Kata Pembuka: Saya ingin bermain dalam perandaian…

Sungguh keberuntungan yang paling besar bagi kita di dalam kehidupan dunia ini adalah dititipkan oleh Allah dari rahim orang tua yang muslim, sehingga kita dapat merasakan manisnya nikmat iman dan islam sedari awal dilahirkan. Karena jika kita tidak ditakdirkan demikian, maka belum tentu kelak kita akan mendapatkan hidayah untuk menjadi seorang mualaf, sekalipun sudah banyak orang yang semaksimal mungkin mendakwahi ajaran islam ke kita. Apalagi jika kita tidak mau berpikiran terbuka atau menutup diri terhadap ajaran baru yang bertentangan dengan pemikiran sendiri, maka yang terjadi kita akan tetap teguh dengan keimanan agama warisan itu sampai akhir hayat. Bahkan dengan besarnya kereligiusan ini malah membuat kita jadi pemuka agama warisan itu.

Perandaian lainnya lagi, jika kita dilahirkan di kota Mekkah-Arab pada masa Rasulullah SAW hidup, dan orang – orang disekitar membisikkan kepada kita: “jangan dekat – dekat dengan Muhammad, dia itu tukang sihir, nanti bisa terpengaruh!, jika kita langsung percaya tanpa bertabayyun terlebih dahulu, tentulah kita akan rugi besar di dunia & akhirat. Nah, begitupun dengan syiah.

Banyak orang yang mengatakan sesat bahkan kafir terhadap mazhab syiah hanya bersumber pada “katanya” saja tanpa mau bertabayyun terlebih dahulu kepada sumber ajaran syiahnya sendiri. Hal ini jelaslah tidak adil, karena bertabayyun itu harus kepada kedua belah pihak. Jika tidak, maka tentu yang didapat adalah jawaban yang buruknya saja, sebagaimana jika kita bertanya tentang islam kepada orang islamphobia, maka tentu jawabannya selalu buruk. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ” [Al Hujuraat 6]

Jika anda tetap bersikukuh mempunyai pemikiran bhwa syiah itu kafir, laknat, bahkan halal darahnya tanpa adanya tabayyun dari sumber merekanya sndiri, dan jika ini trnyata diakhirat trbukti tidak bnr, maka perhatikanlah konsekwensinya berikut ini:

وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ.

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya.” (HR Bukhari).[1]

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ.

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim).[2]

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ.

“Tidaklah seseorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian.” (HR Bukhari).[3]

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((أَيما رجُل قال لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ, فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا , فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ))

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan hal yang sama dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

((مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ , أَوْ قَالَ : عَدُوَّ اللهِ, وَ لَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ))

“Siapa yang menyeru kepada seseorang dengan sebutan kekafiran atau ia mengatakan: Wahai musuh Allah, sementara yang dituduhnya itu tidak demikian maka sebutan tersebut kembali kepadanya.” (Shahih, HR. Muslim no. 61)

Maka dari itulah melalui media kecil ini saya mengajak kepada anda untuk bertabayyun kepada syiah. Jika anda tidak bersedia, maka jangan sampai anda menyalahkan takdir Allah atas banyaknya dosa besar dan balasannya yang akan menimpa anda di akhirat kelak. Salahkanlah diri anda sendiri, karena saya sudah pernah mengingatkannya namun anda acuhkan begitu saja. [] ANH

 

Tabayyun Kepada Syiah (Saya Dari Anti Syiah Menjadi Simpatisan Syiah)

Oleh: Akbar Nur Hasan

Assalamu’alaikum.. Maaf sebelumnya jika tulisan saya ini dinilai kurang berkenan dan mengganggu. Saya hanya ingin mengajak anda bertabayyun kepada syiah melalui catatan yang saya buat ini berdasarkan hasil pembelajaran dan analisis saya terhadap ajaran syiah selama beberapa tahun lamanya. Tapi sebelum ini agar anda percaya bahwa saya tidak sedang bertaqiyah, maka saya awali dulu dengan bersumpah bahwa demi Allah, sampai dengan sekarang saya tidak pernah bertemu lalu berkenalan dengan orang – orang syiah, atau tidak ada satu orangpun yang pernah saya temui, mereka mengaku sebagai orang syiah. Jika saya berbohong, maka saya siap mati binasa dilaknat oleh Allah! Saya juga bersumpah bahwa demi Allah, tidak ada sedikitpun keuntungan materi yang saya dapatkan dari usaha membela mazhab syiah yang dizhalimi ini, tidak ada yang menyuruh saya, hal ini murni atas inisiatif pribadi, semata – mata karena Allah sekaligus demi kebaikan kita bersama di dunia ini & akhirat kelak. Oleh karena itu jika anda mengaku sebagai mukmin yang bijak, adil dan objektif, mukmin yang memegang teguh agama islam ini dengan kebenaran sejati seumpama menggenggam panasnya bara api, maka tidak ada salahnya untuk anda mau mempelajarinya.

Sedikit perkenalan diri. Sebagian dari orang yang pernah bersinggungan dengan saya sebagai simpatisan syiah ini, mereka kadang menanyakan tentang hal – hal pribadi saya. Mungkin anda yang sedang membaca catatan saya ini pun mempunyai rasa penasaran yang sama terhadap siapa diri saya. Saya pikir identitas diri dan asal – usul saya itu tidaklah terlalu penting untuk anda ketahui. Fokuslah hanya pada isi catatan yang saya tulis ini. Karena yang terpenting adalah yang disampaikan, bukan yang menyampaikan, sehingga jikapun saya hanyalah seorang gelandangan, kuli bangunan, tukang sampah atau dari kalangan apapun itu, tapi jika apa yang saya sampaikan ini benar, maka harus diterima, kecuali ada kesombongan di hati anda. Jika anda seperti itu, sebaiknya renungkanlah sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” seorang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ [HR. Muslim no. 91]

Cukuplah sebagai penggantinya, anda sekedar tahu tentang pandangan atau prinsip hidup saya saja. Saya adalah seorang pemikir bebas. Bebas yang saya maksudkan ini bukanlah berarti liberal, karena saya sendiri anti dengan paham liberalisme. Tapi bebas disini artinya adalah saya mau berpikir terbuka dengan ide – ide dan pemikiran baru yang bahkan bertentangan dengan pemikiran lama saya yang sudah terlanjur bersarang di otak, dan juga dari pemikiran mayoritas orang. Misalnya saja, saya sebagai seorang muslim tidak menganut 1 mazhab tertentu secara mutlak/totalitas. Saya lebih suka terlebih dahulu untuk mempelajari lalu membandingkan suatu hukum/ajaran dari pendapat para imam mazhab/mujtahid, kemudian setelah itu saya dapat memutuskan secara matang pendapat manakah diantara mereka yang lebih rajih (kuat) untuk diikuti. Hal ini saya lakukan karena lebih dapat memuaskan akal pikiran daripada saya harus langsung taklid (mengikuti) begitu saja pada 1 mazhab tertentu secara mutlak dalam hal apapun sebagaimana yang telah dilakukan oleh kebanyakan orang – orang pada umumnya. Jadi jika ada pertanyaan kepada saya: “apa mazhab yang saya ikuti?” Maka dengan optimis saya akan menjawab: bermazhab dalam perihal apa dulu?”.

Selama ini saya sebagai muqallid muttabi hanya melakukan perbandingan pendapat dari 4 imam mazhab sunni saja, yaitu; Syafii, Maliki, Hanafi dan Hambali. Tapi setelah saya mempelajari mazhab syiah, maka kini bertambahlah pegangan dari mazhab yang saya ikuti tersebut menjadi 5. Dan satu – satunya amaliyah dari mazhab syiah yang saya lakukan saat ini (2017) adalah terkait dengan waktu berbuka puasa yang menangguhkannya sampai malam. Hal ini saya yakini karena lebih sesuai dengan firman Allah dalam QS al-Baqarah 187: “..sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”. Adapun selisih waktu antara adzan maghrib berbuka puasanya syiah dengan sunni hanya berbeda lebih mundur sekitar 15-25 menit saja. Lihatlah ketika adzan maghrib sunni berkumandang, bukankah langit masih nampak terang? Berbeda halnya ketika sudah melewati 15-25 menit, matahari telah terbenam secara total, sehingga langit mulai gelap meredup pertanda bahwa waktu awal datangnya malam sudah tiba.

Pemisalan lainnya, saya sebagai muslim turunan tapi saya tidak segan untuk mempelajari keyakinan diluar islam. Beberapa tahun lamanya (2012-2014) saya coba mempelajari kitab injil miliknya umat kristen dan kitab weda miliknya umat hindu. Saya mempelajari kitab – kitab suci agama lain tersebut bukannya karena saya tidak yakin dengan iman islam saya, tapi itu semua saya lakukan untuk menambah wawasan keagamaan saya dan berharap dapat beramal shaleh. Sayapun tidak khawatir jika nantinya aktivitas tersebut malah akan melemahkan aqidah islam saya, karena saya ingin berusaha berlaku objektif dan tidak sombong dengan menolak kebenaran. Setelah usai masa pembelajaran itu, alih – alih melemahkan aqidah islam saya, tapi justru malah semakin menguatkannya. Dan Alhamdulillah, dari pengetahuan tersebut akhirnya dapat saya manfaatkan juga untuk beramal shaleh seperti yang diharapkan diawal, dengan mendakwahkannya kepada orang – orang non muslim itu dari dulu sampai dengan sekarang.

Setelah itu, pembelajaran saya berlanjut kepada syiah. Awalnya saya hanya tahu syiah sekedar nama dan hal – hal negatif mengenainya, sehingga sayapun menjadi orang yang anti syiah dan ikut pula mencaci maki mereka sebagai golongan yang sesat. Namun walau begitu, seingat saya, saya tidak pernah sekalipun sampai hati ikut – ikutan latah mengatakan bahwa syiah bukan islam, sebelum saya dapat mencari tahunya sendiri. Dari sinilah awalnya tergerak hati saya untuk mencoba bertabayyun (kroscek) kepada mereka walaupun itu hanya melalui media internet, karena saya tidak pernah bertemu secara langsung dengan orang – orang syiahnya sendiri. Setelah saya pelajari beberapa tahun lamanya (2015-2017) dengan perbandingan antara pendapat sunni baik yang pro maupun kontra terhadap syiah, dan dari pendapat syiahnya sendiri, hasilnya cukup mengejutkan dan membuat sedih hati ini, karena ternyata saya banyak menemukan fakta bahwa selama ini yang disebarkan oleh pihak – pihak anti syiah untuk menyerang paham syiah adalah dengan menggunakan hadits – hadits dha’if (lemah), ma’udhu (palsu), bahkan sengaja dipalsukan isi kitabnya oleh mereka. Pemalsuan ini utamanya ditemukan dari kitab – kitab syiah literatur induk yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa asing. Hal ini bukan saja diketahui dari hasil penelitian oleh pihak syiahnya sendiri, tetapi juga dari pihak sunni pun pernah meneliti dan melaporkannya demikian. Maka jika anda bertabayyun dengan membaca buku atau kitab – kitab syiah dari penerbit yang tidak atau kurang bisa dipercaya, yang dari bahasa arab kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa kita (melayu/indonesia) atau ke bahasa – bahasa lainnya, lalu melihat ada konten yang dinilai berlebihan dan tidak sesuai dengan akal sehat, itu bisa jadi kitabnya telah dipalsukan. Ini adalah salah satu bukti dari pemalsuan tersebut:

https://syiahnews.wordpress.com/2010/12/25/pelurusan-sarjana-sunni-atas-pemalsuan-kitab-kasyful-asrar-karya-imam-khomaini-oleh-wahabbi-dr-ibrahim-ad-dasuki-syata-membongkar-kejahatan-wahabbi/

Pihak anti syiah itu telah berperilaku jahiliyah dengan mengutip hadits – hadits atau pernyataan dari kitab – kitab syiah yang isinya sangat melampaui batas, padahal setelah diteliti ternyata tidak seperti dalam kitab asli yang dirujuk. Mereka dengan keji mengubah, memotong dan membuat hadits – hadits atau pernyataan – pernyatan palsu hasil karangan mereka sendiri pada kitab – kitab syiah terjemahan. Beberapa contoh diantaranya:

  1. “Allah tidak tahu masa depan para hamba-Nya sedangkan para imam mengetahuinya”, ini pemalsuan dan penyelewengan istilah al-bada dari kitab Ushulul Kaafi hal 40 sebagaimana pemalsuannya sama dengan kitab kasyful Asrar hal 99 yang link bantahan selengkapnya dapat dibaca diatas.
  2. “Ali adalah dzat yang awal dan yang akhir”, ini pernyataan Ali yang dikutip sepotong dan hanya bermakna kiasan saja. Selengkapnya: https://www.facebook.com/notes/shadra-hasan/riwayat-ali-bin-abi-thalib-dinyatakan-sebagai-dzat-yang-pertama-dan-terakhir/637200612996515/.
  3. “Malaikat Jibril salah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad yang seharusnya diserahkan kepada Ali”, ini pernyataan dari syiah ghulat/ekstrim yang tidak ada hubungannya dengan syiah di jaman ini. Selengkapnya: http://www.islamquest.net/id/archive/question/id7388. Tapi menurut Ibu Emilia Renita AZ yang pernah difitnah berkata begitu dalam sebuah screenshot facebook, beliau membantahnya dan mengatakan bahwa tidak ada syiah ghulat itu, sehingga menurutnya hal tersebut hanyalah sejarah yang direkayasa. Namun sayang, dari pihak syiahnya sendiri banyak yang termakan manipulasi sejarah palsu
  4. “Wanita syiah yang bersuami boleh di mut’ah secara bergilir oleh banyak pria dalam durasi waktu yang sangat singkat”, ini pemalsuan dari kitab Tahriir Al Wasiilah 2/265 masalah 17 yang link bantahan selengkapnya terdapat di poin ke 4 tentang nikah mut’ah terkait dusta al-Amiry.
  5. “Memakan tahi/kotoran para imam dijamin masuk surga”, ini pemalsuan dari kitab anwar wilayah Bab Thaharah, hal 440 yang bantahan selengkapnya terdapat di poin ke 11 tentang hal tersebut.

Dan lain – lain, masih banyak lagi. Saya bersyukur dapat mengetahui atas syubhat yang dibuat – buat oleh pihak anti syiah itu. Karena kebenaran lebih berharga dari apapun. Setidaknya dengan kebenaran ini saya bisa berhenti menghujat syiah lagi.

Jika anda berpikiran kritis dan sebelumnya pernah mendapati seperti 5 hal diatas, tentulah anda akan punya sedikit/banyak rasa curiga dan keraguan untuk mempercayainya. Karena logikanya, hampir mustahil syiah jika memang benar kesesatannya melampaui batas seperti itu, mereka bisa tetap eksis dan berkembang dari jaman dulu sampai dengan sekarang yang sudah berjalan selama ribuan tahun lamanya. Terlebih disisi mereka banyak sekali para habaib atau dzuriyyat ahlul bait nabi, alim ulama dan hafidzul Qur’an. Inilah salah satunya:

https://ejajufri.wordpress.com/2015/12/25/doktor-cilik-penghafal-alquran/

Selain kitab – kitab syiah yang dipalsukan, orang – orang syiahnyapun banyak yang dibuat tulisan palsunya, mulai dari artikel di website sampai dengan buku dan kitabnya:

Selain tokoh dari pihak syiah yang dipalsukan, ternyata testimoni tokoh besar dari pihak sunni pun telah ada yang dipalsukan. Salah satunya adalah kisah seorang kristolog dunia bernama Ahmad Deedat yang diceritakan oleh pihak anti syiah bahwa dirinya telah membungkam mulut “pendeta Syiah” melalui kata – kata “pada zaman rasul, orang Syiah suka mencuri sandal”. Ternyata kisah tersebut bukanlah berasal dari beliau, melainkan dari ulama syiah yang bernama Allamah Hilli dalam kitab Munazharat fil Imamah yang justru kebalik isinya, yakni untuk mengkritik 4 imam mazhab sunni. Adapun pendapat Ahmad Deedat yang asli terkait syiah adalah positif thinking. Selengkapnya baca disini:

https://ejajufri.wordpress.com/2009/02/24/nasihat-ahmad-deedat-syiah/

Tidak puas sampai disitu, mereka juga mengarang berita palsu yang menyudutkan syiah. Misalnya; berita bahwa muslim sunni di teheran iran ditindas, tidak punya masjid khusus, dilarang shalat jum’at, shalat id, dan lain – lain. Padahal nyatanya tidaklah demikian:

Begitu juga berita tentang syiah yang katanya karena mayoritas, sehingga dapat menjadi aktor utama dalam pembantaian muslim sunni di suriah, dan lain – lain. Sebagian besar dari kita dengan mudahnya percaya dan menelan bulat – bulat informasi dari media berkedok islam tentang hal tersebut. Padahal statistik data dilapangan membuktikan bahwa tentara dan rakyat suriah itu 70% adalah sunni, sedangkan syiah hanya sekitar 15% dan sisanya adalah non muslim. Lantas mana mungkin kaum minoritas itu dapat menjajah mayoritas? Sungguh, konflik tersebut hanya bermotif politik saja, bukan agama. kita digiring oleh media jahat untuk diadu domba: sunni Vs syiah.

Bukan hanya berita saja yang dipalsukan, dalam bentuk video pun banyak yang dipalsukannya. Menurut pengakuan dari pihak syiahnya sendiri, diketahui adanya video di youtube yang mengambil gambar ulama syiah, tapi bentuk audio atau suara yang dihasilkan bukanlah dari suara ulama yang diambil gambarnya itu. Ada juga video yang memang benar ceramah dari ulama syiah di iran atau negara lainnya, namun teks terjemahan bahasanya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ulama syiah itu. Ada lagi video yang dari judulnya mengandung hasutan keburukan, tapi isi didalamnya ternyata tidak mengartikan yang demikian. Misalnya saja, dalam judul video “Ulama Syi’ah si Kafir homo Khamenei menyedot bibir laki laki”, padahal setelah ditonton ternyata hanya sekedar cium pipi kanan dan kiri saja atau istilah kerennya di kita adalah “cipika – cipiki” saja:

https://www.youtube.com/watch?v=lZOTJ04Z0_g

Contoh video lainnya lagi yang berjudul “Wanita Syiah Banting Bayi Di Hussainiyat”, padahal setelah ditonton ternyata bayi yang terkena kibasan baling – baling kipas angin itu hanyalah karena faktor ketidaksengajaan saja:

https://www.youtube.com/watch?v=AJbnQAI7HuE

Ada lagi video yang berjudul “Cara Sholat Syiah Heboh – GOYANG -”, padahal setelah ditabayyuni ternyata wanita yang sedang shalat dalam video tersebut hanyalah orang stress dan bukan syiah. Hal ini telah diklarifikasi oleh orang – orang Palembangnya sendiri bahwa dia mengalami gangguan jiwa setelah menjadi korban pemerkosaan ketika jadi TKW di Arab Saudi, lalu dibuang oleh suaminya:

https://www.youtube.com/watch?v=pnE_vdcapac

Ada lagi video yang setelah saya analisa, kemungkinan besar hanyalah adegan rekayasa belaka. Silahkan baca hasil analisis saya terkait video pengakuan dari seorang yang katanya habib mantan syiah bernama Anis al-Jufri dibawah ini:

https://www.youtube.com/watch?v=xodk6Q_fvj0

  1. Pada durasi 12:24 dia menyatakan bahwa shalat maghribnya syiah bisa dikerjakan jam 12 malam. Dia berdusta, karena batas waktu shalat isya dalam mazhab syiah itu hanya sampai tengah malam saja, sehingga jika shalat maghrib dan isya dikerjakan jamak takhir melebihi jam 12 malam, maka ada kelonggaran kepada si pelaku dengan wajib mengerjakannya sampai batas terbit fajar dengan niat ma fidz-dzimmah (yakni mendekatkan diri kepada Allah). [Hasan Musawa – Fiqih Praktis Menurut Mazhab Ahlul Bayt as Seputar Ibadah, Bab: Shalat Fardhu, hal: 49], (jika di sumber lain disebutkan dengan niat qadha, tapi shalatnya tidak mendapatkan pahala).
  2. Kemudian pada durasi 13:25 dia menyatakan bahwa orang syiah tidak mengenal shalat sunnah kecuali tahajud saja. Dia berdusta, karena shalat sunnah syiah tidak hanya shalat tahajud saja, berikut ini saya jabarkan;
    • Shalat sunnah hariannya syiah berjumlah 34 raka’at, yaitu; shalat rawatib 8 raka’at sebelum dzuhur, 8 raka’at sebelum ashar, 4 raka’at sesudah maghrib, 2 raka’at sesudah isya, 8 raka’at shalat malam, 2 raka’at shalat untuk meminta syafa’at + 1 raka’at witir dan 2 raka’at pada waktu shubuh yang dinamakan shalat fajar. [M. Jawad Mughniyah – Fiqih Lima Madzhab, Bab: Shalat, hal: 72]
    • Jika Shalat malam di bulan ramadhan di sunni bernama shalat tarawih yang dapat dilakukan secara berjama’ah setelah shalat isya, maka di syiah penyebutannya bukan shalat tarawih, melainkan shalat nafilah yang dapat dilakukan secara munfarid (sendirian) saja setelah shalat maghrib dan isya (selengkapnya: https://hauzahmaya.wordpress.com/2015/06/19/shalat-terawih-syiah/).
    • Dipihak syiah juga ada shalat sunnah di waktu dhuha, hanya saja tidak dinamakan shalat dhuha sebagaimana di sunni, itupun terdapat khilafiyah, ada yang membolehkan, ada juga yang membid’ahkan, namun saya pikir pendapat yang lebih rajih (kuat) diantara mereka adalah yang membid’ahkannya. Tapi walau begitu sebaiknya saling menghargai perbedaan saja. Toh, dalam ajaran sunni sendiri shalat dhuha ini terdapat khilafiyah yang bahkan pembid’ahannya dinyatakan dari sejumlah hadits shahih mereka dan bahkan ada sejumlah hadits yang menyebutkan kemuliaan shalat dhuha ini malahan didhaifkan oleh Nashiruddin Albani (Selengkapnya: http://www.lppimakassar.net/hadis/salat-dhuha).
  3. Lalu pada durasi ke 17:00 dia mennyatakan bahwa dirinya masuk komunitas syiah karena ingin mencari kebenaran. Saya yakin dia berdusta, karena kebenaran macam apa yang ingin dicarinya sedangkan sejumlah ucapannya terkait ajaran syiah diatas saja terbukti dusta? Saya mendapat informasi dari video pernyataannya petinggi ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) Ahmad bin Zein al-Kaff bahwa orang – orangnya ada yang menyusup ke dalam kubu syiah. Jadi, mungkin saja dia bagian dari mereka juga sebagai mata – mata. Saya sendiri sangat mengapresiasi aktivitas mata – mata ini jika kemudian baik atau buruknya berita yang dilaporkannya itu adalah benar apa adanya, bukan malah mengarang dusta.
  4. Lalu pada durasi ke 17:23 dia menyatakan bahwa orang syiah bertaqiyah (ingin bersatu dengan sunni padahal aslinya) menghalalkan harta dan darah orang sunni. Dia berdusta, karena justru taqiyah itu dilakukan oleh pihak syiah hanya untuk keselamatan dirinya saja, tidak lebih (selengkapnya baca di poin 7 tentang taqiyah).
  5. Lalu pada durasi ke 19:48 dia menyatakan bahwa tidak ada habaib syiah di indonesia. Dia berdusta, karena misalnya saja tokoh besar ABI (Ahlul Bait Indonesia) yaitu Muhsin Labib, beliau adalah seorang habib Begitu juga ada sejumlah teman saya di facebook para habaib syiah itu.
  6. Lalu pada durasi ke 20:15, dia menyatakan jika jumlah syiah di negeri ini menjadi mayoritas, maka pihak sunni kan dihabisi. Dia berdusta, karena seperti halnya fitnah konflik suriah yang sudah saya bahas sebelumnya, disana 70% itu sunni, sedangkan syiah hanya 15% dan sisanya non muslim.

Selain itu, saya coba kunjungi web yang tertera pada video tersebut yakni di http://pq-almisbah.com hasilnya Server Not found. Lalu saya juga tidak menemukan video dialog lainnya yang dirilis oeh majelis al-Misbah jakarta ini selain hanya video dialog kepada mantan habib syiah ini saja. Sudahlah narasumbernya pendusta, alamat webnya palsu dan hanya terdapat 1 video dialog saja? Jangan – jangan semua ini hanyalah rekayasa belaka?! Maka jangan mudah percaya dengan banyaknya edaran video penipuan mantan syiah semacam ini lagi.

Dan dari hasil pengalaman saya berdiskusi dengan pihak anti syiah dalam setahun terakhir ini, mereka juga terkadang ketahuan berdusta. Seperti misalnya pernah ada orang yang mengatakan kepada saya bahwa jenazah orang syiah ketika dimandikan tidak ditutupi oleh kain penghalang, sehingga tanpa rasa malu kerumunan orang – orang diluar dapat melihat auratnya. Pernah juga yang lainnya bercerita tentang pengalamannya dalam menghadiri pengajian syiah, disana Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, dan lain – lain dilaknati, tapi anehnya mereka semua menolak ketika saya menyuruhnya untuk bersumpah atas nama Allah dan siap mati binasa terkena laknat-Nya jika berdusta. Hal ini cukup bagi saya untuk meyakini bahwa mereka telah berdusta. Ada lagi dalam inbox facebook seseorang mengatakan kepada saya bahwa al-Qur’an syiah memang benar telah mengalami tahrif (perubahan). Tambahnya lagi, orang – orang syiah awam tidak akan pernah bisa mengetahuinya, hanya khusus bagi mereka yang sudah tinggi keilmuannya saja yang dapat tahu hal tersebut. Tapi aneh bin ajaib, dirinya yang mengaku tidak pernah menjadi orang syiah, katanya pernah mendapatkan kesempatan melihat secara langsung al-Qur’annya syiah yang telah mengalami tahrif itu karena diperlihatkan oleh ulama syiahnya sendiri ketika dia aktif mengikuti pengajian umum syiah. Wah, berarti “bunuh diri” dong ulama syiah itu?! Maka saya tanya kepada dia “bagaimana mungkin orang syiah awam tidak pernah ada yang tahu dan diperlihatkan akan kebenaran adanya tahrif al-Qur’an ini, sedangkan anda yang bukan orang syiah saja dapat tahu dan diperlihatkan secara cuma – cuma oleh ulama syiahnya sendiri hanya karena sekedar pernah mengikuti pengajian umumnya syiah saja?”. Dia hanya diam saja tidak bisa menjawab pertanyaan saya tersebut. Maka saya yakin bahwa dia telah berdusta. Tak disangka, mereka semua yang saya perhatikan sangat islami, tapi ternyata aslinya pendusta agama. Mungkin memang benar dugaan saya diawal bahwa pihak anti syiah telah menghalalkan segala macam cara untuk memojokkan syiah termasuk dengan cara berdusta sekalipun.

Saya jadi curiga, jangan – jangan benar kata pihak syiah, bahwa pihak wahabi yang punya wewenang, mereka mencoba menyembunyikan kebenaran dalam kitab – kitab sunni pegangan mereka sendiri khususnya yang memuat hadits – hadits nabi tentang  wasiat dan Ali Bin Abi Thalib yang dinilainya tidak sejalan dengan mereka dan dapat menguntungkan pihak syiah, dengan cara memodifikasinya, meragukan para perawinya yang tsiqah, menafsirkannya dengan makna yang tidak tepat bahkan tidak tanggung – tanggung mencapnya sebagai hadits ma’udhu padahal sebelumnya adalah shahih dan diriwayatkan dengan sanad – sanad yang bisa dipercaya. Misalnya saja, dalam kitab Tafsir Thabari jilid 19 halaman 121 bagian dari sabda Nabi: “Washiku dan khalifahku”, mereka menggantinya dengan kalimat “Inilah saudaraku, dan begini dan begitu…” Mereka lalai, padahal Thabari telah menyebutnya juga secara sempurna dalam kitab sejarahnya jilid ke 2 pada halaman 319. Sebenarnya masih ada contoh hadits lainnya, tapi untuk kebaikan kita bersama, maka saya rasa dicukupkan saja.

Semua kedustaan diatas hanyalah sebagai sampel saja. Masih banyak kedustaan lainnya yang tidak saya sebutkan disini. Saya tidak habis pikir, pihak anti syiah menganggap bahwasannya pihak syiah adalah pendusta dan pemalsu hadits terdepan, tapi ternyata hanya pemutar balikkan fakta saja. Entah apa tujuannya mereka bisa tega melakukan tipu daya besar tersebut. Tidak takutkah mereka menjadi muflisin dan merasakan pedihnya siksa api neraka diakhirat kelak? Atau apakah mereka punya dalil tersendiri untuk menghalalkan kedustaan dengan tujuan kemuliaan agama? Wallahu a’lam. Masih mending jika mereka yang menyebarkannya itu tidak tahu bahwa semua hanyalah fitnah. Tapi lain ceritanya jika mereka tahu bahkan telah menjadi dalang dibalik itu semua, maka sebaran – sebarannya itu, semakin banyak orang yang membaca dan terhasut, maka semakin besar pula dosanya. Terlebih jika yang dipalsukan adalah hadits – hadits yang jelas mengatasnamakan sabda Rasulullah SAW, sehingga secara tidak langsung mereka juga telah berkata dusta atas nama beliau. Sungguh ini dosa yang teramat sangat besar. Karena Rasulullah SAW bersabda:

Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di Neraka.” [Hadits shahih, Bukhari (I/7, 35, 36) dan Muslim (I/7, 8)]

Nah, karena hal inilah maka tujuan utama saya menulis catatan ini adalah untuk mengajak anda bersama – sama berpikir kritis dan bertabayyun kepada syiah, bukan untuk mensyiahkan anda, itu urusan lain. Ingatlah dalil naqli ini:

Hai orang – orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ” [Al Hujuraat 6]

“Bila dua orang yang bersengketa menghadap kamu, janganlah kamu berbicara sampai kamu mendengarkan seluruh keterangan dari orang kedua sebagaimana kamu mendengarkan keterangan dari orang pertama.” [HR. Ahmad]

Banyak propaganda tulisan yang beredar dewasa ini di media bahwa 4 imam mazhab sunni telah menganggap keseluruhan syiah itu sesat bahkan kafir. Padahal dalam tulisan 4 mazhab sunni tersebut dalam kutipan teks asli dari kitab – kitabnya itu adalah rafidhah. Dan perlu diketahui bahwa tidak semua syiah itu dicap sebagai rafidhah (https://www.youtube.com/watch?v=gmk51ZtbO4c), sehingga ini artinya mereka tidak pernah menyatakan kafir terhadap keseluruhan golongan syiah. Nah, trkait rafidhah ini, para ulama syiah rujukan dari iran sendiri sebenarnya banyak yang menentang, bahkan diantaranya menyatakan bahwa rafidhah adalah syiah ekstrimis yang sesat, karena adanya fatwa dari “imam” Khomeini & khomenei yang melarang keras melaknat, mengkafirkan atau menghina simbol – simbol (para sahabat nabi) yang dimuliakan oleh pihak sunni. Namun walau demikian, ternyata masih banyak para ulama beserta pengikutnya dari pihak sunni yang sudah tahu akan hal tersebut namun tidak mau mempercayainya dengan alasan itu hanyalah taqiyah, padahal urusan hati hanyalah Allah yang tahu dan berhak menilainya. Lebih dari itu, sebagian diantara mereka tidak hanya mencap semua syiah adalah kafir, bahkan juga berani memvonis kafir kepada orang – orang yang tidak mau memvonis syiah sebagai kafir, dan yang lebih parah lagi mereka tanpa merasa berdosa dengan tega menggunakan hadits dha’if untuk mengajak dan menyuruh orang – orang membunuh syiah (https://secondprince.wordpress.com/2015/11/25/abu-jibril-berhujjah-dengan-hadis-dhaif-untuk-menyerukan-membunuh-orang-syiah/), na’udzubillah! Maka jika anda termasuk orang yang demikian, saran saya lebih takutlah anda kepada sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” [Shahih, HR. al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60]

Jika mau direnungkan, sabda Rasulullah SAW tersebut lebih dijamin kebenarannya daripada pendapat sebagian “ulama” yang menganggap kafir kepada orang yang tidak mengangap syiah kafir, yang belum tentu diakhirat terbukti kebenarannya. Jika seandainya apa yang dituduhkan itu ternyata tidak benar, maka siapkah anda jika di akhirat kelak ternyata andalah yang berstatus sebagai kafir murtad, sebagaimana sabda Rasulullah SAW tersebut? Belum lagi yang sekedar mendukung pembunuhan pihak syiah yang jika ternyata mereka masih berstatus sebagai muslim, Rasulullah SAW dalam sebuah hadits pernah mengatakan bahwa pendukung pembunuhan itu diakhirat kelak terputus dari rahmat Allah! Maka siapkah anda juga menjadi salah orang yang terputus dari rahmat Allah? Siapkah amal ibadah dan shaleh yang telah anda lakukan selama hidup di dunia ini menjadi banyak terhapus sia – sia karenanya? Jangan pernah menyalahkan takdir Allah jika hal itu terjadi. Maka lebih baik anda berhati – hati untuk tidak langsung ikut – ikutan memvonis kafir apalagi sebelum bertabayyun. Toh, adanya piagam madinah amman message (baca: http://ammanmessage.com) yang didalamnya ditanda tangani oleh lebih dari 500-an ulama di dunia, mereka telah bersepakat bahwa mazhab islam itu terdiri dari 8 yang diakui, yang diantaranya adalah mazhab syiah (imamiyah/itsna asy’ariyyah/ja’fari dan zaydi).

Ada sejumlah hal yang sering diulangi sebagai bahan gosip oleh pihak anti syiah dalam menyerang ajaran syiah yang bahkan sebagiannya hanya fitnah belaka. 12 hal itu diantaranya telah saya rangkum disini. Dan agar anda percaya dan dapat berlaku adil diantara ke 2 mazhab, maka sebagian besar pembahasannya saya kutip dari sumber hadits – hadits referensi sunni. Berikut pemaparannya:

  1. Syahadatnya syiah

Sebelumnya jika anda pernah membaca syahadatnya syiah yang kalimatnya lebih dari 3, dengan tambahan isinya melaknat kepada para sahabat dan istri nabi, maka ketahuilah bahwa itu semua adalah palsu, sekalipun hal tersebut dibuktikan dari hasil kutipan buku atau kitab yang diklaim berasal dari sumber syiahnya sendiri, bisa jadi itu palsu. Karena dalam syahadat syiah yang asli hanya ada 3 kalimat saja, tidak lebih.

Rasulullah SAW memang tidak pernah menyatakan 3 kalimat syahadat, tapi pernah menyatakannya bahkan lebih dari 3 kalimat seperti yang dikemukakan pada hadits riwayat Ubadah bin Shamit, ra ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

Barang siapa mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwa Nabi Isa as. adalah hamba Allah dan anak hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang dibacakan kepada Maryam dan dengan tiupan roh-Nya, bahwa surga itu benar dan bahwa neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya melalui pintu dari delapan pintu surga mana saja yang ia inginkan.” [Ringkasan Shahih Muslim, No.41]

Oleh karena hadits tersebut, maka dengan ini menambahkan 1 atau sejumlah kalimat syahadat yang lain jika kontennya adalah benar (bukan dusta), maka ini adalah suatu hal yang dapat dibenarkan, sehingga hukumnya mnjadi mubah (boleh). Seperti contohnya menambahkan bahwa Al-Qur’an adalah kitabullah. Nah, begitupun dengan syiah yang memiliki tiga kalimat syahadat, disamping “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, dan Ali adalah Wali Allah.” Hal ini dibenarkan karena kontennya memang benar bahwa Ali adalah wali Allah, sebagaimana dibuktikan pada sebuah hadits:

”Imran bin Husain meriwayatkan bahawa Nabi saaw bersabda, ‘Sesungguhnya Ali dariku dan aku dari Ali. Ali adalah wali setiap mukmin sesudahku’..” [Shahih al-Tirmidhi, jilid 5, hlm 236, al Shahih Ibn Habban jilid 1 hlm 383, Mustadrak al Hakim , jilid 3, hlm 119, Sunan al Nasai jilid 5 hlm 132, Ibn Abi Shaiba jilid 6 hlm 383 Musnad Abu Yala jilid 1 hlm 293]

Jadi jika anda masih bersikukuh bahwa menambahkan lebih dari 2 kalimat syahadat adalah salah, sedangkan saya mempunyai dalil yang cukup kuat dalam hal tersebut, maka adakah anda mempunyai sanggahan lewat dalil larangannya?

 

  1. Shalatnya syiah

Mengenai shalat dalam tiap mazhab itu berbeda – beda, bukan hanya terjadi diantara kalangan sunni – syiah saja, melainkan sesama sunni yang 4 mazhab pun demikian adanya. Shalatnya orang syiah tidak bersedekap, maka ketahuilah bahwa imam Malik juga telah berijtihad demikian. Silahkan baca:

https://ejajufri.wordpress.com/2009/01/20/fikih-shalat-lima-mazhab/

Bahkan mazhab hanafi menyatakan bahwa shalat fardhu bukan hanya 5 waktu, akan tetapi 6 waktu yang tambahannya dengan witir. Silahkan dibaca:

http://rumahfiqih.com/x.php?id=1206083676&=shalat-witir-hukumnya-wajib.htm

Begitupun dengan shalatnya syiah dapat dilakukan secara jamak dalam 3 waktu saja tanpa adanya rukhshah dan udzur syar’i karena adanya waktu musytarak (penggabungan) yang mana ini juga bersumber dari hadits sunni:

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Rabii’ Az Zahraaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaad dari Zubair bin Khirriit dari ‘Abdullah bin Syaqiiq yang berkata: “Ibnu ‘Abbas berkhutbah kepada kami pada suatu hari setelah Ashar sampai terbenamnya matahari dan nampak bintang-bintang maka orang – orang pun mulai menyerukan “shalat shalat”. Kemudian datang seorang dari Bani Tamim yang tidak henti-hentinya menyerukan “shalat shalat”. Maka Ibnu ‘Abbas berkata “engkau ingin mengajariku Sunnah? Celakalah engkau, kemudian Ibnu ‘Abbas berkata “aku telah melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjama’ shalat Zhuhur Ashar dan Maghrib Isyaa’. ‘Abdullah bin Syaqiiq berkata “dalam hatiku muncul sesuatu yang mengganjal, maka aku mendatangi Abu Hurairah dan bertanya kepadanya, maka ia membenarkan ucapannya” [Ibnu ‘Abbas, Shahih Muslim 1/490 no 705]

 Telah menceritakan kepada kami Muusa bin Haruun yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin ‘Amru Adh Dhabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim Ath Tha’ifiy dari ‘Amru bin Diinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat delapan rakaat sekaligus dan tujuh raka’at sekaligus bukan karena sakit dan tanpa sebab tertentu (uzur) [Mu’jam Al Kabir 12/177 no 12807]

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut (khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. [Hadits Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir]

Baca selengkapnya:

 Sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Abbas pada hadits shahih muslim di urutan teratas, apakah menurut anda berkhutbah (berceramah) termasuk pada perkara berat dan mendesak sehingga tidak dapat diberhentikan sejenak? Tidak! Justru begitu mudah, terlebih jika alasannya untuk melaksanakan shalat! Jadi jika anda menganggap bahwa shalat jamak yang dilakukan oleh syiah tersebut telah mempermainkan syari’at atau karena bentuk kelalaian sebagaimana juga tertera pada hadits – hadits lainnya yang disebutkan diatas, maka beranikah anda juga menuduh bahwa Ibnu Abbas telah berlaku demikian? Bersikap adillah!

 

  1. Nikah mut’ah

Menurut pihak syiah, nikah mut’ah itu dihalalkan oleh Rasulullah SAW, bahkan sampai beliau wafatpun status hukumnya masih tetap halal. Namun beberapa waktu kemudian akhirnya nikah mut’ah resmi diharamkan ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah. Hal ini masyhur bukan hanya dikalangan atau referensi syiah saja, tapi dari referensi sunni pun ada, sehingga hal ini sebenarnya adalah perkara khilafiyah juga diantara pihak sunni sendiri. Berikut ini buktinya:

Ibn Katsir  menjelaskan: “Bukhari mengatakan bahwa Umar telah melarang setiap orang untuk melakukan nikah mut’ah”. [ Tafsir Ibn Katsir, V1, hal. 233.]

Umar suatu waktu berpidato di atas mimbar lalu mengatakan:”Wahai sekalian manusia, ada tiga hal yang diperbolehkan di zaman Rasulullah dan saya melarang dan mengharamkan semuanya. Ketiga hal itu adalah nikah mut’ah, haji tamattu’ dan mengucapkan ‘Hayya ‘Al-khair al-amal’.” [1. Syarh al-Tajrid oleh al-Fadhil al-Qosyaji (bagian Imamah) 2. Al-Mustaniran oleh Tabari 3. Al-Mustabin oleh Tabari]

Bahkan ketika Ibn ‘Umar ditanya tentang mut’ah, ia memberi fatwa tentang kehalalannya. Kemudian mereka mempertentangkannya dengan ucapan ayahnya. Tetapi ia bertanya kepada mereka: “Perintah siapakah yang lebih patut diikuti, perintah Rasulullah SAW atau Umar?”

Ali bin Abi Thalib ra mengatakan: “Mut’ah adalah suatu karunia dari Allah. Sekiranya tidak ada Umar yang melarangnya, maka tidak akan orang yang berzina kecuali yang benar-benar bejat (shaqi).” [ 1) Tafsir Al-Kabir, oleh al-Tsa’labi, komentar tentang ayat 4:24. 2) Tafsir Al-Kabir, oleh Fakhr al-Razi, V3, hal. 200, komentar tentang ayat4:24. 3) Tafsir Al-Kabir, oleh Ibn Jarir al-Tabari, komentar tentang ayat 2:24dengan silsilah perawi yang otentik, V8, hal. 178, hadits no. 9042. 4) Tafsiral-Durr al-Mantsur, oleh al-Suyuti, V2, hal. 140, dari beberapa perawi. 5) Tafsir al-Qurtubi, V5, hal. 130, komentar tentang ayat 4:24 6) Tafsir Ibn Hayyan, V3, hal. 218, komentar tentang ayat 4:24. 7) Tafsir Nisaburi, olehAl-Nisaburi (abad kedelapan) 8. Ahkam al-Quran, oleh Jassas, V2, hal. 179, komentar tentang ayat 4:24]

Atha’ berkata “Jabir bin Abdullah datang untuk menunaikan ibadah umrah. Maka kami mendatangi tempatnya menginap. Beberapa orang dari kami bertanya berbagai hal sampai akhirnya mereka bertanya tentang mut’ah. Jabir menjawab “benar, kami melakukan mut’ah pada masa hidup Rasulullah SAW, masa hidup Abu Bakar dan Umar”. [Shahih Muslim 2/1022 no 15 (1405) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

 Jabir bin Abdullah mengatakan: “Kami menikah mut’ah dengan memberi segenggam penuh (tepung atau kuma) sebagai mas kawin pada masa hidup Rasulullah (SAW) dan pada masa Abu Bakar, hingga Umar melarangnya pada kasus Amr b. Huraith.” [Shahih Muslim Jilid 8, Nomor 3249]

 jika nikah mut’ah adalah zina, maka Jabir dan para sahabat lainnya telah berzina dan menghalalkan zina. Ini jelas pelecehan terhadap martabat para sahabat nabi. Tidak hanya itu, Ibn Juraij (w.150 H) berpendapat bahwa nikah mut’ah adalah mubah (boleh). Imam Syafi’i menegaskan bahwa ia telah bernikah mut’ah dengan 90 orang perempuan, begitupula pendapat ad-Dhahabi yang menyatakannya demikian. [Tadhib al Tahdhib, VI, hlm. 408]. Perhatikanlah Ibn Juraij adalah seorang Tabi’in dan imam masjid Mekah telah menikah mut’ah dengan 90 orang perempuan dan dia juga telah meriwayatkan banyak hadits di dalam shahih – shahih sunni seperti Bukhari, Muslim dan lain-lain.

Selengkapnya terkait nikah mut’ah silahkan baca:

Dan mengenai nikah mut’ah ini, ternyata banyak kepalsuan yang dibuat untuk menyerang syiah. Beberapa diantaranya:

 

  1. Syiah mencaci maki para Sahabat?

Jika anda mendapatkan berita bahwa syiah telah mencaci maki bahkan mengkafirkan hampir semua sahabat nabi, maka sesungguhnya itu hanyalah fitnah. Baca ini buktinya:

https://secondprince.wordpress.com/2014/03/27/benarkah-mazhab-syiah-mengkafirkan-mayoritas-sahabat-nabi/

Adapun sebagian kecil penganut syiah yang sampai melaknat dan mengkafirkan para sahabat nabi, katakanlah itu sebagai oknum. Setiap manusia, baik itu dari pihak sunni, syiah, non muslim dan lain – lain pastilah tidak akan lepas dari adanya oknum. Karena para pengurusnya adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah, khilaf dan dosa. Salah satu oknum syiah ini misalnya datang dari seorang syiah takfiri bernama Yasir Habib. Banyak diantara pihak anti syiah yang mengutip pernyataannya dari video di youtube untuk memojokkan dan menggeneralisir bahwa semua syiah seperti dirinya, padahal Yasir Habib sendiri yang dakwahnya didukung dana dari Inggris ini, selain melaknat para sahabat dan istri nabi, dia juga melaknat Rahbar Iran Ali Khamenei dan lain – lain. Jadi anda masihkah anda mau percaya dengan pernyataan dia yang bahkan oleh pihak syiahnya sendiri dia tak dianggap, sesat dan diusir dari negara asalnya sendiri? Dan jika anda mengkafirkan syiah ini karena ulah sebagian oknum tersebut, maka anda juga harus bersikap adil terhadap para mujahilun IS(IS) dengan memvonis kafir terhadap mereka juga, bukan sekedar vonis sebagai khawarij saja. Hal ini dikarenakan mereka mengkafirkan bahkan menghalalkan darah kaum muslimin dengan alasan menerima sistem thoghut demokrasi. Contohnya saja, mereka dengan terang – terangan mencap kafir murtad terhadap mantan presiden mesir Muhammad Mursi (Alm), Hamas, FSA, al-Qaeda, dan lain – lain.

Demikian yang tadi dibahas adalah oknum syiah, maka tentu tidak sedikit diantara mereka yang tidak bersikap demikian. Saya pikir yang tepat dilakukan oleh mereka bukan menghina para sahabat, tapi hanya sekedar mengkritisinya saja. Karena para sahabat nabi juga sama seperti kita yakni sebagai manusia biasa yang tidak luput dari salah, khilaf dan dosa. Dan sebagaimana yang telah dijelaskan diawal bahwa para tokoh ulama besar syiah di iran telah menyepakati bahwa haram hukumnya menghina simbol – simbol (para sahabat) yang dimuliakan oleh saudara – saudara mereka dari ahlussunnah (sunni). Tapi walaupun demikian, ternyata masih saja ada sebagian orang dari pihak sunni yang berkeberatan seraya mementahkan pernyataan tersebut dengan alasan itu hanyalah taqiyah lalu menggeneralisir semua orang syiah sama saja. Ok, perlu diketahui juga sebagai bahan perenungan bersama, jika anda sakit hati dengan oknum syiah yang mencaci-maki para sahabat nabi, maka sama halnya dengan syiah yang sakit hati juga terhadap ajaran sunni yang menyatakan bahwa:

  1. Kedua orang tua Rasulullah SAW yakni; Abdullah dan Siti Aminah serta pamannya; Abu Thalib adalah termasuk orang – orang kafir dan masuk neraka. Hal ini berdasarkan pada hadits shahih. Silahkan baca: http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2008/06/kafirkah-kedua-orang-tua-nabi-sebuah.html. Adapun pendapat syiah terkait Kedua orang tua Rasulullah SAW yakni; Abdullah dan Siti Aminah, serta pamannya; Abu Thalib adalah para para penghuni surga. Kedua orang tua Rasulullah SAW adalah ahlul fatrah, sedangkan paman nabi tersebut telah masuk islam sebelum meninggal.
  2. Rasulullah SAW menikahi Siti Aisyah pada umur 6/9 tahun, sehingga pihak non muslim banyak mencibirnya sebagai seorang pedofil. Bahkan tidak sedikit dari pihak muslim sunni yang terusik dengan berita tersebut. Hal ini berdasarkan pada hadits shahih Bukhari & Muslim. Silahkan baca: http://abuayaz.blogspot.co.id/2011/07/hadits-hadits-aisyah-dinikahi-nabi-pada.html. Adapun pendapat syiah menyatakan bahwa Rasulullah SAW menikahi Siti Aisyah pada umur 22 tahun. Intinya diceritakan bahwa Siti Aisyah masuk Islam di awal misi Kenabian ketika dia masih kecil sekitar umur 7 tahun. Lalu Rasulullah SAW Hijrah ke Madinah 13 tahun kemudian, dan menikahinya pada tahun ke-2 setelah peristiwa Hijrah. Maka umur Aisyah ketika menikah dengan Rasulullah SAW adalah 7+13+2 = 22 tahun.
  3. Qadha dan Qadar mutlak 100% ketetapan Allah, termasuk yang baik dan yang buruk seperti; merampok, melacur, membunuh dan sebagainya, sehingga surga dan neraka telah ditentukan oleh Allah kepada manusia sedari awal penciptaannya tanpa adanya pilihan sedikitpun kepada mereka. Hal ini berdasarkan hadits shahih Bukhari & Muslim, silahkan baca: http://dakwahsunnah.com/artikel/tanyajawab/51-sudah-ada-takdir-lalu-untuk-apa-beramal. Coba direnungkan, jika anda mati bunuh diri, anda akan merasa lebih ikhlas (rela) menjalani hukuman siksa neraka di akhirat kelak karena perbuatan tersebut adalah murni dari pilihan anda sendiri. Namun berbeda halnya jika perbuatan bunuh diri itu ternyata bukan karena kehendak atau pilihan anda sendiri, melainkan dari awal telah digariskan oleh Allah agar anda masuk neraka, pastilah anda tidak akan rela dan mengatakan bahwa Allah telah berbuat zhalim kepada anda! Maka saya lebih mempercayai pendapat syiah yang menyatakan bahwa Qadha dan Qadar merupakan ketetapan Allah berdasarkan hasil ikhtiar manusia. Artinya, Allah menetapkan hukum – hukum dan manusia memiliki andil untuk memilih, tetapi Allah memiliki pengetahuan tentang apa yang akan terjadi. Ibaratnya Allah adalah guru yang membuat soal – soal tes ujian sekolah (rezeki, jodoh, dan lain – lain), lalu kita selaku muridnya (manusia) diberi tugas untuk mengerjakan soal – soal tes ujian tersebut dengan durasi pengerjaan yang telah ditentukan-Nya (masa ajal). Dan tentu, Allah sebagai guru mengetahui karakter para muridnya dari mulai yang pintar, nakal, malas dan bodoh, sehingga Dia maha mengetahui siapa saja yang sekiranya dapat lulus mengerjakan soal – soal tes ujian dari-Nya. Namun demikian, Allah tidak akan memberikan soal – soal tes ujian yang melampaui batas kemampuan para muridnya. Bukankah ini lebih adil? Pihak anti syiah mungkin tidak terima dengan jawaban yang lebih adil dan memuaskan akal pikiran dari pihak syiah terkait masalah qadha dan qadar ini, sehingga akhirnya dengan piciknya mereka mengarang cerita bahwa syiah digenerasi awal sependapat tentang qadha dan qadar yang dibawakan oleh pihak sunni tersebut diatas, yakni semuanya sebagai paksaan (paham jabbariyyah). Mereka berpendapat demikian karena menganggap bahwa syiah di generasi awal tidaklah sesat, maka menurutnya sebagian besar ajaran – ajarannya juga tidak jauh berbeda dengan sunni, sehingga bisa jadi masalah qadha dan qadar ini awalnya syiah berpendapat sama dengan mereka, namun menjadi banyak perubahan karena akhirnya syiah menjadi golongan yang tersesat. Jadi jelaslah bahwa ini hanyalah sekedar asumsi tanpa bukti atau hasil menduga – duga saja, sehingga berimplikasi pada kedustaan yang mengatasnamakan syiah. Lagipula jika benar generasi awal syiah berpaham jabbariyah sebgaimana mereka, maka tidaklah mungkin Ali pernah menjelaskan bahwa qadha dan qadar bukan paksaan Tuhan. Ada pahala dan siksa sebagai balasan amal perbuatan manusia. Seandainya itu merupakan paksaan, maka batallah pahala dan siksa, gugur pulalah makna janji dan ancaman Tuhan serta tidak ada celaan-Nya atas pelaku dosa dan pujian-Nya terhadap orang – orang baik. Justru pihak anti syiah telah memutar balikkan fakta, karena sebaliknya dari pihak sunni itulah yang berubah, yang awalnya sama dengan syiah, namun akhirnya menganut jabbariyah ketika awal masa dinasti umayyah. Paham sesat tersebut diterapkan dan dikembangkan oleh Muawiyah untuk tujuan politik dalam mempertahankan kekuasaannya. Muhammad bin Ali bin Abi Thalib berusaha membendung paham sesat tersebut dengan cara berceramah di masjid madinah. Dan sebenarnya perihal syiah generasi awal yang dinyatakan tidak sesat itu hanyalah alibi untuk membela imam al-Bukhari dan Muslim karena kedapatan dalam sejumlah hadits – hadits shahihnya mengutip sanad dari pihak syiah. Seandainya bukan karena itu, rasanya mustahil mereka mau menyatakan bahwa syiah di generasi awal tidaklah sesat. Toh faktanya semua golongan syiah dari dulu sampai dengan sekarang adalah para pembenci Muawiyah yang notabene sangat dimuliakan oleh mereka. Dan ternyata dari sebagian pihak sunni pun sebenarnya ada yang membenci Muawiyah. Salah satunya muncul dari radio Rasil yang beberapa waktu yang lalu siarannya sempat dikecam oleh pihak salafi/wahabi karena telah menyudutkan Muawiyah. Radio tersebut setahu saya, kalau tidak salah adalah badan usaha yang dikelola oleh FPI (Front Pembela Islam) yang notabene adalah sunni. Saya sendiri tidak heran atas khasus tersebut. Karena pada referensi hadits sunni pun banyak pembahasan tentang Muawiyah yang menyatakan bahwa dia adalah seorang pendusta, pencela, peminum, ingkar sunnah, haus kekuasaan, diragukan sebagai sahabat nabi, bahkan tidak mati dalam keadaan muslim, dan lain – lain. Selengkapnya silahkan baca hasil pencarian dibawah ini: https://secondprince.wordpress.com/?s=muawiyah
  4. Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa as tidak mematuhi perintah Allah dalam hal shalat. Mereka naik – turun langit sampai 6x untuk memohon agar perintah shalat dikurangi dari 50x menjadi 5x sehari pada peristiwa isra mi’raj dalam hadits shahih Bukhari & muslim, silahkan baca: http://www.madinatuliman.com/3/5/280-perjalanan-rasulullah-dan-perintah-shalat.html. Jika direnungkan, bukankah hal ini juga menyiratkan bahwa Nabi Musa as lebih maha mengetahui daripada Allah SWT? Dan jika dikalkulasikan shalat 50x dlm sehari/24 jam itu, artinya kita harus menyicil shalat setidaknya 2x/jam, termasuk pada jam tidur malam. Jika itu benar terjadi, maka sanggupkah kita mengerjakannya? Saya pikir tidak! Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi kemampuannya, sehingga jelas 2 hadits tersebut walaupun shahih tapi tidak bisa diterima oleh akal sehat. Jika anda membantah bahwa yang dimaksud 50x sholat itu dalam 2 hadits shahih tersebut hanyalah kiasan, yakni maksudnya adalah kita melaksanakan sholat 5x seakan – akan dikalikan 10 sehingga menjadi 50x dalam sehari, itu tidaklah benar. Karena sudah sangat jelas dinyatakan pada 2 hadits shahih tersebut bahwa Allah mulanya menyuruh umat islam untuk shalat 50x, bukan sebagai kiasan 5x = 50x. Saya dalam hal ini lebih memilih pendapat syiah yang menyatakan bahwa 2 hadits shahih sunni tersebut hanyalah kisah isra’iliyyat semata. Yang benar menurut mereka bahwa nabi Muhammad SAW langsung bertemu dengan Allah tanpa sebelumnya bertemu dengan orang lain (para nabi), dan langsung memerintahkan sholat 5x/hari.
  5. Adanya pemikiran tajsim (kefahaman Allah berjism) dan tashbih (kepahaman Allah menyamai makhluk) dari kalangan salafi/wahabi yang menyatakan bahwa Allah mempunyai tangan, kaki, wajah dan anggota tubuh lainnya, lalu Allah bisa duduk, berdiri, berjalan, melompat sebagaimana makhluk lainnya. Bantahan secara gamblang pada masalah ini telah dibahas pada halaman – halaman terakhir di kitab “Kebenaran yang hilang” yang link downloadnya ada dipenghujung akhir catatan ini.

Saya mohon maaf jika dalam 4 hal contoh diatas telah menyinggung perasaan anda. Hal tersebut dituliskan bukan untuk menghina ajaran sunni, tapi sebagai perbandingan mazhab agar anda dapat berlaku adil. Kembali pada pembahasan, rasanya tidak tepat juga jika pihak sunni menyatakan bahwa semua sahabat itu adil, baik dan lebih mulia diantara kita. Karena hal itu justru bertentangan dengan dalil – dalil baik pada al-Qur’an maupun hadits:

Sumber dari hadits:

Suatu hari.. Nabi bertanya: “Siapakah hamba Allah yang mulia?” Sahabat menjawab: “Para Malaikat ya Rasulullah” Sahabat: “Tentulah para Nabi, merekalah yang mulia” Nabi tersenyum lalu berkata: “Ya, mereka mulia tapi ada yang lebih mulia” Para Sahabat terdiam lalu berkata: “adakah kami yang mulia itu ya Rasulullah?” Nabi berkata: “Tentulah kalian mulia, kalian dekat denganku, kalian membantu pejuanganku, tetapi bukan kalian yang aku maksudkan” Nabi menundukkan wajahnya, Baginda meneteskan air mata sehingga membasahi pipi dan janggutnya, lalu berkata: “Wahai sahabatku, mereka adalah manusia – manusia yang lahir jauh setelah wafatnya aku, mereka terlalu mencintai Allah, dan tahukah kalian, mereka tidak pernah melihatku, mereka hidup tidak dekat denganku seperti kalian tetapi mereka sangat rindu kepadaku dan saksikanlah wahai sahabatku bahwa aku sangat rindu kepada mereka. Merekalah umatku!”  [Musnad Ahmad bin Hanbal juz 4 hal 106]

al-A’masy memberitahu kami bahwa ia berkata: “Aku mendengar Syaqiq berkata:” Abdullah berkata: “Suatu hari Nabi (s.a.w) telah membagikan sesuatu kepada para sahabatnya sebagaimana biasa dilakukannya. Tiba – tiba seorang Ansar mengkritiknya seraya berkata: “Sesungguhnya pembahagian ini bukanlah kerana Allah (swt)” Akupun berkata kepadanya bahawa aku akan memberitahu Nabi (s.a.w) mengenai kata-katanya. Akupun mendatangi beliau ketika itu beliau berada bersama para sahabatnya. Lalu aku memberitahukan beliau apa yang berlaku. Tiba – tiba mukanya berubah dan menjadi marah sehingga aku menyesal memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda: “Musa disakiti lebih dari itu tetapi beliau sabar.” [Sahih al-Bukhari, Jilid 4, hlm. 47 bab al-Sabr ‘Ala al-Adha]

Aisyah berkata: “Nabi (s.a.w) pernah melakukan sesuatu kemudian membenarkan para sahabat untuk melakukannya. Tetapi sebahagian para sahabat tidak melakukannya. Kemudian berita ini sampai kepada Nabi (s.a.w), maka beliau memberi khutbah memuji Allah kemudian bersabda: “Kenapa mereka menjauhi dari melakukannya perkara yang aku melakukannya. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih mengetahui dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dari mereka.” [Shahih al-Bukhari, Jilid 4, Kitab al-Adab bab Man lam yuwajih al-Nas bi l-‘Itab no. 5636]

al-Musayyab berkata: “Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (s.a.w) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya.” [Shahih al-Bukhari, Jilid 5, hal 343, No. 488]

Di kalangan mereka ada yang telah menghina Nabi (s.a.w) dan  mempersendakan Nabi (s.a.w) dengan mengatakan bahwa Nabi (s.a.w) “Sedang sakit atau meracau” di hadapan Nabi (s.a.w) “ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (s.a.w)”. [al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69]. Ada yang mengatakan bahwa “Sunnah Nabi (s.a.w) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat” [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

Telah bercerita kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah bercerita kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah bercerita kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu? Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara Sahabatku ada 12 orang munafik. Di antara mereka ada 8 orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. 8 orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan 4 lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka”. [Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9)]

Bukan hanya itu, ternyata ada juga hadits – hadits dari riwayat Bukhari dan Muslim yang menyatakan bahwa sejumlah para sahabat nabi telah menjadi kafir murtad, maka bagaimana sikap anda dalam hal ini, telah menjadi kafir murtad kah juga mereka sebagaimana vonis anda terhadap syiah? Atau bahkan semua para pengikutnya juga kafir murtad? Atau justru anda malah meragukan sabda Rasulullah SAW yang shahih tersebut? Berikut ini beberapa buktinya:

Daripada Ibn Musayyab bahwa Nabi (Saw.) bersabda: “Sebahagian daripada para sahabatku akan mendatangiku di Haudh, dan mereka akan dipisahkan dari Haudh.” Maka aku berkata: “Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku (ashabi)” maka akan dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka). Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir murtad ke belakang selepas anda meninggalkan mereka (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)”. [Shahih Al-Bukhari, juz 8 no. 586]

Daripada Abu Hurairah bahwa Nabi (Saw.) bersabda: “Manakala aku sedang tidur, tiba-tiba sekumpulan (para sahabatku) datang kepadaku. Apabila aku mengenali mereka, tiba-tiba seorang lelaki (Malaikat) keluar di antara aku dan mereka. Dia berkata kepada mereka: Datang kemari. Aku bertanya kepadanya: Ke mana? Dia menjawab: Ke Neraka, demi Allah. Aku pun bertanya lagi: Apakah kesalahan mereka? Dia menjawab: Mereka telah menjadi kafir murtad selepas kamu meninggalkan mereka (innahum irtaddu ba‘da-ka ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Justeru itu aku tidak melihat mereka terselamat melainkan (beberapa orang saja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya (fala ara-hu yakhlusu minhum illa mithlu hamali n-Na‘ am)”. [Shahih Al-Bukhari, juz 8 no.587]

Asma‘ binti Abu Bakr berkata: “Rasulullah (Saw.) bersabda: Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Tidakkah anda merasai atau menyedari apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka sentiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un ‘ala a‘qabi-him)Dia berkata:Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”. [Shahih Muslim no.27 (2293)]

Dan lain – lain masih banyak lagi, tapi saya cukupkan saja sampai disini. Untuk penjelasan yang lebih lengkapnya beserta pembahasan dari hadits – hadits diatas, silahkan anda baca ini:

https://jakfari.wordpress.com/2009/12/21/astaghfirullah-ahlusunnah-menvonis-sahabat-murtad-massal-sepeninggal-nabi-saw/

Sumber dari Al-Qur’an:

Tidak ada sekalipun dalam ayat al-Qur’an yang menyebutkan kata “sahabat” secara eksplisit, sehingga itu semua hanya sekedar penafsiran yang belum pasti kebenarannya. Maka dari itu saya memuatnya disini untuk dikaji, bukan untuk langsung dipercayai. Berikut ini ayatnya: QS at-Taubah; 25, 38, 39, 43, 45, 46, 47, 56, 101, QS al-Munafiqun; 1, QS al-Imran; 144, 153, 154, QS al-Anfal; 5, 6, 7, 8, QS al-Ahzab; 15, QS al-Hadiid; 16, dan lain – lain.

 

  1. Syiah menyembah Ali sebagai Tuhan?

Cobalah direnungkan dengan pikiran jernih dan objektif, seghuluw-ghuluwnya orang, mereka tidak akan sampai menyembah orang yang dikaguminya, kecuali jika orang yang dikaguminya itu mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan, atau adanya pemberitaan bahwa dirinya adalah Tuhan, seperti yang disangkakan umat kristiani terhadap Yesus. Sedangkan Ali maupun para pengikutnya, saya belum pernah menemukan dari sumber syiahnya sendiri secara shahih ataupun hasan yang menyatakan demikian. Adapun terkait Abdullah bin Saba dari sumber syiah terdapat khilafiyah. Sebagian besar menyatakan bahwa dia adalah tokoh fiktif, dan sebagian kecil yang lainnya menyatakan bahwa dia memang ada namun berbeda kisahnya dari pihak sunni. Silahkan baca ini:

 

  1. Syiah menabikan Ali?

Kang Jalal mengatakan: “Ali lebih dari sahabat yang lain, semua mengakui hal itu—baik Syiah maupun Sunni. Ali adalah putera dari paman yang membesarkan Rasulullah SAW, sekaligus suami dari putri kesayangannya, Fathimah az-Zahra. Secar logis, tak mungkin Rasulullah menikahkan putri satu-satunya dengan orang yang tidak beliau ketahui kebaikan dan track record-nya. Belum lagi, sebuah hadis yang menyebutkan “Muhammad adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya”, hadis ini cukup kuat untuk memperlihatkan betapa luar biasanya Ali. Dialah satu-satunya manusia yang lahir di dalam Baitullah. Luar biasa istimewa bukan, maka wajarlah Ali begitu dikultuskan. Namun, Syiah paham betul, Muhammadlah nabi terakhir, maka kesalahan fatal lagilah yang kalian lakukan, jika berpikir mengkultuskan Ali sama dengan menganggap mereka menjadikan Ali sebagai nabi.

Adapun mengenai gelar alaihis salam dibelakang nama Ali bin Abi Thalib dan belasan keturunannya, itu bukan berarti bahwa mereka dianggap nabi. Karena jika demikian, maka imam al-Bukhari pun telah menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai Nabi baru, karena beliau sendiri di dalam sejumlah hadits shahihnya menyebutkan Ali bin abi Thalib dengan gelar alaihis salam (as) dibelakang namanya. Silahkan selengkapnya lihat disini:

 

  1. Taqiyah

Banyak sekali orang yang membenci syiah karena bertaqiyah tanpa mau membayangkan terlebih dahulu jika dirinya ada di posisi mereka. Coba anda renungi sejenak, jika anda adalah penduduk suriah yang wilayahnya dikuasai oleh ISIS, dan pihak ISIS memaksakan kepada Anda bai’at untuk menjadikan Abu Bakar al-baghdadi sebagai khalifah (pemimpin), dan mereka mngancam akan membunuh siapa saja yang berani menolak keinginannya tersebut. Dalam hati anda menolaknya, lantas apa yang akan anda lakukan? Apakah menolak berbai’at tapi nyawa yang menjadi taruhannya, atau berpura – pura menerima ba’iat alias taqiyah? Nah, begitupun jika anda adalah penganut syiah, jika di lingkungan anda diketahui oleh penduduk sekitar bahwa anda adalah orang syiah, sehingga akan menimbulkan konflik besar yang bahkan berujung pada ancaman pembunuhan terhadap anda, maka apa yang akan anda lakukan, taqiyah juga kan? Jangankan diancam bunuh, akan dipecat dari pekerjaan saja kita mungkin sudah mulai bertaqiyah. Maka bersikap adillah!

Perihal taqiyah ini menurut syiah ada dalilnya di dalam al-Qur’an yakni QS Ali Imran ayat 28, namun berbeda penafsiran dengan sebagian dari pihak sunni yang menyatakan bahwa taqiyah hanya bisa diberlakukan antara kaum muslim yang ditindas oleh kaum kafir saja. Jika mau dipelajari, sebenarnya tidak semua dari pihak sunni yang bersepakat demikian, ada yang berbeda pendapat, sehingga perihal taqiyah ini menjadi perkara ikhtilafiyah ijtihadiyah diantara mereka. Nah, beberapa pihak sunni yang sependapat dengan syiah terkait perihal taqiyah ini datang dari mazhab Syafi’i, tepatnya di dalam kitab at-Tafsir al-Kabir jilid 8 halaman 13 yang menyatakan bahwa jika kondisi pertikaian antara sesama kaum muslimin sebagaimana pertikaian antara kaum muslimin dan kafir, maka diperbolehkan bertaqiyah untuk menjaga jiwa (dari ganguan pihak lain). Kemudian dalam Siar A’laam an-Nubala’ jilid 11 halaman 87, dari imam adz-Dzahabi dalam membela Yahya bin Mu’in yang juga seorang imam sunni, Dikarenakan khawatir atas tekanan pemerintah kekhalifahan Abbasiyah yang memaksa untuk mengakui bahwa alQur’an adalah makhluk, maka ia melakukan taqiyah. Maka dengan adanya bukti tertulis ini, anda diharapkan tidak lagi memvonis pihak syiah sebagai kaum yang munafik karena bertaqiyah, terkecuali anda juga berani bersikap adil dengan memvonis mereka para pembesar sunni tersebut diatas sebagai kaum yang munafik.

Ada yang menyatakan bahwa mazhab Syafi’i atau nukilan dari imam adz-Dzahabi diatas adalah sebagai perbuatan tauriyah, bukan taqiyah sebagaimana yang dipahami oleh syiah. Bahkan ketika pihak syiah memberikan contoh lain yang bukan dari sekedar pernyataan para imam besar mereka, melainkan dari sabda Rasulullah SAW sendiri, tetap saja disangkalnya demikian. Misalnya saja, ketika ada seorang sahabat bercerita kepada nabi bahwa dirinya terpaksa berbohong telah murtad karena takut mati disiksa oleh orang – orang kafir Quraish, menjawab hal tersebut lantas nabi membolehkannya. Mungkin pihak anti syiah itu belum tahu secara pasti tentang perbedaan kedua istilah tersebut, sehingga senantiasa menyangkalnya bahwa itu sebagai tauriyah, padahal jelas sekali bahwa perbuatan tersebut adalah taqiyah. Karena tauriyah itu adalah mengatakan sebuah kebohongan tapi didalamnya terdapat kebenaran yang bertujuan untuk mengelabui seseorang. Misalnya saja; jika ada 2 orang sedang bertikai, anggap saja si A & si B. Seorang pendamai diantara mereka mengatakan kepada ke 2 orang tersebut diwaktu dan tempat yang berbeda. Si pendamai ini berkata kepada si A bahwa si B selalu mendo’akan dirinya agar selalu dalam kebaikan. Begitupun sebaliknya, si pendamai ini berkata kepada si B bahwa si A selalu mendo’akan dirinya agar selalu dalam kebaikan. Jika mau direnungkan dari contoh kejadian tersebut diatas, sebenarnya dalam hal ini si pendamai tidaklah berbohong. Karena sering kali dalam bacaan shalat, tiap muslim mendo’akan kebaikan terhadap muslim yang lainnya, maka secara tidak langsungpun si A & si B juga ikut saling mendo’akan. Berbeda halnya dengan taqiyah yang asli berbohong untuk menyembunyikan identitas diri agar terhindar dari konflik.

Jika anda mendapati hadits dari kitab syiah yang menyatakan bahwa taqiyah dapat mendatangkan pahala bagi para pengamalnya, itu tidaklah benar. Hukum taqiyah hanyalah mubah guna melindungi jiwa dan keamanan mereka. Maka logikanya darimana taqiyah dapat mendatangkan pahala sedangkan meninggalkannya adalah justru lebih baik jika mereka mau?!

 

  1. Para istri nabi termasuk ahlul bait juga?

Terdapat perbedaan terkait siapa ahlul bait nabi antara pendapat sunni dan syiah. Pihak sunni menyatakan bahwa istri para nabi juga termasuk ahlul bait, sedangkan di pihak syiah tidaklah demikian. Diantara kedua belah pihak masing – masing mempunyai dalil yang kuat atas hal tersebut. Tapi jika mau dipelajari, ternyata pendapat dari pihak sunni pun sebenarnya terdapat khilafiyah juga yang menunjukkan persamaannya terhadap pendapat syiah ini. Beberapa diantaranya:

Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahlul baitnya dan kepada istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [Musnad Ahmad 5/374 no 23221 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Coba direnungkan, jika para istri nabi adalah termasuk ahlul bait juga, lantas kenapa dalam hadits musnad Ahmad diatas malah memisahkan penyebutan antara istri – istrinya, ahlul baitnya dan keturunannya? Hal ini turut dikuatkan pula oleh hadits shahih muslim berikut ini:

“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? . Kemudian Zaid menjawab ” Tidak, Demi Allah seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”. [Shahih Muslim no 2408]

Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya) di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. [Shahih Sunan Tirmidzi no 3205]

Hadits Sunan Tirmidzi di atas menyebutkan bahwa ketika ayat tersebut turun, Rasulullah SAW langsung memanggil Sayyidah Fatimah, Ali, Hasan dan Husein, bukannya memanggil istri – istri Beliau. Hal ini telah membuktikan bahwa ayat tersebut sejatinya ditujukan untuk mereka, bukan untuk istri – istri Nabi SAW. Lagipula Ummu Salamah sendiri tidak merasa atau setidaknya meragukan bahwa dirinya adalah Ahlul Bait yang dimaksud. Karena jika saja benar bahwa QS al-Ahzab ayat 33 tersebut diturunkan juga untuk para istri Nabi SAW, maka tentu saja Ummu Salamah pada hadits tersebut tidak perlu mengajukan pertanyaan kepada Nabi: “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?” bahkan dalam riwayat lain Ummu Salamah bertanya: “Apakah Aku termasuk Ahlul Bait?”.

Perhatikan juga bebrapa riwayat dari Ummu Salamah lainnya berikut ini:

Dari Hakim bin Sa’ad yang berkata “kami menyebut – nyebut Ali bin Abi Thalib RA di hadapan Ummu Salamah. Kemudian ia (Ummu Salamah) berkata “Untuknya lah ayat (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci – sucinya) turun. Ummu Salamah berkata “Nabi SAW datang ke rumahku dan berkata “jangan izinkan seorangpun masuk”. Lalu datanglah Fathimah maka aku tidak dapat menghalanginya menemui Ayahnya, kemudian datanglah Hasan dan aku tidak dapat melarangnya menemui kakeknya dan Ibunya”. Kemudian datanglah Husain dan aku tidak dapat mencegahnya. Maka berkumpulah mereka di sekeliling Nabi SAW di atas hamparan kain. Lalu Nabi SAW menyelimuti mereka dengan kain tersebut kemuian bersabda “Merekalah Ahlul Baitku, maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci – sucinya”. Lalu turunlah ayat tersebut ketika mereka berkumpul di atas kain. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah SAW dan aku?”. Demi Allah, beliau tidak mengiyakan. Hanya berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan”. [Tafsir At Thabari 22/12 no 21739]

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani yang berkata telah menceirtakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi ‘Auf dari Athiyyah Al ‘Aufiy dari Abu Said Al Khudri RA bahwa firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun untuk lima orang yaitu Rasulullah SAW Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhum [Mu’jam As Shaghir Thabrani 1/231 no 375]

Dari Ummu Salamah RA berkata “Turun dirumahku ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait] kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain RA ajma’in dan berkata “Ya Allah merekalah Ahlul Baitku”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Rasul SAW menjawab “kamu keluargaku yang baik dan Merekalah Ahlul Baitku Ya Allah keluargaku yang haq”. [al-Mustadrak 2/451 no 3558 dishahihkan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi]

Untuk selengkapnya silahkan baca ini:

 

  1. Adakah tahrif al-Qur’an di Mazhab Syiah?

Baik syiah maupun sunni memiliki kitab suci yang sama; al-Qur’an. Adapun mushaf fatimah yang dituduhkan oleh pihak anti syiah sebagai al-Qur’annya versi syiah adalah dusta. Karena di pihak syiahnya sendiri telah membantah bahwa mushaf tersebut bukanlah al-Qur’an, melainkan hanya sekumpulan tulisan fatimah az-Zahra yang dikumpulkan dalam bentuk mushaf. Apa kandungan sebenarnya dalam mushaf Fathimah? Hal ini telah dijelaskan dalam riwayat al-Kafi selanjutnya dari Abu Ubaidah dari Abu ‘Abdullah: (seorang) berkata “apa itu Mushaf Faathimah?”. Abu ‘Abdillah terdiam beberapa lama, lalu berkata “Sesungguhnya kalian benar-benar ingin mempelajari apa-apa yang kalian inginkan dan tidak kalian inginkan. Sesungguhnya Faathimah hidup selama 75 hari sepeninggal Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) Ia sangat merasakan kesedihan atas kematian ayahnya. Maka pada waktu itu, Jibriil datang kepadanya dan mengucapkan ta’ziyyah atas kematian ayahnya, menghiburnya, serta mengabarkan kepadanya tentang keadaan ayahnya dan kedudukannya (di sisi Allah). Jibril juga mengabarkan kepadanya tentang apa yang akan terjadi terhadap keturunannya setelah Faathimah meninggal. Dan selama itu ‘Aliy mencatatnya. Inilah Mushaf Faathimah. [al-Kulaini – al-Kafi 1/241]

Sebagian orang berkeberatan karena malaikat jibril berbicara dengan fatimah seakan – akan dia adalah seorang nabi. Maka perlu diketahui juga bahwa sebelumnya jibril pun pernah berbicara dengan Maryam; Ibu Nabi Isa as, padahal Maryam bukanlah seorang nabi.

Dan selengkapnya mengenai tahrif al Qur’an, bisa dibaca disini:

 

  1. Siapakah Abdullah bin Saba?

Berikut ini saya coba paparkan secara singkat tentang Abdullah bin Saba yang bersumber dari referensi sunni. Seorang ulama syiah, yaitu Murtadla Askari, beliau mencoba untuk meneliti tentang keberadaan Abdullah bin Saba ini, beliau menyatakan bahwa berdasarkan penelitian sejarah dan periwayatan hadits, maka ditemukan fakta bahwa Abdullah bin Saba hanyalah seorang tokoh fiktif. Dari hasil penelusuran dan penelitiannya tersebut telah beliau tuangkan dalam 2 bukunya yang berjudul: Abdullah bin Saba’ wa Asatir Ukhra & Khomsun wa Mi’atun Shahabi Mukhtalaq.

Cerita tentang riwayat – riwayat oleh Abdullah bin Saba hanya bersumber tunggal atau dari satu orang saja, yaitu Saif bin Umar At-Tamimi. Mengenai sosok Saif bin Umar At-Tamimi ini, para ulama sunni ahli jarh wa ta’dil telah memberikan nilai merah/buruk kepadanya. Berikut ini adalah beberapa komentar mereka tentang Saif At-Tamimi tersebut:

  1. Yahya bin Mun’im, mengatakan : “Riwayat-riwayatnya lemah dan tidak berguna“.
  2. An-Nasa’i dalam Sunan-nya, mengatakan: “Riwayat-riwayatnya lemah dan harus diabaikan, karena ia adalah orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak dipercaya“.
  3. Abu Dawud, mengatakan : “Tidak ada harganya, ia seorang pembohong“.
  4. Ibn Abi Hatim, mengatakan : “Mereka telah meninggalkan riwayat-riwayatnya“.
  5. Ibn Al-Sakan, mengatakan : “Riwayatnya lemah (dlo’if)“.
  6. Ibn ‘Adi mengatakan : “Riwayatnya lemah, sebagian dari riwayatnya terkenal namun bagian terbesar dari riwayat-riwayatnya adalah mungkar dan tidak diikuti“.
  7. Al-Hakim, mengatakan : “Riwayat-riwayatnya telah ditinggalkan, ia dituduh zindiq“.
  8. Ibn Hibban, mengatakan : “Ia terdakwa sebagai zindiq dan pemalsu riwayat-riwayat“.

Dan bukan hanya para ulama sunni yang saya sebutkan di atas saja yang tidak mempercayai dirinya, tapi masih banyak lagi yang lainnya seperti; Khatib Al-Baghdady, Ibn Abdil Barr, Ibnu Hajar, dan lain – lain. Agar pembahasannya tidak terlalu panjang, maka saya sebutkan 1 lagi saja pendapat dari salah seorang ulama yang saya sebutkan barusan, yakni Ibnu Hajar, dalam bukunya berjudul “Lisanul Mizan“, beliau mengatakan: “Berita – berita tentang Abdullah bin Saba’ dalam sejarah memang terkenal, tetapi tidak satupun bernilai riwayat“. Beliau juga mengatakan : “Ibnu Asakir kemudian meriwayatkan sebuah cerita panjang dari Saif bin Umar At-Tamimi dalam kitab Al-Futuh yang tidak shahih sanad – sanadnya” [ Ibnu Hajar Al-Asqolani, dalam “Lisanul Mizan”, jilid 3, hal. 289]

Jadi jelas sekali dalam referensi sunni sendiri ternyata keberadaan Abdullah bin Saba ini adalah fiktif, selain dikarenakan hanya bersumber dari satu orang saja yaitu Saif At-Tamimi, juga dirinya dinilai pemalsu, zindiq, dan lain – lain oleh para ulama itu. Maka dengan predikat semacam itu, sudah semestinya setiap kisah yang diriwayatkan secara tunggal dari Saif At-Tamimi itu tidak bisa dipercaya, baik dalam syari’at maupun tarikh, seperti hadits yang dikutip oleh Thabari serta buku karangan Saif At-Tamimi yang berjudul “Al-Futuh” dan “Al-Jamal” dan lain – lain. Namun sayangnya pihak anti syiah yang saya yakini sebagian tahu tentang hal ini, tetap saja disebarkan kepada masyarakat awam.

 

  1. Memakan Tahi Imam Syiah dijamin masuk syurga?

Seperti yang pernah saya ulas sebelumnya diawal bahwa kitab – kitab syiah terjemahan telah banyak yang dipalsukan, sehingga bisa jadi perihal “Syiah makan tahi/kotoran imamnya dijamin masuk syurga yang katanya dinukil dari kitab syiahnya sendiri adalah palsu. Hal ini senada dengan penuturan tokoh besar ulama syiah Sayyid As Sistani, beliau pernah ditanya mengenai hal ini sebagaimana yang tertulis dalam kitab Al Istifta’at – Ayatullah Sayyid as-Sistani hal 554 persoalan no 2196: “Aku pernah membaca tulisan dari Wahabi bahwa kita membolehkan meminum kencing para Imam suci dan hal itu akan memasukkan kita ke dalam surga? beliau lalu  menjawab : Hal itu dusta dan mengada-ada, kita berlindung kepada Allah darinya”.

Berikut ini saya kutipkan kepada anda sebuah bukti pernyataan asli dari kitab syiah yang asli maupun pernyataan hasil modifikasi dari kitab syiah terjemahan yang dipalsukan. Baik keduanya berasal pada 1 sumber yang sama, yakni Zainal Abidinkitabul anwar wilayah rasul, Bab Thaharah, halaman 440.

Dibawah ini pernyataan asli sebelum dirubah oleh tangan – tangan jahil:

“Tubuh Imam tidak memiliki bau apa – apa melainkan baunya seperti minyak misk, para imam tidak terkena najis sedikitpun dari kotorannya selain ia selalu mensucikannya secara hadas besar maupun hadas kecil, para imam selalu melakukan wudhu sehingga tubuhnya tetap suci dari hadas.”

Sedangkan dibawah ini pernyataan hasil modifikasi oleh tangan – tangan jahil:

“Kencing dan tinja para imam bukanlah sesuatu yang menjijikkan, tidak berbau busuk, tidak pula termasuk kotoran. Bahkan keduanya bagaikan misik yang sangat harum. Barangsiapa yang meminum kencing mereka, tinja mereka, dan darah mereka, Allah akan haramkan padanya api neraka dan wajib baginya masuk surga”

Namun sayangnya saya terhadap hal ini, oleh situs Second Prince yang selalu menjadi rujukan utama saya dalam bertabayyun kepada syiah, kali ini harus kecewa karena si penulis telah membawakan pernyataan diatas yang berdasarkan hasil modifikasi oleh tangan – tangan jahil tersebut pada artikelnya disini:

https://secondprince.wordpress.com/2013/07/23/kata-nashibi-syiah-menyucikan-kotoran-imam-lantas-bagaimanakah-ahlus-sunnah/

Oh ya, jika anda pernah melihat gambar atau video yang menunjukkan ritual dari pihak syiah yang membawa dan melumuri tubuhnya dengan sesuatu, sesungguhnya sesuatu itu bukanlah tahi/kotoran sang imam seperti yang telah diberitakan, melainkan hanyalah lumpur dari tanah karbala. Maka periksalah berita itu dengan seksama setelah ini, jangan langsung dipercaya begitu saja. Karena ini adalah fitnah yang nyata. Dan perlu diketahui juga, jika anda pernah melihat foto yang menunjukkan salah seorang ulama syiah telah mencium kaki depan seekor anjing atau foto lainnya dari ulama syiah telah mencium bibir seorang anak kecil sesama jenisnya didepan umum, dan lain – lain itu semua bukanlah foto asli, melainkan hanya fitnah foto hasil editan saja. Adapun foto yang viral dari seorang ulama syiah yang tengah mencium seorang wanita muda yang diberitakan bahwa mereka telah resmi menjadi pasangan mut’ah dan disaksikan sendiri oleh suami disampingnya, itu adalah fitnah. Karena yang benar itu bahwa mereka bertiga adalah keluarga yang sedang berfoto bersama.

Perlu diketahui juga bahwa istilah imam oleh pihak syiah adalah hanya dari mereka yang terdiri dari 12 imam maksum saja, sehingga penyebutan khomeini dan khomenei sebagai imam itu hanya berarti sebagai makna kiasan, alias bukan imam syiah yang sesungguhnya. Hal tersebut dimaksudkan sebagai pengganti imam yang sebenarnya untuk sementara waktu, guna mengisi kekosongan dari imam suci yang ke 12 yang akan datang suatu saat nanti.

Selain hal vulgar yang sudah dibahas pada poin ini, ternyata masih banyak lagi kedustaan terhadap syiah terkait hal – hal vulgar lainnya. Berikut ini beberapa diantaranya:

 

  1. Tradisi Tathbir atau Melukai Diri Sendiri

Tradisi tathbir adalah tradisi melukai diri sendiri dalam sebuah hari raya asyura atau hari raya kesedihan dalam memperingati peristiwa terbunuhnya imam Husein. Tradisi tersebut dilakukan oleh mereka dengan dalih agar turut merasakan kepedihan luka yang dialami oleh beliau. Para Maraji Syiah sendiri sejak dahulu sebenarnya telah memfatwakan bahwa perbuatan tersebut adalah haram. Namun sayang, penyimpangan tersebut tetap saja dilakukan oleh khususnya sebagian kecil pihak syiah ekstrim di india (atau pakistan) dan iraq. Dalam hal ini salah seorang ulama besar marja syiah Nashir Makarim Syirazi mengatakan:

Haram hukumnya menyelenggarakan acara Asyura dengan melakukan aktivitas yang melukai diri dan menyampaikan hal-hal yang dapat memicu perselisihan umat Islam.”

Mengenai tathbir ini, saya sendiri sebenarnya tidak setuju. Namun demikian, saya juga tidak terlalu mencelanya, karena menurut saya sendiri acara tathbir ini kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh pemuda bernama Uwais al-Qarni, seorang pemuda yang tidak dikenal makhluk bumi tapi dikenal sekali oleh makhluk langit. Saya pikir kita terhadap beliau sudah banyak yang mengenalnya, terutama saat masa – masa pelajaran PAI di sekolah dulu. Beliau melukai dirinya sendiri sebagai bukti atas kecintaannya terhadap Rasulullah SAW, Dan Rasulpun ternyata tidak mencelan perbuatannya tersebut, melainkan justru malah mndukung seraya memujinya. Berikut ini sebagian ceritanya yang saya kutip intisarinya saja:

“..Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah dia dari dekat?” Sumber selengkapnya silahkan baca disini: https://id.wikipedia.org/wiki/Uwais_al-Qarny

Nah, beranikah anda mencaci maki dan menghina Rasulullah SAW karena memuji perbuatan Uwais al-Qarni tersebut karena melukai dirinya sendiri sebagaimana caci makian dan hinaan anda terhadap tradisi tathbir yang dilakukan oleh sebagian kecil pihak syiah ekstrim itu yang sebenarnya saya sendiri tidak menyetujuinya? Maka bersikap adillah!

.::.

Sebenarnya masih banyak hal – hal yang perlu dikemukakan sebagai bahan tabayyun kepada syiah disini, namun agar isi postingan catatan artikel ini tidak terlalu panjang, maka saya cukupkan hanya 12 poin saja. Saran saya, jangan karena mayoritas orang memojokkan suatu golongan, lantas anda langsung mempercayainya begitu saja tanpa tabayyun terlebih dahulu, laksana kerbau yang dicucuk hidungnya. Ketahuilah bahwa mayoritas orang bukanlah jaminan sebuah tolak ukur kebenaran. Bahkan bisa jadi sebaliknya sebagaimana firman Allah:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” [QS.al-An’am 116]

Saya rasa cukup sampai disini saja pembahasan saya terkait syiah ini. Semoga usaha saya ini bermanfaat besar dan dapat merubah pemikiran negatif anda terhadap syiah. jika anda ingin bertabayyun lebih lanjut, maka silahkan cari channel tv yang dikelola oleh pihak syiah di indonesia bernama: HadiTv2, biasanya tertangkap menggunakan parabola. Dan anda juga bisa download lalu mempelajari sejumlah buku & kitab tentang syiah berbentuk PDF dibawah ini:

Buku & Kitab Tentang Syiah, Rekomendasi:

Untuk selengkapnya lihat sejumlah buku & kitab syiah berbentuk e-book PDF yang mencakup; fiqh, tarikh, hadits, fatwa, tafsir, tasawuf, siyasah, dan lain – lain yang semuanya saya dapatkan dari hasil penelusuran saya selama ini di internet, lalu saya gabungkan menjadi 1 halaman agar memudahkan langkah anda yang ingin bertabayyun, sehingga anda tidak perlu terlalu repot untuk mencarinya lagi diluar, karena saya pikir itu semua sudah lebih dari cukup. Download disini:

https://simpatisansyiah.wordpress.com/download-buku-kitab-syiah-gratis/

Jika berkenan tolong tulisan ini disebarkan kepada banyak orang, insya Allah akan terhitung sebagai pahala dan amal jariyah yang besar untuk anda. Saya akhiri tulisan saya ini dengan ucapan Terima Kasih dan Wassalamu’alaikum.. [] 🙂

 

Lihat Catatan ini Versi PDF:
https://simpatisansyiah.files.wordpress.com/2017/08/akbar-nur-hasan-tabayyun-kepada-syiah-saya-dari-anti-syiah-menjadi-simpatisan-syiah.pdf