan dengan Kitabullah.” [As Sunan al-Kubrâ, 4/272 hadits No. 7151; 7154; Nushbu ar-Râyah, az-Zaila’I al-Hanafi, 3/318]

Meriwayatkan dari Urwah (keponakan Aisyah), dari Aisyah ia berkata:

كانَتْ سورَةُ الأحزابِ تُقْرَاُ في زمَنِ النبيِّ (ص) مِئَتَيْ آيَة، فَلَمَّا كتَبَ عثْمانُ المصاحِفَ لَمْ نَقْدِرْ مِنْها إلاَّ ما هُوَ الآنَ.

Dahulu surah Al Ahzâb itu dibaca di masa hidup Nabi sebanyak dua ratus ayat. Lalu setelah Utsman menulis mush-haf-mush-haf kita tidak bisa membacanya kecuali yang sekarang ada ini.” [Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân, 2/25]

Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan dalam Shahihnya dari Aisyah istri Nabi:

كانَ فيما أُنْزِلَ مِنَ القُرآنِ {عشر رضعاتٍ معلُوماتٍ يُحَرِّمْنَ} ثُمَّ نُسِخْنَ بِ {خمْسِ معلُوماتٍ}، فَتُوُفِيَ رَسُوْلُ اللهِ (صلى الله عليه و سلمَ) و هُنَّ فيما يُقْرَأُ مِنَ القرآنِ.

Termasuk yang diturunkan dalam Al Qur’an tentang hukum sepuluh kali menyusui adalah mengharamkan (menjadikan haram dinikahi) kemudian dihapus dengan hukum lima kali menyusui mengharamkan. Rasulullah saw. wafat sementara ayat-ayat itu masih dibaca sebagai Al Qur’an.” [Shahih Muslim, 4/167; Sunan ad-Dârimi, 2/157; Mushannaf, 7/467 dan 470; Sunan at-Turmudzi, 3/456; Sunan al-Kubrâ, 7/454 hadits No.1597; Musykil al-Âtsâr, ath Thahhawi, 3/6; Sunan an-Nasa’i, 6/100; al-Muhalla, Ibnu Hazm, 11/191; al-Muwaththa’ Imam Malik, 2/117; Musnad Imam Syafi’i, 1/220]

Abdurrazzaq ash-Shan’ani meriwayatkan dengan sanad shahih, Aisyah berkata:

لَقَدْ كان في كتابِ اللهِ عز و جلَّ عشرُ رضعاتٍ ثُمَ رُدَّ إلى خمسٍِ، و لكنْ مِنْ كتابِ اللهِ ما قُبِضَ مع النبي (صلى الله عليه و سلمَ)

Dalam Kitab Allah –Azza wa Jalla- benar-benar terdapat ayat tentang diharamkannya akibat sepuluh kali menyusu, kemudian dihapus dengan lima kali menyusu, akan tetapi di antara ayat al-Qur’an ada yang dicabut bersama kematian Nabi SAW.” [Mushannaf, 7/469 hadits No. 13928]

Al-Hâfidz Ibnu Abdil Barr al-Andalusi berkata, Abu Nu’aim al-Fadhl ibn Dakîn berkata, Saif menyampaikan hadits kepada kami dari Mujahid, ia berkata:

كانت سورةُ الأحْزابِ مِثْلَ سورة البقرة أو أطول، و لقَدْ ذهبَ يوم مُسَيْلَمَة قُرآنٌ كثيرٌ، و لَمْ يذهب منه حلالٌ ولا حرامٌ.

Dahulu surah al Ahzâb seperti surah al Baqarah atau lebih panjang. Dan benar-benar telah hilang banyak bagian Al Qur’an di hari (pertempurang melawan) Musailamah, dan tidak hilang darinya halal atau haram.” [at-Tamhîd Fî Syarhi al-Muwaththa’,4/275, keterangan hadits No. 21]

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْلَقَدْ أُنْزِلَتْ آيَةُ الرَّجْمِ وَرَضَعَاتُ الْكَبِيرِ عَشْرًا فَكَانَتْ فِي وَرَقَةٍ تَحْتَ سَرِيرٍ فِي بَيْتِي فَلَمَّا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَشَاغَلْنَا بِأَمْرِهِ وَدَخَلَتْ دُوَيْبَةٌ لَنَا فَأَكَلَتْهَا

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub berkata; telah menceritakan pada kami ayahku dari Ibnu Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amru bin Hazm dari Amrah binti Abdurrahman dari Aisyah, isteri Nabi SAW berkata; ‘Sungguh, ayat rajam telah turun dan menyusui anak dewasa itu sepuluh kali. Hal itu terdapat di kertas dibawah tempat tidur dirumahku. Ketika Rasulullah SAW sakit dan kami disibukkan olehnya, rayap masuk ke rumah kami dan memakan kertas itu.’” [Musnad Ahmad, no. 25112]

  حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الطَّحَّانُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَكَمْ تَقْرَءُونَ سُورَةَ الْأَحْزَابِ قَالَ بِضْعًا وَسَبْعِينَ آيَةً قَالَ لَقَدْ قَرَأْتُهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ الْبَقَرَةِ أَوْ أَكْثَرَ مِنْهَا وَإِنَّ فِيهَا آيَةَ الرَّجْمِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Wahab bin Baqiyah telah mengkabarkan kepada kami Khalid bin Abdullah Ath Thahan dari Yazid bin Abu Ziyad dari Zir bin Hubaisy dari Ubay bin Ka’b ia bertanya: Berapa ayat kalian membaca surat alAhzab? Zir bin Hubaisy menjawab: Tujuh puluh ayat lebih. Ubay berkata: Sungguh aku telah membacanya bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti surat alBaqarah atau lebih banyak darinya, dan sungguh di dalamnya terdapat ayat rajam.” [Musnad Ahmad, hadis no 20260, al-Itqan, as-Suyuthi 2/32]

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قَدِمَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ فَطَلَبَهُمْ فَوَجَدَهُمْ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَقْرَأُ عَلَى قِرَاءَةِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُلُّنَا قَالَ فَأَيُّكُمْ أَحْفَظُ فَأَشَارُوا إِلَى عَلْقَمَةَ قَالَ كَيْفَ سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ { وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى } قَالَ عَلْقَمَةُ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى قَالَ أَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ هَكَذَا وَهَؤُلَاءِ يُرِيدُونِي عَلَى أَنْ أَقْرَأَ { وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى } وَاللَّهِ لَا أُتَابِعُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim yang berkata sahabat-sahabat Abdullah datang menemui Abu Darda. Maka ia (Abu Darda) mencari mereka dan menemui mereka. Ia berkata kepada mereka ‘siapakah diantara kalian yang membaca dengan bacaan Abdullah?’, (salah seorang) berkata ‘kami semua’. Ia berkata ‘lalu siapa diantara kalian yang paling baik bacaannya?’ maka mereka pun menunjuk Alqamah. Abu Darda bertanya ‘bagaimana kamu mendengarnya membaca ayat (dari QS al-Lail) Wallaili idzaa yaghsyaa’. Alqamah berkata ‘wadzdzakari wal untsaa’. Abu Darda berkata ‘demi Allah aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membacanya seperti ini, akan tetapi mereka menginginkan agar aku membacanya ‘wama khalaqa dzakara wal untsaa’. Demi Allah, aku tidak akan mengikuti mereka” [Shahih al-Bukhari, 6/170, No 4944; 4943]

حدثنا إسماعيل بن إبراهيم عن أيوب عن نافع عن ابن عمر قال لا يقولن أحدكم قد أخذت القرآن كله وما يدريه ما كله ؟ قد ذهب منه قرآن كثير ولكن ليقل قد أخذت منه ما ظهر منه

 “Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Ayub dari Nafi dari Ibnu Umar yang berkata ‘Janganlah ada salah seorang diantara kalian mengatakan ‘sungguh aku telah mengambil al-Qur’an seluruhnya’. Tahukah ia apa seluruhnya itu? Sungguh telah hilang darinya al-Qur’an yang banyak, hendaknya ia mengatakan ‘sungguh aku telah mengambil darinya apa yang ada [nampak] darinya saja’” [Fadha’il Qur’an Qaasim bin Sallam no 578 (bab 51 hadits 1, hal 190); Sunan Sa’id bin Manshur No 137; ad-Durr al-Mantsûr, 1/106]

Pihak sunni sendiri membantah bahwa sejumlah hadits – hadits mereka yang telah saya kutip diatas bukanlah dimaksudkan sebagai riwayat tahrif al-Qur’an, akan tetapi hanyalah sekedar riwayat yang dinasakh dan qira’at yang syaadz saja. Jika mau dianalisis, sebenarnya sangat mudah untuk kita dapat membantah alasan tersebut. Namun demikian bukanlah maksud saya mau menuduh bahwa pihak sunni meyakini tahrif al-Qur’an, melainkan hanya saja itu sebagai pembelajaran agar anda mau bercermin, sehingga tidak lagi mencari kekurangan mazhab lain, sedangkan mazhab sendiri sama saja terdapat kekurangannya. Nah, terkait alasan qira’at yang syadz terdapat pada hadits shahih bukhari kedua terakhir diatas, dimana Abu Darda sedang memperselisihkan perbedaan lafadz pada ayat  awal QS al-Lail. Qira’at syaadz adalah qira’at yang sanadnya tidak shahih. Jadi mereka yang menolak riwayat tersebut dengan alasan qira’atnya tidak shahih, maka sama saja dengan meragukan kitab hadits tershahih yaitu shahih Bukhari. Jika demikian, maka yang lebih aman adalah menyatakan bahwa hadits shahih belum tentu shahih. Kemudian terkait alasan nasakh, saya bahas 1 hadits saja yang terakhir diatas sebagai perwakilan dari bantahan hadits – hadits lainnya juga.

para ulama dan ahli hadits sunni telah menshahihkan riwayat dari ibnu Umar diatas, dengan rincian sanad riwayat yang saya kutip dari kitab Fadhâil al-Qur’an:

 حدثنا إسماعيل بن إبراهيم عن أيوب عن نافع عن إبن عمرقال

Ismail seorang perawi yang hâfidz tsiqah dan wara’. Ayub adalah ibn Abi Tamimah seorang yang tsiqah, adid dan zâhid. Nâfi’ seorang yang tsiqah. Ibnu Umar seorang sahabat (dalam pandangan sunni semua sahabat adalah udûl).

Nah, yang menjadi permasalahannya hal tersebut dinyatakan sebagai riwayat nasakh tilawah. Oleh karena itu mari baca hasil analisis dan risetnya berikut ini:

Analisis ke-1:

Perihal nasakh-mansukh itu adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah diantara para ulama. Para ulama yang menolak akan adanya nasakh-mansukh ini diantaranya: Imam al-Fakhrur Razy (605H), Muhammad Abduh (1325 H), Sayyid Rasyid Ridla (1354 h), Dr. Taufiq Shidqy, dan lain – lain. Mereka berpendapat jika di dalam al-Qur’an terdapat ayat yang dibatalkan atau dihapus, maka ini berarti sama saja menetapkan bahwa didalamnya terdapat kecacatan, sehingga menganggap Allah yang maha benar telah melakukan kekhilafan (kesalahan). Adapun dalil yang digunakan oleh para ulama yang setuju nasakh-mansukh terdapat pada QS al-Baqarah ayat 106:

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ayat mana saja yang Kami batalkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” [al-Baqarah, Ayat 106]

Menurut para ulama yang menolak hukum nasakh-mansukh, ayat tersebut ditafsirkannya sebagai ayat nasakh yang ditujukan kepada al-Kitab taurat, bukan kepada al-Qur’an, karena yang sedang dibahas pada ayat – ayat disekitarannya tersebut adalah tentang kaum yahudi. Nah, kembali kepada pembahasan hadits diatas, karena Perihal nasakh-mansukh itu adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah diantara para ulama, lantas bagaimanakah dengan para ulama yang menolak adanya nasakh-mansukh itu terhadap sejumlah hadits yang disinyalir sebagai riwayat tahrif al-Qur’an, apakah mereka setuju dengan adanya tahrif al-Qur’an, mengingat mereka tidak setuju dengan perihal nasakh-mansukh itu, atau mereka punya alasan lain?

Analisis ke-2:

Tujuan nasakh-mansukh dalam al-Qur’an adalah untuk menghapus sebuah status hukum didalamnya. jika itu sebatas nasakh tilawah, lantas apa hukum yang mau dihilangkan? Tidak ada! Karena nasakh tilawah itu ayat atau huruf al-Qur’annya dinasakh tetapi matan atau isi hukumnya tetap berlaku. Lantas apa tujuannya? Mungkinkah Allah membuat, mengadakan, menghapus sesuatu itu tanpa disertai dengan tujuan dan alasan yang jelas?

Analisis ke-3:

Sebagian ulama mengatakan bahwa teks “dzahaba” pada hadits diatas bermakna sebagai “nasakh”, bukan “hilang”. Justru hal tersebut bertentangan dengan perkataan yang diucapkan oleh Umar berikut ini:

فقال أبو بكر إن عمر أتاني فقال إن القتل قد استحر بأهل اليمامة من قراء القرآن من المسلمين وأنا أخشى أن يستحر القتل بالقراء في المواطن فيذهب قرآن كثير لا يوعى

Abu Bakar berkata bahwa Umar datang kepadaku dan berkata: ‘sesungguhnya pembunuhan telah memanas di kalangan penduduk Yamamah yaitu terhadap para pembaca al-Qur’an dari kalangan kaum muslimin dan aku khawatir kalau pembunuhan terhadap para pembaca al-Qur’an itu akan memanas di berbagai tempat sehingga akan banyak al-Qur’an yang hilang tanpa disadari.’” [Musnad Ahmad, 1/13, no 76, Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata “shahih sesuai syarat Bukhari, Muslim]

Pada hadits di atas Umar berkata “Fayadzhaba Qur’an Katsiirun” yang artinya “sehingga akan banyak al-Qur’an yang hilang”. Sangat tidak tepat jika dikatakan “sehingga akan banyak al-Qur’an yang dinasakh”. Umar takut kalau sampai terlalu banyak para pembaca al-Qur’an ini wafat maka al-Qur’an yang mereka hafal akan hilang bersama kematian mereka, padahal saat itu al-Qur’an belum dibukukan sehingga Umar menyarankan Abu Bakar untuk segera membukukan al-Qur’an. Peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah SAW wafat, dimana Abu Bakar mengutus para sahabat untuk memerangi Musailamah di Yamamah (Najd). Maka bagaimana mungkin terjadi nasakh jika Rasulullah SAW telah wafat? Jadi, bukankah lebih tepat jika penggunaan kata “dzahaba” itu diartikan sebagai “hilang”?

Analisis ke-4:

Jika ibnu Umar tahu bahwa pernyataannya pada hadits diatas adalah telah dinasakh, maka bukankah seharusnya beliau tidak akan protes dan mengatakan “Telah banyak Al Qur’an yang hilang“? Karena hakikatnya ayat – ayat yang dinasakh bukan lagi bagian dari ayat – ayat al-Qur’an. jadi, bukankah sudah jelas bahwa penakwilan kepada riwayat tersebut jika dinyatakan sebagai riwayat nasakh, maka secara akal tidak bisa diterima?

Analisis ke-5:

Dan jikapun benar itu riwayat yang dinasakh, maka bukankah secara tidak langsung anda telah menghina bahwa ibnu umar adalah sahabat yang kelewat bodoh dalam perihal agama ini, karena tidak mengetahui perihal ayat – ayat al-Qur’an yang hilang itu sebagai yang dinasakh, sehingga mempermasalahkannya? Beranikah anda menganggap bodoh ibnu Umar?

Jadi, jika anda masih bersikukuh bahwa pihak syiah meyakini adanya tahrif al-Qur’an, sedangkan anda sudah tahu bahwa pihak syiahnya sendiri tidak meyakini dan membantah sejumlah haditsnya tersebut, maka andapun harus dapat bersikap adil dengan menganggap bahwa pihak sunni juga meyakini adanya tahrif al-Qur’an, terlebih itu tercantum pada hadits shahih Bukhari & Muslim, berani?!

 

  1. Taqiyah

Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiyya atau ittaqa yang artinya takut. Taqiyah adalah sikap berhati – hati  dengan cara tidak berterus terang untuk menyembunyikan identitas diri demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam sejarah syiah, sikap taqiyah ini sering dijumpai karena mereka selalu dimusuhi dan diburu oleh para penguasa, sehingga untuk menyelamatkan diri, mereka terpaksa untuk melakukan taqiyah.

Banyak sekali orang yang membenci syiah karena bertaqiyah tanpa mau membayangkan terlebih dahulu jika dirinya ada di posisi mereka. Coba anda renungi sejenak, jika anda adalah penduduk suriah yang wilayahnya dikuasai oleh ISIS, dan pihak ISIS memaksakan kepada Anda bai’at untuk menjadikan Abu Bakar al-baghdadi sebagai khalifah (pemimpin), dan mereka mngancam akan membunuh siapa saja yang berani menolak keinginannya tersebut. Dalam hati anda menolaknya, lantas apa yang akan anda lakukan? Apakah menolak berbai’at tapi nyawa yang menjadi taruhannya, atau berpura – pura menerima ba’iat alias taqiyah? Nah, begitupun jika anda adalah penganut syiah, jika di lingkungan anda diketahui oleh penduduk sekitar bahwa anda adalah orang syiah, sehingga akan menimbulkan konflik besar yang bahkan berujung pada ancaman pembunuhan terhadap anda, maka apa yang akan anda lakukan, taqiyah juga kan? Jangankan diancam bunuh, akan dipecat dari pekerjaan saja kita mungkin sudah bertaqiyah!

Perihal taqiyah ini ada dalilnya baik didalam al-Qur’an maupun sumber rujukan dari referensi sunni, ini beberapa buktinya:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, maka lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari hal yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” [QS. Ali Imran, Ayat 28]

Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas sebagai berikut:

قال ابن كثير رحمه الله  قوله: ( إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ) أي: إلا من خاف في بعض البلدان أو الأوقات من شرهم ، فله أن يتقيهم بظاهره لا بباطنه ونيته ؛ كما حكاه البخاري عن أبي الدرداء أنه قال: ” إنَّا لَنَكْشرُ فِي وُجُوهِ أقْوَامٍ وَقُلُوبُنَا تَلْعَنُهُمْ ” انتهى من “تفسير ابن كثير

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ‘Firman Allah ‘kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.’ Maksudnya adalah kecuali orang yang takut pada dalam suatu tempat atau masa dari kejahatan mereka. Dia dibolehkan menyelamatkan dirinya secara zahir, bukan batin dan niatannya. Sebagaimana yang diceritakan Bukhari dari Abu Darda bahwa beliau mengatakan, ‘Sungguh, kadang kami tersenyum di hadapan wajah suatu kaum sementara hati kami melaknatnya.’” [Tafsir Ibnu Katsir, 2/30]

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman (dia dapat murka Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” [QS. an-Nahl, ayat 106]

Pada sumber sunni maupun syiah, asbabun nuzul dari ayat diatas adalah turun mengenai Ammar ibn Yasir. Diceritakan kepada Rasulullah SAW bahwa dirinya terpaksa berbohong telah menjadi kafir murtad karena takut mati disiksa oleh orang – orang kafir Quraish, menjawab hal tersebut lantas nabi membolehkannya.

مَذْهَبُ جُمْهُورُ عُلَمَاءِ أَهْل السُّنَّةِ أَنَّ الأْصْل فِي التَّقِيَّةِ هُوَ الْحَظْرُ ، وَجَوَازُهَا ضَرُورَةٌ ، فَتُبَاحُ بِقَدْرِ الضَّرُورَةِ ، قَال الْقُرْطُبِيُّ : وَالتَّقِيَّةُ لاَ تَحِل إِلاَّ مَعَ خَوْفِ الْقَتْل أَوِ الْقَطْعِ أَوِ الإْيذَاءِ الْعَظِيمِ ، وَلَمْ يُنْقَل مَا يُخَالِفُ ذَلِكَ فِيمَا نَعْلَمُ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ مِنَ الصَّحَابَةِ ، وَمُجَاهِدٍ مِنَ التَّابِعِينَ انتهى

Mazhab jumhur ahlus Sunnah, asal dari taqiyah adalah dilarang. Diperbolehkan dalam kondisi terpaksa, maka boleh dengan keterpaksaan. Qurtuby mengatakan, “Taqiyah tidak dihalalkan kecuali disertai ketakutan terbunuh atau mendapatkan penyiksaan yang berat. tidak dinukil ada yang menyalahi hal itu sepengetahuan kami kecuali apa yang diriwayatkan dari Muadz bin Jabal dari para shahabat. Dan Mujahid dari kalangan tabiin.” [al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 13/186]

حدثنا وكيع عن فضيل بن مرزوق عن الحسن بن الحسن قال إنما التقية رخصة

Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Fudhail bin Marzuq dari Al-Hasan bin Al-Hasan yang berkata: ‘Sesungguhnya taqiyah merupakan rukhsah (keringanan yang diperbolehkan)..” [Mushannaf Ibn Abi Syaibah, juz 11, hal 359, kitab Al-Sirr, bab ke-85, Riwayat no. 33593]

” التقية أن يقول العبد خلاف ما يعتقده لاتقاء مكروه يقع به لو لم يتكلم بالتقية “

انتهى من “أحكام أهل الذمة

Taqiyah adalah seorang hamba mengatakan berbeda dengan apa yang diyakininya untuk menghindari yang akan menimpanya apabila dia tidak berkata dengan cara taqiyah.” [Ibnu Qayyim, Ahkamu Ahli Zimmah, 2/103]

Ada sedikit perbedaan dalam perihal taqiyah ini antara sunni dan syiah. Dari pihak sunni biasanya bersikukuh menyatakan bahwa taqiyah hanya bisa diberlakukan antara kaum muslim yang ditindas oleh kaum kafir saja. Padahal jika mau dipelajari, sebenarnya tidak semua dari pihak sunni yang bersepakat demikian, krena ada juga yang berbeda pendapat, sehingga perihal taqiyah ini menjadi perkara ikhtilafiyah ijtihadiyah diantara mereka. Nah, beberapa pihak sunni yang sependapat dengan syiah terkait perihal taqiyah ini misalnya datang dari mazhab Syafi’i, tepatnya di dalam kitab at-Tafsir al-Kabir jilid 8 halaman 13 yang menyatakan bahwa jika kondisi pertikaian antara sesama kaum muslimin sebagaimana pertikaian antara kaum muslimin dan kafir, maka diperbolehkan bertaqiyah untuk menjaga jiwa (dari ganguan pihak lain). Kemudian dalam Siar A’laam an-Nubala’ jilid 11 halaman 87, dari imam adz-Dzahabi dalam membela Yahya bin Mu’in yang juga seorang imam sunni, Dikarenakan khawatir atas tekanan pemerintah kekhalifahan Abbasiyah yang memaksa untuk mengakui bahwa al-Qur’an adalah makhluk, maka ia melakukan taqiyah. Jadi, jika karena bertaqiyah anda memvonis pihak syiah sebagai kaum munafik, maka anda pun harus dapat bersikap adil dengan memvonis mereka sebagai munafik juga, berani?

Oh ya, berbicara tentang munafik, justru jika mau dipikirkan taqiyah ini sebenarnya adalah lawan kata (antonim) dari sifat munafik. Jika munafik adalah menyembunyikan kekufuran untuk tujuan jahat, sedangkan taqiyah adalah kebalikannya, yakni menyembunyikan keimanan untuk tujuan baik. Maka dimana logikanya bahwa orang – orang yang bertaqiyah sama dengan manusia munafik?!

Ada dari pihak sunni yang menyatakan bahwa mazhab Syafi’i atau nukilan dari imam adz-Dzahabi diatas adalah sebagai perbuatan tauriyah, bukan taqiyah sebagaimana yang dipahami oleh syiah. Bahkan ketika pihak syiah memberikan contoh lain yang bukan dari sekedar pernyataan para imam besar mereka, melainkan dari sabda Rasulullah SAW sendiri, tetap saja disangkalnya demikian. Lantas apa itu tauriyah? Tauriyah adalah mengatakan sebuah kebohongan tapi didalamnya terdapat kebenaran yang bertujuan untuk mengelabui seseorang. Misalnya saja; jika ada 2 orang sedang bertikai, anggap saja si A & si B. Seorang pendamai diantara mereka mengatakan kepada ke 2 orang tersebut diwaktu dan tempat yang berbeda. Si pendamai ini berkata kepada si A bahwa si B selalu mendo’akan dirinya agar selalu dalam kebaikan. Begitupun sebaliknya, si pendamai ini berkata kepada si B bahwa si A selalu mendo’akan dirinya agar selalu dalam kebaikan. Jika mau direnungkan dari contoh kejadian tersebut diatas, sebenarnya dalam hal ini si pendamai tidaklah berbohong, karena dalam bacaan shalat, tiap muslim mendo’akan kebaikan terhadap muslim yang lainnya, maka secara tidak langsungpun si A & si B juga ikut saling mendo’akan diantara mereka. Berbeda halnya dengan taqiyah yang asli berbohong untuk menyembunyikan identitas diri agar terhindar dari konflik.

Jika anda mendapati pernyataan dari kitab syiah yang menyatakan bahwa taqiyah dapat mendatangkan pahala atau seperti: “tiada iman tanpa taqiyah” dan hal – hal sejenisnya, maka ketahuilah bahwa itu tidaklah seperti yang dimaksud, karena hukum taqiyah hanyalah mubah guna melindungi jiwa dan keamanan mereka saja. Maka logikanya darimana taqiyah dapat berlaku demikian sedangkan meninggalkannya adalah justru lebih baik jika mereka mau? Dan tentu saja hal tersebut bertentangan dengan hadits – hadits dari referensi syiah berikut ini:

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن حماد، عن ربعي، عن زرارة، عن أبي جعفر عليه السلام قال: التقية في كل ضرورة وصاحبها أعلم بها حين تنزل به.

Abu Abdillah as berkata: ‘Taqiyah itu (hanya) kalau dalam keadaan terpaksa. Dan pemiliknya (Nabi saww), lebih mengetahui tentangnya ketika diturunkan ayat mengenainya.’” [al-Kafi, Kulaini, bab: Taqiyah, hadits ke: 13]

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن ابن اذينة، عن إسماعيل الجعفي ومعمر بن يحيى بن سام ومحمد بن مسلم وزرارة قالوا: سمعنا أبا جعفر عليه السلام يقول: التقية في كل شئ يضطر إليه ابن آدم فقد أحله الله له

Abu Ja’far as berkata: ‘Taqiyyah itu dalam kondisi darurat/terpaksa, dimana hal ini diperlukan oleh manusia, telah dihalalkan oleh Allah ke atasnya.’” [al-Kafi, Kulaini, bab: Taqiyah, hadits ke: 18]

 محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن زكريا المؤمن، عن عبدالله ابن أسد، عن عبدالله بن عطاء قال: قلت لابي جعفر عليه السلام: رجلان من أهل الكوفة اخذا فقيل لهما: ابرئا من أمير المومنين فبرئ واحد منهما وأبى الآخر فخلي سبيل الذي برئ وقتل الآخر؟ فقال: أما الذي برئ فرجل فقيه في دينه وأما الذي لم يبرء فرجل تعجل إلى الجنة

Abdullah bin Athaa berkata: ‘Aku berkata kepada Abu Ja’far as, bahwa ada dua lelaki dari kota Kufah telah ditangkap. Kemudian dikatakan kepada mereka: ‘Berlepas dirilah (juga mengandungi semacam setengah protes) kamu dari Amirul mukminin (Imam Ali as)’, lalu salah satu diantara keduanya berbaraa-ah atau berlepas diri (dari keimamahan Imam Ali as), maka dia dilepaskan. Sedang yang satunya lagi mengabaikan permintaan pelepasan diri itu, karena dia dibunuh.’ Imam berkata: ‘Yang berlepas diri itu termasuk orang yang mengerti tentang agama dan ahli. Sedang yang tidak berlepas diri itu, buru-buru ingin masuk surga.’” [al-Kafi, Kulaini, bab: Taqiyah, hadits ke: 21]

Dan sebenarnya jika mau dipelajari, ternyata pernyataan dari: “tiada iman tanpa taqiyah” ini juga terdapat pada sumber riwayat referensi sunni, ini buktinya:

حدثنا وكيع عن إسرائيل عن عبد الأعلى عن ابن الحنفية قال: سمعته يقول: لا إيمان لمن لا تقية له

Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Israil dari ‘Abdul A’la dari Ibn Al-Hanafiyah yang berkata: Aku mendengarnya berkata: ‘Tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah’.” [Mushannaf Ibn Abi Syaibah, tahqiq: Muhammad bin ‘AbdAllah al-Jum’ah dan Muhammad bin Ibrahim al-Lahidani, juz 11, hal 359, kitab al-Sirr, bab 85, No. 33590, cetakan 1 (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 1425 H)]

Saya sendiri berpikir bahwa arti taqiyah pada hadits diatas, baik dari referensi sunni maupun syiah adalah takwa, berdasarkan pada pecahan akar kata taqiya yang terdiri dari tiga huruf yaitu Waw+Qaf+Ya, yang mana itu menunjukkan; keshalehan, pengabdian, kejujuran atau bisa juga bermakna bintang paling terang. Hal ini sebagaimana arti dari kata haram yang berasal dari kata Ha+Ra+Ma yang artinya terlarang, namun bisa berbeda makna jika haram itu misalnya diterapkan pada masjidil haram (masjid yang memiliki tanah haram) dengan artian haram yang dimaksud adalah sebagai tempat suci, dikarenakan kemuliaannya, sehingga memiliki norma – norma aturan khusus untuk dapat berada disana. Selengkapnya:

 http://id.wikishia.net/view/Haram_(tempat_suci)

Selain itu, perihal taqiyah diartikan takwa turut didukung juga oleh firman Allah:

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا

Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa (baca arabicnya: ‘Taqiyya’).” [QS Maryam, ayat 63]

 

  1. Para istri nabi termasuk ahlul bait juga?

Terdapat perbedaan terkait siapa ahlul bait nabi antara pendapat sunni dan syiah. Pihak sunni menyatakan bahwa istri para nabi juga termasuk ahlul bait, sedangkan di pihak syiah tidaklah demikian. Diantara kedua belah pihak masing – masing mempunyai dalil yang kuat atas hal tersebut. Namun yang menyedihkan itu jika ada pihak anti syiah yang berburuk sangka dengan menganggap perbedaan tersebut sebagai penghinaan yang dilakukan oleh pihak syiah terhadap para istri nabi, padahal jika mau dipelajari, ternyata pendapat dari pihak sunni pun sebenarnya terdapat khilafiyah juga yang menunjukkan persamaannya terhadap pendapat syiah ini. Saya tunjukkan beberapa buktinya dari hadits – hadits sunni:

اللهم صل على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahlul baitnya dan kepada istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [Musnad Ahmad, 5/374, No 23221, dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth]

Coba direnungkan, jika para istri nabi adalah termasuk ahlul bait juga, lantas kenapa dalam hadits musnad Ahmad diatas malah memisahkan penyebutan antara istri – istrinya, ahlul baitnya dan keturunannya? Hal ini dikuatkan juga dari hadits:

فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده

“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? . Kemudian Zaid menjawab ”Tidak, Demi Allah seorang wanita (istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”. [Shahih Muslim no 2408]

حدثنا الحسن بن أحمد بن حبيب الكرماني بطرسوس حدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا عمار بن محمد عن سفيان الثوري عن أبي الجحاف داود بن أبي عوف عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه في قوله عز و جل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قال نزلت في خمسة في رسول الله صلى الله عليه و سلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم

“Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani yang berkata telah menceirtakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi ‘Auf dari Athiyyah Al ‘Aufiy dari Abu Said Al Khudri RA bahwa firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun untuk lima orang yaitu Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radiallahuanhum.” [Mu’jam As Shaghir Thabrani 1/231 no 375]

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya) di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. [Shahih Sunan Tirmidzi, No 3205]

Hadits Sunan Tirmidzi di atas menyebutkan bahwa ketika ayat tersebut turun, Rasulullah SAW langsung memanggil Sayyidah Fatimah, Ali, Hasan dan Husein, bukannya memanggil istri – istri Beliau. Hal ini telah membuktikan bahwa ayat tersebut sejatinya ditujukan untuk mereka, bukan untuk istri – istri Nabi SAW. Lagipula Ummu Salamah sendiri tidak merasa atau setidaknya meragukan bahwa dirinya adalah Ahlul Bait yang dimaksud. Karena jika saja benar bahwa QS al-Ahzab ayat 33 tersebut diturunkan juga untuk para istri Nabi SAW, maka tentu saja Ummu Salamah pada hadits tersebut tidak perlu mengajukan pertanyaan kepada Nabi: “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?” bahkan dalam riwayat lain Ummu Salamah bertanya: “Apakah Aku termasuk Ahlul Bait?”.

Perhatikan juga beberapa riwayat dari Ummu Salamah lainnya berikut ini:

عن حكيم بن سعد قال ذكرنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه عند أم سلمة قالت فيه نزلت (إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا) قالت أم سلمة جاء النبي صلى الله عليه وسلم إلى بيتي, فقال: “لا تأذني لأحد”, فجاءت فاطمة, فلم أستطع أن أحجبها عن أبيها, ثم جاء الحسن, فلم أستطع أن أمنعه أن يدخل على جده وأمه, وجاء الحسين, فلم أستطع أن أحجبه, فاجتمعوا حول النبي صلى الله عليه وسلم على بساط, فجللهم نبي الله بكساء كان عليه, ثم قال: “وهؤلاء أهل بيتي, فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا, فنزلت هذه الآية حين اجتمعوا على البساط; قالت: فقلت: يا رسول الله: وأنا, قالت: فوالله ما أنعم وقال: “إنك إلى خير”

Dari Hakim bin Sa’ad yang berkata “kami menyebut – nyebut Ali bin Abi Thalib RA di hadapan Ummu Salamah. Kemudian ia (Ummu Salamah) berkata “Untuknya lah ayat (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci – sucinya) turun. Ummu Salamah berkata “Nabi SAW datang ke rumahku dan berkata “jangan izinkan seorangpun masuk”. Lalu datanglah Fathimah maka aku tidak dapat menghalanginya menemui Ayahnya, kemudian datanglah Hasan dan aku tidak dapat melarangnya menemui kakeknya dan Ibunya”. Kemudian datanglah Husain dan aku tidak dapat mencegahnya. Maka berkumpulah mereka di sekeliling Nabi SAW di atas hamparan kain. Lalu Nabi SAW menyelimuti mereka dengan kain tersebut kemuian bersabda “Merekalah Ahlul Baitku, maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci – sucinya”. Lalu turunlah ayat tersebut ketika mereka berkumpul di atas kain. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah SAW dan aku?”. Demi Allah, beliau tidak mengiyakan. Hanya berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan”. [Tafsir at-Thabari, 22/12, No 21739]

عن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت : في بيتي نزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قالت : فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى علي و فاطمة و الحسن و الحسين رضوان الله عليهم أجمعين فقال : اللهم هؤلاء أهل بيتي قالت أم سلمة : يا رسول الله ما أنا من أهل البيت ؟ قال : إنك أهلي خير و هؤلاء أهل بيتي اللهم أهلي أحق

Dari Ummu Salamah RA berkata “Turun dirumahku ayat (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait) kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain RA ajma’in dan berkata “Ya Allah merekalah Ahlul Baitku”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Rasul SAW menjawab “kamu keluargaku yang baik dan Merekalah Ahlul Baitku Ya Allah keluargaku yang haq”. [al-Mustadrak 2/451 no 3558 dishahihkan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi]

حدثنا محمد بن إسماعيل بن أبي سمينة حدثنا عبد الله بن داود عن فضيل عن عطية عن أبي سعيد عن أم سلمة أن النبي – صلى الله عليه و سلم – غطى على علي و فاطمة و حسن و حسين كساء ثم قال هؤلاء أهل بيتي إليك لا إلى النار قالت أم سلمة : فقلت : يا رسول الله وأنا منهم ؟ قال : لا وأنت على خير

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il bin Abi Samiinah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dawud dari Fudhail dari Athiyah dari Abu Sa’id dari Ummu Salamah bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menutupi Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dengan kain kemudian berkata: ‘mereka adalah ahlul baitku, kepadamu [ya Allah] jangan masukkan ke dalam neraka’. Ummu Salamah berkata ‘wahai Rasulullah, apakah aku bersama mereka?’ Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab ‘tidak dan engkau di atas kebaikan’” [Musnad Abu Ya’la, 12/313, No 6888]

Dan ini pernyataan yang jujur dari Ummu Salamah terkait siapa saja ahlulbait itu:

عن أم سلمه رضي الله عنها قالت نزلت هذه الاية في بيتي إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قلت يارسول الله ألست من أهل البيت قال إنك إلى خير إنك من أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت وأهل البيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم أجمعين

Dari Ummu Salamah RA yang berkata: ‘Ayat ini turun di rumahku (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya)’. Aku berkata: ‘wahai Rasulullah apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?’ Beliau SAW menjawab: ‘kamu dalam kebaikan, kamu termasuk istri Rasulullah SAW’ Aku berkata: ‘Ahlul Bait adalah Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radiallahuanhum ajma’in’” [Al-Arba’in Fi Manaqib Ummahatul Mukminin, Ibnu Asakir, hal 106, hadits berstatus shahih]

Riwayat Ummu Salamah diatas dikuatkan pula oleh Abu Sa’id al-Khudri berikut:

حدثنا الحسن بن أحمد بن حبيب الكرماني بطرسوس حدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا عمار بن محمد عن سفيان الثوري عن أبي الجحاف داود بن أبي عوف عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه في قوله عز و جل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قال نزلت في خمسة في رسول الله صلى الله عليه و سلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib al-Kirmani yang berkata telah menceirtakan kepada kami Abu Rabi Az-Zahrani yang berkata telah menceirtakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi Auf dari Athiyyah al-Aufiy dari Abu Said al-Khudri ra bahwa firman Allah SWT (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai AhlulBait dan menyucikanmu sesuci-sucinya) turun untuk 5 orang yaitu Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain Radhiyallaahu Anhum.” [Imam ath-Thabrani, Mu’jam as-Shaghir, 1/231, No. 375]

Kemudian ada pembelaan bahwa para istri nabi Muhammad SAW termasuk juga sebagai ahlulbait karena mereka diharamkan menerima sedekah, ini bantahannya:

 

  1. Syiah menafikkan adanya Qadha & Qadar?

Salah satu perihal syiah sampai dikafirkan adalah karena ajarannya dianggap mengingkari adanya qadha dan qadar sebagai bagian dari rukun iman. Bukan mengingkari tepatnya, hanya saja perihal qadha dan qadar ini tidak dicantumkan dalam rukun iman pihak syiah, tapi mereka tetap mengimaninya.  Jadi walaupun berbeda, pada kenyataannya pihak syiah juga meyakini dan mengamalkan semua rukun iman dan rukun islam yang diyakini oleh pihak sunni. Lagipula, jika mau dianalisis, rukun iman dan rukun islam itu hanyalah rumusan yang dibuat berdasarkan interpretasi kelompok dari aliran asy’ariyah, sehingga tidak akan pernah absah jika menjadi parameter penilaian sesat atau tidak sesatnya kelompok atau aliran islam yang lainnya. Buktinya terdapat sejumlah hadits yang bervariasi tentang rukun iman dan rukun islam. Misalnya:

قال امرهم بالايمان بالله وحده، وقال هل تدرون مالايمان بالله ؟ قالوا الله ورسوله اعلم، قال شهادة ان لااله الا الله وأن محمدا رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة وصوم رمضان وان تؤدوا خمسا من المغنم

Aku perintahkan kamu agar mengesakan keimanan hanya kepada Allah! Tahukan kamu apa iman kepada Allah itu?” Mereka menjawab: ‘Tidak!’, Beliau bersabda: ‘Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan membayar khumus (seperlima dari perolehan keuntungan).’” [Muslim, Shahih, 1/35, Bab al-Amru Bil Imân Billah wa Rasûluhi]

Kita pasti tahu bahwa dalam rukun islam tidak ada yang menyebutkan poin harus membayar khumus sebagaimana yang dicantumkan pada hadits diatas. Maka jika mau adil, sebagaimana vonis kafir terhadap syiah diatas, apakah dengan demikian lantas pihak sunni itu juga kafir karena mengingkari atau meniadakan perintah membayar khumus pada poin rukun islam mereka?! Jadi sudah jelas disini bahwa ketiadaan poin tertentu dalam rumusan rukun islam dan rukun iman itu bukanlah parameter mutlak akan keislaman dan keimanan seseorang, sehingga dengan kata lain, tidak dapat ditafsirkan sebagai menolak prinsip – prinsip dasar aqidah islam.

Kembali pada awal pembahasan. Dan setelah saya pelajari perihal qadha dan qadar versi syiah itu, justru jawabannya lebih memuaskan, karena pada ajaran syiah menyatakan bahwa qadha dan qadar adalah ketetapan Allah berdasarkan hasil ikhtiar manusia. Artinya, Allah menetapkan hukum – hukum dan manusia memiliki andil untuk memilih, tetapi Allah memiliki pengetahuan tentang apa yang akan terjadi. Ibaratnya Allah adalah guru yang membuat soal – soal tes ujian sekolah (rezeki, jodoh, dan lain – lain), lalu kita selaku muridnya (manusia) diberi tugas untuk mengerjakan soal – soal tes ujian tersebut dengan durasi pengerjaan yang telah ditentukan-Nya (masa ajal). Dan tentu saja, Allah sebagai guru mengetahui karakter para muridnya dari mulai yang pintar, nakal dan bodoh, sehingga Dia maha mengetahui siapa saja yang sekiranya dapat lulus mengerjakan soal – soal tes ujian dari-Nya. Namun demikian, Allah tidak akan memberikan soal – soal tes ujian yang melampaui batas kemampuan para muridnya. Berbeda halnya dengan sunni, pihak sunni menganggap bahwa qadha dan qadar itu mutlak 100% ketetapan Allah, termasuk yang baik dan yang buruk seperti; merampok, melacur, membunuh dan sebagainya, sehingga surga dan neraka telah ditentukan oleh Allah kepada manusia sedari awal penciptaannya tanpa adanya pilihan sedikitpun kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits shahih Bukhari & Muslim:

dakwahsunnah.com/artikel/tanyajawab/51-sudah-ada-takdir-lalu-untuk-apa-beramal

Hal tersebut turut dikuatkan pula oleh pendapatnya Buya Yahya seorang ulama besar NU-GL dari cirebon, beliau menyatakan bunuh diri adalah takdir dari Allah:

https://www.youtube.com/watch?v=i-6yRxA6TQw

Dan saya pikir hal tersebut justru bertentangan dengan firman Allah berikut ini:

مَاۤ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ  ۖ   وَمَاۤ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّـفْسِكَ

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [QS an-Nisa Ayat 79]

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

(Azab) yang demikian itu disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwa Allah sekali-kali tidak menganiaya para hamba-Nya.” [QS Ali Imran Ayat 182]

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada dirinya sendiri.” [QS Yunus Ayat 44]

 Coba direnungkan, jika anda mati bunuh diri, anda akan merasa lebih ikhlas (rela) menjalani hukuman siksa neraka di akhirat kelak karena perbuatan tersebut adalah murni dari pilihan anda sendiri. Namun berbeda halnya jika perbuatan bunuh diri itu ternyata bukan karena kehendak atau pilihan anda sendiri, melainkan dari awal telah digariskan oleh Allah agar anda masuk neraka, pastilah anda tidak akan rela dan mengatakan bahwa Allah telah berbuat zhalim kepada anda. Jadi bukankah lebih adil qadha dan qadar ini ada pada ajaran syiah?

Hal diatas adalah paham jabbariyah, yaitu pemahaman dimana semua perbuatan manusia adalah ciptaan Allah yang sudah tertulis di lauhul mahfudz sebelum manusia itu dilahirkan dimuka bumi ini. Jadi intinya, paham tersebut mengajarkan bahwa pada hakikatnya manusia itu tidak mempunyai kendali dan pilihan atas baik dan buruknya semua perbuatan yang akan dilakukannya, karena semuanya serba paksaan. Nah, biasanya pihak sunni menyangkal bahwa mereka tidak menganut paham jabbariyyah ini. Tapi cobalah bertanya kepada mereka, apa perbedaannya paham qadha dan qadar yang mereka anut dengan jabbariyah, maka anda akan mendapatkan jawaban yang membingungkan, karena ujung – ujungnya mereka akan menjawab bahwa semua perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, telah ditentukan semua jalannya oleh Allah, bukan oleh manusia itu sendiri.

Pihak anti syiah mungkin tidak terima dengan jawaban yang lebih adil dan memuaskan akal pikiran dari pihak syiah terkait masalah qadha dan qadar ini, sehingga akhirnya dengan picik mereka mengarang kedustaan bahwa syiah digenerasi awal sependapat tentang qadha dan qadar yang dibawakan oleh pihak sunni tersebut diatas, yakni menganut paham jabbariyyah. Mereka berpendapat demikian karena menganggap bahwa syiah di generasi awal tidaklah sesat, maka menurutnya sebagian besar ajaran – ajarannya juga tidak jauh berbeda dengan sunni, sehingga bisa jadi masalah qadha dan qadar ini awalnya syiah berpendapat sama dengan mereka, namun menjadi banyak perubahan karena akhirnya syiah menjadi golongan yang tersesat. Jadi jelaslah jika demikian maka artinya mereka hanya sekedar berasumsi tanpa bukti atau hasil menduga – duga saja, sehingga berimplikasi pada kedustaan yang mengatasnamakan syiah. Lagipula jika benar generasi awal syiah berpaham jabbariyyah, maka tidaklah mungkin Ali pernah mengatakan: “qadha dan qadar bukan paksaan Tuhan. Ada pahala dan siksa sebagai balasan amal perbuatan manusia. Seandainya itu merupakan paksaan, maka batalah pahala dan siksa, gugur pulalah makna janji dan ancaman Tuhan serta tidak ada celaan-Nya atas pelaku dosa dan pujian-Nya terhadap orang – orang baik.”. Justru pihak anti syiah telah memutar balikkan fakta, karena sebaliknya dari pihak sunnilah yang berubah, yang awalnya sama dengan syiah, namun akhirnya menganut paham jabbariyyah ketika masa dinasti umayyah.

Paham sesat jabbariyah ini dalam sejarahnya diterapkan oleh Muawiyah untuk tujuan politik dalam mempertahankan kekuasaannya. Muhammad bin Ali bin Abi Thalib berusaha membendung paham sesat tersebut dengan cara berceramah di masjid madinah. Dan sebenarnya perihal syiah generasi awal yang dinyatakan tidak sesat itu hanyalah alibi untuk membela imam al-Bukhari dan Muslim karena kedapatan dalam sejumlah hadits – hadits shahihnya mengutip sanad dari pihak syiah. Seandainya bukan karena itu, rasanya mustahil mereka mau menyatakan bahwa syiah di generasi awal tidaklah sesat. Toh pada faktanya semua golongan syiah dari dulu sampai dengan sekarang adalah para pembenci Muawiyah yang notabene sangat dimuliakan oleh mereka. Sebagian pihak sunni pun sebenarnya banyak  yang membenci Muawiyah. Salah satunya muncul dari radio Rasil yang beberapa waktu yang lalu siarannya sempat dikecam oleh pihak salafi/wahabi karena telah menyudutkan Muawiyah. Radio tersebut kalau tidak salah adalah badan usaha yang dikelola oleh FPI (Front Pembela Islam) yang notabene adalah sunni. Saya sendiri tidak heran atas khasus tersebut. Karena pada referensi hadits sunni pun banyak pembahasan tentang Muawiyah yang menyatakan bahwa dia adalah seorang durjana, peminum miras, haus kekuasaan, pendusta atas nama nabi SAW, pencela sahabat dan ahlul bait nabi SAW, ingkar sunnah nabi SAW, diragukan sebagai sahabat nabi SAW, tidak mati dalam keadaan muslim, bahkan nabi SAW menyuruh untuk membunuhnya, dan lain – lain. Adapun jika dia dibela karena menjadi penulis wahyu nabi SAW, maka ketahuilah bahwa tidak semua penulis wahyu adalah orang terpuji, karena sebagian dari mereka tercatat sebagai orang yang tercela pada hadits referensi sunni. Dan juga Coba dipikirkan baik – baik, jika memang benar muawiyah dalam perang shiffin melawan Ali itu hanya bertujuan untuk menuntut pembunuhan Utsman bin Affan, lantas kenapa ketika Hasan bin Ali berkuasa, dia merebutnya? Bukankah ini fakta yg tak terbantahkan bagaikan matahari yg terbit di siang bolong?! Silahkan baca hasil pencarian disini:

https://secondprince.wordpress.com/?s=muawiyah

Untuk selengkapnya jika anda mau mempelajari terkait perihal qadha dan qadar menurut ajaran dari pihak syiah dapat anda pelajari pada e-book PDF dibawah ini:

https://simpatisansyiah.files.wordpress.com/2017/09/mujtaba-musawi-lari-keadilan-allah-qada-dan-qadar-manusia.pdf

 

  1. Siapakah Abdullah bin Saba?

Berikut ini saya coba paparkan secara singkat tentang Abdullah bin Saba dari referensi sunni. Cerita tentang orang ini kebanyakannya bersumber dari Saif bin Umar at-Tamimi. Para ulama sunni ahli jarh wa ta’dil telah memberikan nilai buruk kepadanya. Berikut ini adalah beberapa komentar mereka tentang dirinya:

Yahya bin Main (W. 233H) berkata tentangnya:

فَلْس خير منه

Uang sesen lebih berharga darinya.” [Mizan al-I’tidal :2\255]

Ibnu Jauzi (W. 571 H) menegaskan kelemahan Saif bin Umar ketika ia menvonis palsu sebuah hadits tentang keutamaan sahabat. Ia berkata:

هذا حديث موضوع على رسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم) وفيه مجهولون ، وضعفاء وأقبحهم حالاً سيف

Hadis ini palsu atas nama Rasulullah saw. Pada jalurnya terdapat banyak parawi majhûl (tidak dikenal) dan parawi dha’îf. Dan yang paling jeleknya (parawi dalam jalur itu) adalah Saif.” [al-Maudhû’ât, 2/274 hadits No. 837]

Ia (Ibnu Jauzi) juga mengatakan:

وهذا حديث موضوع بلا إشكال وفيه جماعة مجروحين ، وأشدهم في ذلك سيف وسعد ،وكلاهما متهم بوضع الحديث

Ini adalah hadis palsu tanpa sedikit keraguan. Didalamnya terdapat banyak parawi cacat dan yang paling parah cacatnya adalah Saif dan Sa’ad, keduanya tertuduh memalsu hadits.” [al-Maudhû’ât, 1/362, hadits No. 444]

Adz-Dzahabi (W. 847 H) menegaskan bahwa para ulama ahli hadits telah bersepakat bahwa Saif bin Umar adalah seorang yang cacat berat. Ia menegaskan:

متروك باتفاق

Ia disepakati sebagai perawi terbuang/ditinggalkan.” – Setelah itu ia banyak menukil pernyataan para ulama ahli hadits yang mencelanya. [al-Mughni fi adh-Dhu’afâ, 1/460, No. 2716; al-Mîzân, 3/353, No. 3642]

Jalâluddîn as-Suyûfhi (W. 911 H) ketika menvonis palsu hadits, ia mengatakan:

موضوع ، فيه ضعفاء أشدهم سيف

Hadits ini palsu, pada sanadnya terdapat banyak parawi dha’îf/lemah, yang paling parah adalah Saif.” [al-Laâli al-Mashnû’ah, 1/392]

Imam asy-Syaukâni menegaskan bahwa Saif bin Umar adalah seorang pamalsu hadits, sehingga berbohong atas nama Rasulullah SAW. ketika menimbang sebuah hadits yang pada sanadnya terdapat Saif bin Umar, ia berkata:

وفي إسناده سيف بن عمر ، وهو وضاع

Pada sanadnya terdapat Saif ibn Umar, ia seorang pemalsu hadis (atas nama Nabi SAW).” [al-Fawâid al-Majmû’ah, 491]

Syekh Muhaddits tersohor yaitu Muhammad al-Arabi at-Tabbâni (W. 390 H) telah membeberkan panjang lebar tentang kejahatan Saif bin Umar. Ia berkali – kali menyebutnya sebagai “Pendekar para pemalsu!”. Ia beberapa kali menyinggung riwayat Saif bin Umar ketika terjadinya fitnah di masa kekhalifahan Utsman ibn Affan. Beberapa diantaranya ia mengatakan:

سيف بن عمر الوضاع المتهم بالزندقة المتفق على أنه لا يروي إلا عن المجهولين.

Saif ibn Umar seorang pemalsu yang tertuduh tidak beragama/zindiq, yang disepakati para ulama bahwa ia tidak meriwayatkan melainkan dari para parawi yang majhûl.” [Tahdzîr al-Abqari, 1/275]

وقد اتفق أئمة النقد على أن سيفاً لا يروي إلا عن المجهولين وعلى طرحه  .

Telah disekapati oleh para pakar kritikus bahwa Saif ini tidak meriwayatkan kecuali dari para perawi yang majhûl dan mereka juga bersekapat membuangnya.” [Tahdzîr al-Abqari, 1/272]

وهذا التدافع والتخبط والطعن في الصحابة قد استقريناه في كل خبر يرويه الطبري عن سيف بن عمر المتهم بالزندقة الذي لا يروي إلا عن المجهولين  .

Dan adanya saling pertentangan dan kekacauan serta kecaman terhadap para sahabat telah kami temukan seletah menelusuri setiap berita yang diriwayatkan ath-Thabari dari Saif ibn Umar yang tertuduh sebagai seorang zindiq yang tidak meriwayatkan melainkan dari para parawi majhûl.” [Tahdzîr al-Abqari, 1/256]

Ketika membantah anggapan sebagian orang yang berusaha membersihkan nama Saif bin Umar dari berbagai bentuk cacat yang ditegaskan para ulama ahli hadits dan menganggapnya jujur dalam periwayatan data sejarah, ia mengatakan:

وإذا كان وضع الأخبار الكثيرة على النبي (صلى الله عليه وآله) سهلاً على الوضاعين فالوضع على الصحابة والتابعين يكون أسهل

Jika memalsu banyak hadis atas nama Nabi saw. adalah hal mudah bagi para pamalsu itu, maka memalsu ucapan atas nama para sahabat dan tabi’în tentu lebih mudah bagi mereka.” [Tahdzîr al-Abqari, 1/272]

Dan bukan hanya para ulama sunni yang saya sebutkan di atas saja yang tidak mempercayai dirinya, tapi masih banyak lagi, seperti; Khatib al-Baghdadi, Ibn Abdil Barr, Ibnu Hajar, dan lain – lain. Jadi jelas dalam referensi sunni sendiri ternyata Saif bin Umar at-Tamimi adalah seorang pemalsu, zindiq, dan lain – lain, sehingga bisa jadi Abdullah bin Saba ini hanyalah tokoh fiktif belaka. Maka sudah semestinya juga setiap kisah yang diriwayatkan olehnya tidak dapat dipercaya, baik dalam syari’at maupun tarikh, seperti hadits serta buku karangan Saif bin Umar at-Tamimi yang berjudul Al-Futuh dan Al-Jamal dan lain – lain.

Adapun riwayat lain tentang Abdullah bin Saba diluar dari periwayat Saif bin Umar at-Tamimi ini yang katanya shahih, dapat dibaca bantahannya disini:

https://secondprince.wordpress.com/2012/07/22/kisah-abdullah-bin-saba-selain-riwayat-saif-bin-umar/

Jika riwayat – riwayat tentang Abdulah bin Saba dalam referensi sunni tadi hanyalah terbukti berstatus sebagai dha’if saja, namun berbeda halnya dalam referensi syiah, ternyata berstatus sebagai shahih. Misalnya saja:

وذكر بعضي أهل العلم أن عبد الله بن سبأ كان يهوديا فأسلم ووالى عليا عليه السلام، وكان يقول وهو على يهوديته في يوشع بن نون وصي موسى بالغلو، فقال في اسلامه بعد وفات رسول الله صلى الله عليه وآله في علي عليه السلام مثل ذلك وكان أول من شهر بالقول بفرض امامة علي وأظهر البراءة من أعدائه وكاشف مخالفيه وكفرهم، فمن هيهنا قال من خالف الشيعة أصل التشيع والرفض مأخوذ من اليهودية

Dan disebutkan oleh sekelompok ahli ilmu bahwa Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi yang masuk Islam dan berwala’ kepada Aliy [‘alaihis salaam]. Dahulu ketika masih Yahudi ia mengatakan tentang Yusya’ bin Nuun sebagai washi Musa dengan ghuluw, maka setelah ia memeluk islam, ia mengatakan setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] tentang Ali [‘alaihis salaam] hal yang sama. Ia orang pertama yang dengan jelas mengatakan tentang kewajiban Imamah Ali dan menampakkan bara’ah terhadap musuh-musuhnya, menyingkap orang-orang yang menyelisihinya dan mengkafirkan mereka. Maka dari sinilah, orang-orang yang menyelisihi Syiah berkata “asal Tasyayyu’ dan Rafidhah diambil dari Yahudi.” [Rijal al-Kasyi, 1/324]

Tapi saya pikir terdapat perbedaan pendapat ketika membahas tentang riwayat Abdullah bin Saba diatas ataupun yang lainnya yang sebenarnya hanya ada pada kitab syiah Rijalul al-Kasyi ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa al-kasyi pada riwayat diatas atau yang lainnya hanya sekedar menceritakan tentang sosok Abdullah bin Saba yang dinukil dari referensi sunni. Alasannya, sekelompok ahli ilmu yang dimaksud pada riwayat diatas diduga kuat adalah ahli ilmu dari pihak sunni, karena menurut para ulama syiahnya sendiri menyatakan bahwa tidak pernah ditemukan satupun dari riwayat mereka yang menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba telah menyerukan tentang imamah Ali, justru riwayat – riwayat seperti itu adanya datang dari referensi sunni. Pendapat tersebut turut dikuakan juga dari kalimat akhir al-Kasyi pada riwayat diatas yang mengatakan: “Maka dari sinilah, orang-orang yang menyelisihi Syiah berkata “asal Tasyayyu’ dan Rafidhah diambil dari Yahudi”. Jadi sekalipun sejumlah riwayat itu berstatus shahih, tetapi karena aslinya al-Kasyi hanya sekedar menukil dari riwayat sunni, maka jatuhnya mengenai Abdullah bin Saba adalah dha’if atau tokoh fiktif belaka.

Pendapat kedua menyatakan bahwa Abdullah bin Saba memang nyata adanya, seperti pada riwayat diatas ataupun yang lainnya, tapi mereka mengelak jika dikatakan sebagai pengikut Abdullah bin Saba. Alasannya, mereka tidak pernah mengakui bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Abdullah bin Saba, terlebih lagi dia telah dihukum bakar oleh Ali yang notabene adalah imam mereka sendiri, karena telah berlaku kafir dan ghuluw (berlebihan), sehingga mana mungkin mereka menjadi pengikutnya, sedangkan perbuatannya itu jelas – jelas malah bertentangan dengan imam mereka tersebut?!

Dan perlu diketahui juga bahwa riwayat diatas atau yang lainnya yang dikutip oleh pihak anti syiah biasanya telah mengalami modifikasi atau pemalsuan. Seperti dalam tulisan arabnya mereka sengaja mengganti kata “bi al-ghuluu” dengan kata “bi al-Ghuu” (tidak bermakna) atau bisa juga dibaca  “baalighuu” yang bermakna “sampaikan“, dimana kata tersebut sama sekali tidak memiliki makna yang cocok dengan hubungan kalimat yang dimaksud atau matan arabnya, tetapi kata tersebut tidak diterjemahkan, jika demikian maka terlihat penipuannya.

 

  1. Memakan Tahi Imam Syiah Dijamin Masuk Syurga?

Seperti yang pernah saya ulas sebelumnya diawal bahwa kitab – kitab syiah terjemahan telah banyak yang dipalsukan. Nah, salah satunya perihal “Syiah makan tahi/kotoran imamnya dijamin masuk syurga yang katanya dinukil dari kitab syiahnya sendiri adalah palsu. Hal ini senada dengan penuturan tokoh besar ulama syiah ayatullah Sayyid as-Sistani, beliau pernah ditanya mengenai hal ini:

السؤال : 1 – قرأت من صفحة وهابية بأننا نجيز شرب بول الأئمة الأطهار وأن ذلك من موجبات الجنة ؟

الجواب : 1 – هذا كذب وافتراء نعوذ بالله منه

“Persoalan 1. Aku pernah membaca tulisan dari Wahabi bahwa kita boleh meminum kencing para Imam suci dan hal itu akan memasukkan kita ke dalam surga? beliau lalu menjawab : 1. Hal itu dusta dan mengada-ada, kita berlindung kepada Allah darinya” [al-Istifta’at, Sayyid as-Sistani hal 554 persoalan no 2196]

Berikut ini saya kutipkan kepada anda sebuah bukti pernyataan asli dari kitab syiah yang asli maupun pernyataan hasil modifikasi dari kitab syiah terjemahan yang dipalsukan. Baik keduanya berasal pada 1 sumber yang sama, yakni Zainal Abidinkitabul anwar wilayah rasul, Bab Thaharah, halaman 440.

Dibawah ini pernyataan asli sebelum dirubah oleh tangan – tangan jahil:

ﺍﻟﻬﻴﺌﺔ ﻟﺪﻳﻬﺎ ﻭﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻟﻢ ﺃﻛﻦ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ﻭﻟﻜﻦ ﺗﻨﺒﻌﺚ ﻣﻨﻪ ﺭﺍﺋﺤﺔ ﺍﻟﻨﻔﻂ ﻋﺪﺩ ﻗﻠﻴﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻴﻮﺏ، ﻻ ﻳﺘﻌﺮﺿﻮﻥ ﺍﻟﻜﻬﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺑﺖ ﺍﻟﻨﺠﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻣﻦ ﻧﻌﻢ ﻫﻮ ﺩﺍﺋﻤﺎ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺗﻨﻘﻴﺔ ﻫﺪﺍﺱ ﻫﺪﺍﺱ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺼﻐﻴﺮﺓ، ﺍﻟﻜﻬﻨﺔ ﺩﺍﺋﻤﺎ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺑﺤﻴﺚ ﺟﺴﺪﻩ ﻳﺒﻘﻰ ﺍﻟﻤﻘﺪﺳﺔ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﻄﻘﻮﺱ

Tubuh Imam tidak memiliki bau apa – apa melainkan baunya seperti minyak misk, para imam tidak terkena najis sedikitpun dari kotorannya selain ia selalu mensucikannya secara hadas besar maupun hadas kecil, para imam selalu melakukan wudhu sehingga tubuhnya tetap suci dari hadas.

Sedangkan dibawah ini pernyataan hasil modifikasi oleh tangan – tangan jahil:

ليس في بول الأئمة وغائطهم استخباث ولا نتن ولا قذارة بل هما كالمسك الأذفر، بل من شرب بولهم وغائطهم ودمهم يحرم الله عليه النار واستوجب دخول الجنة

“Kencing dan tinja para imam bukanlah sesuatu yang menjijikkan, tidak berbau busuk, tidak pula termasuk kotoran. Bahkan keduanya bagaikan misik yang sangat harum. Barangsiapa yang meminum kencing, tinja, dan darah mereka, Allah akan haramkan padanya api neraka dan wajib baginya masuk surga.”

Kitab dari mazhab lain dipalsu agar dikecam, tapi ternyata hal seperti itu terdapat pada sejumlah hadits referensi sunni yang shahih, nah lho? Beberapa diantaranya:

وأخرج الطبراني والبيهقي بسند صحيح عن حكيمة بنت أميمة عن أمها قالت كان للنبي {صلى الله عليه وسلم} قدح من عيدان يبول فيه ويضعه تحت سريره فقام فطلبه فلم يجده فسأل عنه فقال أين القدح قالوا شربته برة خادم أم سلمة التي قدمت معها من أرض الحبشة فقال النبي {صلى الله عليه وسلم} لقد احتظرت من النار بحظار

Dan telah dikeluarkan Ath Thabrani dan Baihaqi dengan sanad shahih dari Hukaimah binti Umaimah dari Ibunya yang berkata Nabi SAW memiliki bejana dari pelepah kurma yang beliau gunakan untuk buang air kecil pada waktu malam hari di bawah ranjangnya, suatu hari Nabi meminta bekas itu dan tidak menemuinya lalu bertanya: ‘di manakah bejana itu?’ Dia menjawab: ‘Ia diminum oleh Barrah, pembantu Ummu Salamah yang datang bersama dengannya dari tanah Habsyah’ Maka bekata Nabi SAW: ‘Dia telah diharamkan dari api neraka’” [Imam as-Suyuthi, Khasa’is al-Kubra, 2/377; ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, 24/205, No. 527; al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 7/67, No. 13184]

Diriwayatkan pula bahwa ada seorang wanita telah meminum air kencing Rasulullah SAW. Bedanya dengan riwayat diatas, wanita yang dimaksud adalah Barakah pembantu Ummu Habibah. Rasululah SAW bersabda kepada wanita itu:

لن تشتكي وجع بطنك أبداً

Kamu tidak akan pernah lagi mengeluhkan sakit perutmu selama-lamanya.” [al-Qadhi ‘Iyad, asy-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa, hal 40]

Imam Qadhi Iyad menyatakan bahwa hadits wanita yang meminum air kencing Rasul SAW tersebut adalah hadits shahih yang menurut ad-Daruquthni hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Pada sumber yang sama, imam Qadhi Iyad juga membahas tentang khasiat khusus meminum darah Rasulullah SAW:

و منه شرب مالك بن سنان دمه يوم أحد، و مصه إياه، و تسويغه صلى الله عليه و سلم ذلك له، و قوله : لن تصيبه النار.

Di antaranya riwayat mengenai ini adalah tindakan Malik bin Sinan meminum dan menyedot darah nabi SAW saat Perang Uhud, dan adanya ijin nabi SAW baginya melakukan itu, dan sabda beliau: ‘Dia tidak akan terkena api neraka.’” [Qadhi Iyad, asy-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa, hal 40]

وامتص مالك بن سنان والد أبي سعيد الخدري الدم من وجنته صلى الله عليه وسلم حتى أنقاه، فقال: (مُجَّه)، فقال: والله لا أمجه، ثم أدبر يقاتل، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (من أراد أن ينظر إلى رجل من أهل الجنة فلينظر إلى هذا)، فقتل شهيداً.

Malik bin Sinan ayah Abu Said al-Khudri telah menyedot darah (yang luka) dari pipi Rasulullah SAW sampai menelannya. Nabi SAW bersabda: ‘Ludahkanlah itu’ Malik bin Sinan menjawab: ‘Demi Allah, aku tidak akan meludahkannya’, Kemudian dia berbalik dan berperang. Berkatalah Nabi SAW: ‘Barangsiapa ingin melihat seseorang dari penduduk surga, hendaklah ia melihat orang ini’, Malik bin Sinan kemudian mati syahid.” [Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum, hal 219; Ibn Qayyim, Zadul Ma`ad, jilid 3, hal 94]

ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻮَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻨَﺨَّﻢَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻧُﺨَﺎﻣَﺔً ﺇِﻻَّ ﻭَﻗَﻌَﺖْ ﻓِﻰ ﻛَﻒِّ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻓَﺪَﻟَﻚَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻭَﺟِﻠْﺪَﻩُ

‏“Miswar dan Marwan berkata: ‘Demi Allah Setiap Rasulullah SAW berdahak, pasti dahak beliau jatuh ke tangan salah seorang sahabat, lalu ia gosokkan ke wajah dan kulitnya.’” [HR Bukhari, No 70 dan 2731]

‏( ﻋﻦ ﺃَﺑِﻰ ﻣُﻮﺳَﻰ ﻭَﺑِﻼَﻝٍ ‏) ﺛُﻢَّ ﺩَﻋَﺎ ﺑِﻘَﺪَﺡٍ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﺎﺀٌ ﻓَﻐَﺴَﻞَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻓِﻴﻪِ ، ﻭَﻣَﺞَّ ﻓِﻴﻪِ ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺍﺷْﺮَﺑَﺎ ﻣِﻨْﻪُ ، ﻭَﺃَﻓْﺮِﻏَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻭُﺟُﻮﻫِﻜُﻤَﺎ ﻭَﻧُﺤُﻮﺭِﻛُﻤَﺎ ، ﻭَﺃَﺑْﺸِﺮَﺍ ‏» . ﻓَﺄَﺧَﺬَﺍ ﺍﻟْﻘَﺪَﺡَ ﻓَﻔَﻌَﻼَ  ‏

Rasulullah SAW menyuruh kepada Abu Musa dan Bilal untuk mengambil tempat air, lalu beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya serta memuntahkan air kumur ke wadah tersebut dan beliau bersabda: ‘Minumlah oleh kalian, siramkan ke wajah dan leher kalian, dan berbahagialah!’ Kemudian dua sahabat itu melakukannya.” [HR Bukhari No. 4328; Muslim, No. 6561]

ﻭَﺍﻟْﻐَﺮَﺽ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺇِﻳﺠَﺎﺩ ﺍﻟْﺒَﺮَﻛَﺔ ﺑِﺮِﻳﻘِﻪِ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻙ  ‏

al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Tujuan diatas karena ludah Rasulullah yang mengandung berkah.” [Ibnu Hajar, Fath al-Baari, 1/300]

ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻗَﺎﻝَ ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﻓَﻌَﺮِﻕَ ﻭَﺟَﺎﺀَﺕْ ﺃُﻣِّﻰ ﺑِﻘَﺎﺭُﻭﺭَﺓٍ ﻓَﺠَﻌَﻠَﺖْ ﺗَﺴْﻠُﺖُ ﺍﻟْﻌَﺮَﻕَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻓَﺎﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓَﻘَﺎﻝَ ‏« ﻳَﺎ ﺃُﻡَّ ﺳُﻠَﻴْﻢٍ ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺗَﺼْﻨَﻌِﻴﻦَ ‏» . ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻫَﺬَﺍ ﻋَﺮَﻗُﻚَ ﻧَﺠْﻌَﻠُﻪُ ﻓِﻰ ﻃِﻴﺒِﻨَﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣِﻦْ ﺃَﻃْﻴَﺐِ ﺍﻟﻄِّﻴﺐِ

Sahabat Ummu Sulaim mengambil keringat Nabi SAW dan menaruhnya ke dalam botol sebagai minyak wangi. Setelah ditanya oleh Rasulullah SAW, Ummu Sulaim menjawab: ‘Ini adalah keringatmu. Kami jadikan minyak wangi kami. Dan keringat itu adalah minyak yang paling harum.’” [HR Muslim, No. 6201]

Sejumlah hadits yang saya paparkan diatas bukanlah maksud saya ingin menghina atau merendahkan mazhab sunni, tidak ada niat saya untuk berbuat demikian. Hanya saja hal ini sekedar pemberitahuan agar pihak anti syiah itu ‘ngaca’ kalau kitab dari mazhab lain dipalsukan, tapi ternyata hal seperti itu justru terdapat pada sejumlah hadits referensi sunni pegangan mereka sendiri, sehingga dengan hal ini bisa menjadi penyadaran bagi mereka untuk lebih memperhatikan, mengurus dan mempelajari mazhabnya sendiri, daripada sibuk mengobok – ngobok aliran mazhab lain, yang ada bukannya menambah pahala, malah menambah dosa saja!

Oh ya, jika anda pernah melihat foto atau video ritual pihak syiah yang membawa dan melumuri tubuhnya dengan sesuatu, sesuatu itu hanyalah lumpur dari tanah karbala, bukanlah tahi sang imam seperti yang diberitakan oleh media.

Perlu diketahui juga bahwa istilah imam oleh pihak syiah adalah hanya dari mereka yang terdiri dari 12 imam maksum saja, sehingga penyebutan khomeini dan khomenei sebagai imam dijaman ini hanya berarti sebagai makna kiasan saja, alias bukan imam syiah yang sesungguhnya. Hal tersebut dimaksudkan sebagai pengganti imam untuk sementara waktu, guna mengisi kekosongan dari imam suci yang ke 12 yang akan datang suatu saat nanti, yaitu imam Mahdi. Dan terkait 12 imam maksum ini merekapun mempunyai hujjah dalilnya, bahkan diantaranya terdapat juga pada sejumlah hadits shahih sunni:

islamitucinta.blogspot.co.id/2011/03/episode-1-12-imam-dalam-hadits-hadits.html

 

  1. Tradisi Tathbir atau Melukai Diri Sendiri

Tradisi tathbir adalah tradisi melukai diri sendiri pada hari raya asyura. Tradisi ini dilakukan oleh mereka dengan dalih agar turut merasakan kepedihan luka yang menyebabkan syahidnya imam Husein bin Ali. Para ulama syiah sendiri sejak dahulu sebenarnya telah bersepakat memfatwakan bahwa perbuatan tersebut adalah haram. Tapi sayangnya, penyimpangan tersebut tetap saja dilakukan oleh sebagian kecil pihak syiah ekstrim baik itu di india (atau pakistan) dan irak.

Fatwa Maraji` Kontemporer, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengatakan: “Tathbir merupakan budaya buatan yang tak berdasar dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi bahwa Allah tidak meridhainya. Berduka dan meratap dengan cara-cara umum dan wajar merupakan pendekatan diri kepada Allah SWT dan memiliki pahala, akan tetapi segala perbuatan yang dapat melemahkan dan merusak Islam harus dihindari, begitu juga tindakan yang dapat membahayakan seseorang haram hukumnya.” Begitupun oleh Ayatullah Nashir Makarim Syirazi mengatakan: “Haram hukumnya menyelenggarakan acara Asyura dengan melakukan aktivitas yang melukai diri (tathbir) dan menyampaikan hal hal yang dapat memicu perselisihan umat Islam.” Lalu dari para ulama syiah yang telah wafat, seperti Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah mengatakan: “Tindakan Tahtbir itu tidak sesuai dan Bid’ah menurut agama dan Mazhab”. Juga dari Ayatullah Misykini berkata: “Tindakan Tathbir menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandung unsure unsur haram dan sama sekali umat Islam tidak boleh menjadikannya sebagai ibadah dalam berduka cita atas Imam Husain as”. Dan lain – lain, masih banyak fatwa ulama syiah lainnya.

Perlu diketahui juga, jika anda pernah melihat gambar atau menonton video acara tathbir ini yang menunjukkan para pelakunya terluka dan berdarah – darah, itu biasanya bukanlah darah segar asli, melainkan hanya obat merah atau cairan berwarna merah saja yang digunakan agar dapat lebih menghayati peranan.

Mengenai tathbir ini, saya sendiri tidak menyetujuinya. Namun demikian, saya juga tidak terlalu mencelanya, karena menurut saya acara tathbir ini kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh pemuda bernama Uwais al-Qarni, seorang pemuda yang tidak dikenal makhluk bumi tapi dikenal sekali oleh makhluk langit. Saya yakin diantara kita pasti sudah banyak yang pernah mendengar namanya, terutama saat masa – masa pelajaran PAI di sekolah dulu. Beliau melukai dirinya sendiri sebagai bukti atas kecintaannya terhadap Rasulullah SAW, Dan Rasulpun ternyata tidak mencelan perbuatannya tersebut, melainkan justru malah mndukung seraya memujinya. Berikut ini sebagian ceritanya yang saya kutip intisarinya saja:

“..Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah dia dari dekat?”

Selengkapnya silahkan baca disini: https://id.wikipedia.org/wiki/Uwais_al-Qarny

Masih bisa dimaklumi jika tradisi tathbir dicerca. Tapi perayaan asyura tanpa tathbirpun ikut dicerca. Mereka beralasan bahwa membuat acara duka kesedihan dalam memperingati peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali di karbala adalah bid’ah. Saya heran, kenapa bisa demikian? Bukankah jika kita menziarahi makam atau berkumpul untuk mengingat orang – orang yang kita kasihi yang telah meninggal dunia, maka hati ini menjadi sedih, dan itu tindakan yang sah – sah saja, lantas kenapa jika kesedihan itu ditujukan untuk mengenang syahidnya Husein bin Ali malah divonis sebagai perbuatan bid’ah? Memang apa bedanya coba? Lagipula Rasulullah SAW pun ikut menangisinya, bahkan jauh sebelum Husein syahid. Hal tersebut tertulis pada hadits – hadits referensi sunni, beberapa diantaranya:

وعن أم سلمة قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم جالسا ذات يوم في بيتي قال لا يدخل على أحد فانتظرت فدخل الحسين فسمعت نشيج رسول الله صلى الله عليه وسلم يبكى فأطلت فإذا حسين في حجره والنبي صلى الله عليه وسلم يمسح جبينه وهو يبكي فقلت والله ما علمت حين دخل فقال إن جبريل عليه السلام كان معنا في البيت قال أفتحبه قلت أما في الدنيا فنعم قال إن أمتك ستقتل هذا بأرض يقال لها كربلاء فتناول جبريل من تربتها فأراها النبي صلى الله عليه وسلم فلما أحيط بحسين حين قتل قال ما اسم هذه الأرض قالوا كربلاء فقال صدق الله ورسوله كرب وبلاء ، وفى رواية صدق رسول الله صلى الله عليه وسلم أرض كرب وبلاء .

Ummu Salamah berkata, pada suatu hari Rasulullah (s.a.w) duduk di rumahku. Baginda berkata: ‘Jangan benarkan siapapun masuk’. Maka aku pun menunggu dan al-Husain pun masuk. Aku mendengar Rasulullah (s.a.w) menangis tersedu-sedu. Aku melihat al-Husain di atas riba dan Nabi (s.a.w) mengusap tepi kepala beliau sambil menangis. Aku bekata: ‘Demi Allah, aku tidak tahu dia masuk’. Maka baginda bersabda: ‘Sesungguhnya Jibril (a.s) bersama kami di dalam rumah, ia bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau mengasihinya?’’. Jawabku: ‘Iya’. Jibril berkata: ‘Ummatmu akan membunuh anak ini di bumi yang dikenali sebagai Karbala’. Jibril pun mengambil tanahnya dan memperlihatkan kepada Nabi (s.a.w). Tatkala mereka mengepung untuk membunuh al-Husain, beliau bertanya: ‘Apakah nama bumi ini?’ Mereka menjawab: ‘Karbala’. al-Husain pun berkata: ‘Benarlah Allah dan Rasulnya yang mengatakan bumi ini adalah Karb dan Bala.’” [Mu’jam al-Kabir, al-Tabrani, jilid 23, hal 289; Majma’ al-Zawaid, al-Hatsami, jilid 9, hal 188; Kanzul Ummal, al-Muttaqi al-Hindi, jilid 13, hal 656]

( أخبرنا ) أبو عبد الله محمد بن علي الجوهري ببغداد ثنا أبو الأحوص محمد بن الهيثم القاضي ثنا محمد بن مصعب ثنا الأوزاعي عن أبي عمار شداد بن عبد الله عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ص فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حُلْماً مُنْكَراً قَالَ وَ مَا هُوَ قَالَتْ إِنَّهُ شَدِيدٌ قَالَ مَا هُوَ قَالَتْ رَأَيْتُ كَأَنَّ قِطْعَةً مِنْ جَسَدِكَ قُطِعَتْ وَ وُضِعَتْ فِي حَجْرِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ (صلي الله عليه وآله وسلم) خَيْراً رَأَيْتِ تَلِدُ فَاطِمَةُ غُلَاماً فَيَكُونُ فِي حَجْرِكِ فَوَلَدَتْ فَاطِمَةُ الْحُسَيْنَ (عليه السلام) فَقَالَتْ وَ كَانَ فِي حَجْرِي كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (صلي الله عليه وآله وسلم) فَدَخَلْتُ بِهِ يَوْماً عَلَى النَّبِيِّ ص فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ ثُمَّ حَانَتْ مِنِّي الْتِفَاتَةٌ فَإِذَا عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ (صلي الله عليه وآله وسلم) تُهْرَاقَانِ بِالدُّمُوعِ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَ أُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ قَالَ أَتَانِي جَبْرَئِيلُ (عليه السلام) فَأَخْبَرَنِي أَنَّ أُمَّتِي سَتَقْتُلُ ابْنِي هَذَا وَ أَتَانِي بِتُرْبَةٍ مِنْ تُرْبَتِهِ حَمْرَاء .

المستدرك ، الحاكم النيسابوري ، ج 3 ، ص 176 – 177 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 14 ، ص 196 – 197 و البداية والنهاية ، ابن كثير ، ج 6 ، ص 258 و .

Ummul Fadhl binti Harits menerima kunjungan Rasulullah SAW, beliau berkata: ‘Aku mendapat mimpi ngeri malam tadi.’ Baginda bertanya: ‘Mimpi apakah itu?’ Beliau menjawab: ‘Ia sungguh mengerikan.’ Baginda bertanya lagi: ‘Mimpi apakah itu?’ Jawabnya: ‘Sepertinya bagian dari tubuhmu terpotong dan berada di ribaku.’ Maka sabda Rasulullah SAW: ‘Mimpi yang baik. Engkau bermimpi Fathimah akan segera memperoleh seorang anak dan anak itu akan berada di ribamu.’ Maka al-Husain pun lahir, beliau berkata ia berada dipangkuanku sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW. Pada suatu hari aku menemui Rasulullah SAW dan meletakkan al-Husain dipangkuan baginda sebagaimana ia berada di ribaku dulu (mimpi). Ketika itu baginda meneteskan air mata, aku berkata: ‘Ayah dan ibuku menjadi tebusan buatmu, mengapakah engkau menangis?’ Baginda bersabda: ‘Jibrail baru saja menemuiku dan memberikan berita bahwa ummatku akan membunuh cucuku ini. Ia juga membawa kepadaku tanah bewarna merah.’”. [Al-Mustadrak al-Hakim, jilid 3, hal 176-177; Tarikh Madinah Dimasqi Ibnu Asakir, jilid 14, hal 196-197; al-Bidayah Wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, jilid 6, hal 258]

.:.

Sebenarnya masih banyak hal – hal yang perlu dikemukakan sebagai bahan tabayyun kepada syiah disini, namun agar isi postingan catatan artikel ini tidak terlalu panjang, maka saya cukupkan hanya 12 poin saja. Saran saya, jangan karena mayoritas orang memojokkan suatu golongan, lantas anda langsung mempercayainya begitu saja tanpa tabayyun terlebih dahulu, laksana kerbau yang dicucuk hidungnya. Karena mayoritas orang bukanlah jaminan sebuah tolak ukur kebenaran. Bahkan bisa jadi sebaliknya, sebagaimana firman Allah dibawah ini:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am 116]

Jangan pula menuduh bahwa pihak syiah ingkar sunnah hanya karena syiah menolak menggunakan hadits – hadits dari referensi sunni, padahal sama saja sebaliknya, pihak sunni juga menolak menggunakan hadits – hadits dari referensi syiah. Saling berbaik sangka saja, karena baik sunni maupun syiah sama – sama  mengamalkan sunnah, hanya saja jika di sunni jalur periwayatannya lebih kepada para sahabat nabi, sedangkan di syiah jalur periwayatannya hanya khusus kepada ahlulbait nabi. Jika di sunni mengambil hadits Rasulullah SAW berikut:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيّهِ

Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya” [Malik, al-Muwaththa juz 2, hal 899; Ibnu Abdil Barr, al-Istidzkar, juz 26, hal 98; Mustadrak al-Hakim, juz 1, hal 93, 171]

Maka, begitupun dengan syiah yang mengambil hadits Rasulullah SAW berikut:

إِنِّيْ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ اللهِ وَ عِتْرَتِيْ أَهْلَ بَيْتِيْ، مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا، وَ إِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحْوَضَ

Aku tinggalkan dua pusaka untuk kalian, dimana bila kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat; yaitu Kitab Allah dan itrahku, ahlul baitku. Sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga berjumpa denganku di telaga (Kautsar).” [Shahih Muslim, jilid 7, hal. 122; Sunan ad-Darimi, jilid 2, hal. 432; Musnad Ahmad, jilid 3, hal. 14, 17, 26, 59, jilid 4, hal. 366, 371, jilid 5, hal. 182; Mustadrak al-Hakim, jilid 3, hal. 109, 148, 533]

Pihak syiah menafsirkan hadits diatas sebagai ahlulbait adalah Fatimah az-Zahra, Ali bin abi Thalib, Hasan bin Ali, Husein bin Ali beserta 9 keturunannya (itrah), sehingga lebih dari itu hanyalah para habaib atau dzurriyyah (keturunan) ahlulbait yang tidak maksum dari dosa. Berbeda halnya dengan sunni yang menafsirkan ahlulbait  itu adalah termasuk juga para habaib yang ada sampai pada dijaman ini.

Saya rasa cukup sampai disini saja pembahasan saya terkait syiah ini. Semoga usaha saya ini bermanfaat besar dan dapat merubah pemikiran negatif anda terhadap syiah. jika anda ingin bertabayyun lebih lanjut, maka silahkan cari channel tv yang dikelola oleh pihak syiah di indonesia bernama: HadiTv2 yang biasanya tertangkap menggunakan parabola. Dan anda juga bisa mendownload lalu mempelajari sejumlah kitab (buku) tentang syiah berbentuk PDF dibawah ini:

Buku & Kitab Tentang Syiah, Rekomendasi:

Untuk selengkapnya mencakup; fiqh, tarikh, hadits, fatwa, tafsir, tasawuf, siyasah, dan lain – lain. Semuanya telah saya dapatkan dari hasil penelusuran saya selama ini di internet, lalu saya upload agar bermanfaat. Lihat & download disini:

https://simpatisansyiah.wordpress.com/kitab-syiah/

Jika berkenan, tolong catatan ini disebarkan ke banyak orang, agar mereka yang anti syiah sadar dari tipuan dajjal dan insya Allah, ini akan terhitung sebagai pahala amal jariyah yang besar untuk anda. Terima kasih. Wassalamu’alaikum.. 🙂

 

Download artikel ini dalam bentuk e-Book PDF:

https://simpatisansyiah.files.wordpress.com/2018/09/akbar-nur-hasan-tabayyun-kepada-syiah.pdf

Iklan